Topik: Budaya

Bangkitnya Seni Badud Desa Kertayasa

  • Minggu, 10 April 2016 - 20:20
  • Admin
  • dibaca 1007 kali
  • Comment
Pertunjukan Badud Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Pertunjukan Badud Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Cijulang, SwaraPangandaran.Com – Siang itu, 3 April 2016, waktu menunjukkan pukul 12.30. Matahari begitu terik menyengat. Namun cuaca yang panas tak mematahkan semangat serombongan pemain seni Badud untuk pentas.

Di Dusun Cibuluh, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, kelompok seni Badud Lingkung Seni Gending Sari tampil dalam sebuah acara hajatan warga. Seni Badud merupakan kesenian lokal desa setempat.

Di Desa Kertayasa, para pegiat seni Badud terutama berasal dari Dusun Merjan. Setelah hampir punah, kesenian ini kembali bergairah ketika Pangandaran menjadi kabupaten otonom.

Seni Badud merupakan perpaduan antara tradisi musik dan teater rakyat. Kesenian ini dibawakan oleh 20 hingga 25 orang, yang terdiri dari pemusik dan pemain peran.

Dalam setiap pertunjukan, kesenian ini biasa diawali dengan segmen ngadogdog, yakni menabuh perkusi yang disebut dogdog. Gendang dogdog yang dimainkan dalam Seni Badud berjumlah empat, mulai yang terbesar hingga yang terkecil. Selain dogdog, alat musik lain yang dimainkan dalam Seni Badud adalah lima pasang angklung.

Ketika tampil di lingkungan desa mereka, pertama para pemusik Badud biasanya menabuh dogdog dan memainkan angklung mereka sejak dari base camp mereka.

Sementara dogdog dan angklung dimainkan, para pemeran lainnya mempersiapkan diri. Dalam Seni Badud, para pembawa cerita ini memakai kostum binatang, yakni macan, kera, babi hutan dan terkadang ada tambahan binatang-binatang lain. Selain hewan, ada juga yang berkostum nenek-nenek, lengkap dengan topengnya.

Setelah selang beberapa menit memainkan dogdog sebagai persiapan awal agar kompak, rombongan Badud memulai iring-iringan menuju lokasi pentas.

Sepanjang jalan, iring-iringan Badud terus memainkan musik mereka dan para pemain peran menarikan gerakan masing-masing. Pemeran berkostum babi hutan bergaya  mengendus-ngendus tanah seperti tak ubahnya seekor babi yang sedang mencari makanan dikebun.

Pemeran berkostum macan bergaya menakut-nakuti penonton. Sementara pemeran berkostum monyet menggaruk-garuk sekujur tubuhnya tak ubahnya seekor kera sungguhan.

Mendekati lokasi pentas, para penonton pun dibuat kocak dengan tingkah para pemain peran binatang ini. Antara si Macan dan si Monyet bersikap tak akur.

Si Monyet Badud kerap kali diserang oleh sang Macan, sehingga si Monyet terus lari menghindari kejaran sang Macan. Si monyet Badud yang menghindari kejaran sang macan mendekati penonton, sontak membuat takut dan penonton pun menghindar.

Konon, dalam setiap pertunjukan, para pemeran binatang ini kerap hilang kesadaran dan dirasuki mahluk halus. Oleh karena itu, ada petugas paranormal atau pawang yang selalu berjaga mengawasi tingkah mereka.

Siang itu, setelah sampai di lokasi pementasan berupa tanah lapang, tingkah para pemeran binatang ini pun semakin menjadi. Si Macan terus memburu si Monyet hingga pertunjukan begitu dramatis dan membuat penonton degdegan.

Seni Badud Desa Kertayasa juga menyuguhkan tarian Kuda Lumping atau dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan Ebeg. Kesenian ini merupakan adaptasi dari pertunjukan sejenis yang biasa dimainkan warga keturunan Jawa di Pangandaran.

Berbeda dengan Kuda Lumping Jawa, seni Ebeg sebagai bagian dari pementasan Badud Kertayasa ini diiringi dengan tabuhan musik gamelan ketuk tilu.

Pada segmen ini, di tengah-tengah tarian, para pemain Ebeg seolah dirasuki mahluk halus dan bertingkah membabi buta. Beberapa dari mereka meminta sesaji, seperti air teh, kopi, air kembang, daun pepaya dan beberapa makanan tradisional lainnya.

Sesaji yang terhidang itu mereka makan dengan menggunakan mulut tanpa tangan. Terkadang, mereka yang kesurupan bersitegang karena hendak mengambil sesaji yang sama.

Konon, dalam seni Ebeg Badud ini, para pemain Ebeg dibuat kerasukan oleh seorang pawang yang disebut mampu memanggil mahluk halus. Oleh sang pawang juga, para penari Ebeg yang kerasukan dan membuat takut penonton ini disadarkan. Pagelaran pementasan seni Badud di dusun Cibuluh ini berlangsung selama dua jam lebih.

Menurut Sapdin (55) sebagai wakil ketua kelompok seni Badud Lingkungan Seni Gending Sari yang berasal dari Dusun Merjan, Desa Kertayasa, seni Badud Kertayasa merupakan kesenian tradisional yang sudah ada sejak sekitar abad ke-20.

Menurut dia, pemrakarsa seni ini adalah  Aki Ardasim di Blok Ciperengus dan Aki Ijot di Blok Cicadas, yang sekarang masuk ke dalam Desa Kertayasa. Awalnya, kata dia, seni Badud berkembang dari tradisi olah suara para petani di ladang atau huma.

Sapdin bercerita, Aki Ardasim dan Aki Ijot  mengajak warga berembug agar kebiasaan menggunakan kode suara dibawakan dalam pertunjukan dengam iringan alat musik. Saat itu, dipilihlah gendang dogdog dan angklung sebagai pengiring.

Cerita yang dibawakan sendiri diambil dari kisah kehidupan alam desa dan lingkungan pertanian, seperti adanya peran babi hutan dan nenek petani.

Menurt Sapdin, sebenarnya seni Badud Kertayasa sudah hampir punah. Baru pada  2013, kata dia, seni ini mulai menggeliat kembali dan ditampilkan di beberapa acara hajat dan pentas-pentas seni di daerah wisata.

Sementara, UU (57), selaku Ketua Kelompok Seni Badud Kertayasa berharap, seni badud Kertayasa ini dapat lestari kembali dan terhindar dari kepunahan, seperti kesenian Badud di Desa Margacinta, desa tetangga mereka. Terlebih, kata dia, Badud merupakan seni asli dari Kabupaten Pangandaran.

Pertunjukan Badud sore itu ramai disaksikan warga. Para penonton mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menggelar kampanye pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pertunjukkan musik  Punk di… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top