Topik: Ajang

10 Tahun Tsunami Pangandaran Diperingati dengan Simulasi dan Renungan

  • Monday, 18 July 2016 - 13:31
  • Andi Nurroni
  • dibaca 703 kali
  • Comment
Kegiatan mengenang 10 taun tsunami Pangandaran, Minggu (18/7) malam. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Kegiatan mengenang 10 taun tsunami Pangandaran, Minggu (18/7) malam. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Tragedi tsunami yang menerjang Pesisir Pangandaran dan sekitarnya tepat 10 tahun berlalu pada 17 Juli 2016 ini. Sebuah kegiatan diinisiasi warga dan pemerintah setempat untuk mengenang bencana yang menwasakan setidaknya 450 jiwa tersebut.

Momentum mengenang satu dasawarsa tsunami digelar di Lapangan Boulevar, kawasan wisata Pantai Pangandaran, Minggu (17/7). Kegiatan ini diisi sejumlah mata acara, mualai dari yang bersifat mitigasi, seperti simulasi bencana dan presentasi materi kebencanaan, hingga sesi refleksi berupa doa bersama dan pertunjukan seni.

Wakil Bupati Pagandaran Adang Hadari secara khusus menyempatkan untuk bergabung dalam kegiatan ini. Wakil Bupati memimpin sei mengheningkan cipta serta secara simbolik melakukan tabur bunga di Pantai Pangandaran.

Tampil memberikan sambutan, Waki Bupati mengakui, sebagai wilayah rawan bencana, Kabupaten Pangandaran belum cukup siaga menghadapi bencana.

“Kita masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan untuk meningkatkan kesadaran warga soal bencana, khususnya tsunami,” kata Adang dihadapan hadirin.

Dalam kegiata ini, secara simbolik diserahkan bantuan untuk keluarga korban dan korban selamat tragedi tsunami Pangandaran.

Meski digelar sederhana, sekitar 1000 orang mengikuti kegiatan ini. Sebagian peserta yang hadir merupakan para anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), anggota Taruna Tanggap Bencana (Tagana) serta para siswa yang tergabung dalam Pramuka.

Selain mereka, berbagai komunitas warga dan organisasi kepemudaan juga turut terlibat dalam kegiatan ini. Mereka menyumbangkan kreativitasnya, seperti Komunitas Sabalad dari Parigi yang membawakan pertunjukan teatrikal bertema bencana tsunami.

Edi Rusmiadi, koordinator kegiatan, mengaku sangat bersyukur karena tingginya apresiasi masyarakat. Dengan keterbatasan, menurut Edi, komunitas-komunitas warga dan unsur-unsur pemerintahan mau bergabung dalam kegiatan ini.

“Semoga tradisi ini bisa tetap berlanjut, saya berharap tanggal 17 Juli bisa menjadi hari kerkabung Pangandaran setiap tahun, untuk mendoakan saudara-saudara kita korban tsunami,” ujar Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Pangandaran ini.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Musik adalah salah satu media paling ampuh untuk menyampaikan pesan kepada semua kalangan masyarakat. Media musik… baca selengkapnya

Kiprah

Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia (HAPMI) Kabupaten Pangandaran resmi terbentuk. Kepengurusan HAPMI terpilih setelah puluhan… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top