Topik: Pendidikan

Berdiri 1964, MI Paledah Bertahan dalam Himpitan

  • Sabtu, 12 November 2016 - 08:38
  • Admin
  • dibaca 590 kali
  • Comment
Suasana kegiatan belajar-mengajar MI Paledah. Foto: GG

Suasana kegiatan belajar-mengajar MI Paledah. Foto: GG

Padaherang, SwaraPangandaran.Com – Dunia pendidikan di tanah air masih menyisakan berbagai cerita miris. Mimpi membangun pendidikan yang bermutu, namun gedung sekolah saja masih banyak yang bobrok. Cerita nelangsa dunia pendidikan, salah satunya dijumai di Desa Paledah, Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran

Di tempat tersebut, berdiri sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Mukhtar. Dibangun pada 1964, sekolah Islam ini menjadi salah satu yang tertua di Kec. Padaherang. Selama lebih dari setengah abad, sekolah swasta ini telah berjasa mendidik ribuan warga desa.

Namun nilai sejarah dan jasa rupanya belum bisa menjadi penolong untuk sekolah ini. MI Al-Mukhtar atau akrab disebut MI Paledah ini sekarang kondisinya memprihatinkan. Para siswa belajar di bangunan-bangunan kelas lapuk yang sewaktu-waktu bisa menjadi malapetaka.

Dari enam ruang kelas yang dimiliki, tiga ruangan di antaranya mengalami kerusakan skala berat. Satu ruangan bahkan sudah dikosongkan sejak lama karena atapnya telah ambrol. Karena satu ruangan difungsikan sebagai ruang guru, sekolah ini hanya mengoperasikan empat kelas.

Siswa kelas IV dan V terpaksa diungsikan ke sekolah lain. Mereka dititipkan ke madrasah diniyah dan raudatul athfal (RA) yang juga dimiliki Yayasan Pendidikan Islam Almukhtar. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun.

“Persisnya sejak kapan, saya tidak tahu. Yang pasti, saya masuk ke sini 2005, sebagian siswa kami memang tidak punya ruang kelas sendiri,” kata Sutarman, Kepala Sekolah, Kamis (10/11).

Menitipkan sebagian siswa madrasah diniyah dan RA bukannya tanpa masalah. Gedung sekolah RA tempat menitipkan siswa kelas IV juga merupakan bangunan tua yang lapuk. Para siswa ini belajar di loteng atau lantai dua yang hanya beralas papan.

Di tempat itu, mereka belajar tak pakai meja-kursi atau hanya lesehan berlaskan papan. Di bawah papan, tak ada beton penyangga, sehingga suara ribut dari atas sudah pasti mengganggu anak-anak yang belajar di bawah.

“Ini kan papan sudah keropos, tapi namanya anak-anak susah diatur. Kalau ditinggal sebentar, itu mereka lari-lari,” kata Sutarman ketika mengajak SP.Com ke ruangan ini.

Eneng Efon Faridah, salah satu orangtua siswa mengaku waswas dengan kondisi bangunan sekolah. Di beberapa ruang kelas, kata Eneng, atap mengalami kebocoran, sehingga jika hujan tiba, kegiatan belajar menjadi terganggu.

 

Kepala Sekolah menunjukan ruang kelas MI Paledah yang ambrol. Foto: GG

Kepala Sekolah menunjukan ruang kelas MI Paledah yang ambrol. Foto: GG

 

Keputusan Eneng menyekolahkan anak di MI Paledah memang bukan tanpa alasan. Di sekolah tersebut, menurut Eneng, muatan pendidikan agama lebih banyak. Sekolah tersebut, kata dia, menjadi pilihan alternatif para orangtua di Desa Paledah dan sekitarnya.

“Saya mewakili para orangtua berharap pemerintah bisa datang dan melihat langsung ke sini. Kami berharap pemerintah bisa membantu,” kata Eneng.

Meski kondisi MI Paledah kumuh dan lapuk, animo warga mengirim anak mereka sekolah di sana memang terbilang tinggi. Saat ini, sebanyak 148 siswa belajar di sekolah ini dan menjadikannya sebagai MI dengan siswa terbanyak se-Kecamatan Padaherang.

Sutarman, sang Kepala Sekolah menyampaikan, meskipun dalam keterbatasan, pihaknya terus berinvoasi. Dalam materi ke-Islaman, ia mencontohkan, sebelum masu kelas, anak-anak terlebih dahulu dikumpulkan di masjid untuk bersama membaca asmaul husna, sholawat dan shilat dhuha berjamaah.

Selepas pelajaran, kata dia, anak-anak kembali lagi ke masjid untuk memberikan setoran hafalan Al-Quran.

Sutarman menjelaskan, pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan penambahan ruangan kepada pemerintah melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama Kab. Pangandaran.

Setelah tiga bulan lalu tidak mendapat respons, kata dia, beberapa waktu lalu pihaknya kembali mengirimkan proposal pengajuan.

Kepala Kanwil Kemenag Kab. Pangandaran Eep Nuhyana berjanji akan membantu memperjuangkan nasib MI Paledah. Menurut Eep, dalam waktu dekat, ia akan mengirimkan proposal permohonan bantuan tersebut ke Pemprov Jawa Barat.

Lebih jauh, menurut Eep, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk MI sangat terbatas dalam beberapa tahun terakhir. Di Kabupaten Pangandaran, jika tahun-tahun sebelumnya ada dana aspirasi untuk MI, tahun ini tidak ada.

Editor: Admin

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menggelar kampanye pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pertunjukkan musik  Punk di… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top