Topik: Cerpen

[Cerpen] Keranda Gelap

  • Sabtu, 7 Oktober 2017 - 22:51
  • Admin
  • dibaca 276 kali
  • Comment

Ilustrasi.

Oleh Otang K. Baddy*

Kalau saja tubuh wanita tak bernyawa itu tak cepat membusuk, orang-orang itu pasti tak akan cepat menguburnya. Terlebih saat hari menjelang malam. Mereka bisa saja lebih senang melek sampai pagi di dekat jasad itu. Meski bibirnya mengutuk, lain dengan hatinya. Sebagai salam perpisahan, sebagian dari mereka merasa menyesal jika sedikit pun tanpa membelai tubuhnya.  Tapi hasrat itu tak bisa tertunaikan. Selain sudah rapi dikafani, hal kecintaan berlebih itu pun termasuk tak lazim, terlebih kepada orang yang sudah meninggal. Baiknya doakan saja arwah almarhumah biar dapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Karenanya segera jenazah itu pun diberangkatkan.

Tapi baru separuh perjalanan menuju pemakaman, tepatnya di lereng bukit, hujan deras tiba-tiba turun. Kilat menyambar-nyambar,  segerlap lidahnya menjilat-jilat bumi. Pengusung jenazah dan para pengiringnya seketika panik, terlebih setelah angin kencang bak hendak menerbangkan mereka. Karenanya jiwa-jiwa mereka pun menciut. Bahkan mereka tak berdaya ketika sebuah pohon besar dan rindang seketika tumbang di depan mata. Menghadang perjalanan mereka. Memang tak sampai ada korban selain hanya lampu petromaks  –sebagai penerang perjalanan,  mendadak padam.  Efek dari kerindangan dan basah hujan, tak ayal telah menimbulkan hembusan dahsyat. Karenanya lampu petromaks itu tak cuma padam, melainkan terbanting dan hancur. Bahkan sebagian dari iringan itu pun banyak yang terjatuh.

Malam pun menjadi gulita. Jarang pandang menjadi  terbatas. Tak sampai ukuran depa, melainan sebatas jengkal yang terpaksa.  Karena itu semua menjadi resah. Betapa tidak, sebab tak ada jalan lain menunju ke pemakaman selain melintasi lereng bukit itu. Jalan ke pemakaman umum cuma itu satu-satunya. Dimana bagian kanan atas jalan bertebing terjal. Sementara di bagian bawah –samping kiri, sebuah jurang menganga lebar yang dibawahnya terdapat aliran sungai yang deras tersebab banjir.

“Allahu Akbar!” tiba-tiba dalam kegelapan itu ada yang bertakbir. Sementara yang lainnya berdecak-decak penuh kecemasan.

“Duh, Gusti,” sebagai pengsung kerada paling depan yang bergandeng dengan Kadus Tomo, Sarmod tampak mengeluh.

“Kalau sudah begini bagaimana, Mod?” Kadus Tomo menyikut Sarmod. Yang ditanya tak bisa menjawab, selain pundaknya merasa pegal juga gigil tubuhnya tak mampu ditahan. Demikian pula para pengiring jenazah yang tak lebih dari 20 orang itu, mulutnya terbungkam. Otak-otak mereka seakan telah terasuk suasana. Yakni gelap. Pekat. Betapa tidak, sebab kendati petir bak menyambar-nyambar mata mereka tak bisa melihat satu sama lainnya.  Sebab ketika kilatan dari langit itu datang mata mereka langsung terpejam saking getirnya. Dugaan-dugaan buruk sebelumnya telah membuahkan kisah nyata dalam rasa dan pandangan sebagian dari mereka.

Mereka jadi ingat pada kisah atau cerita di mana di suatu tempat telah terjadi kelaparan dan tubuh-tubuh kerontang. Kenapa petaka itu terjadi, satu ungkapan pun datang:  “Tidaklah semua itu bakal terjadi jika tak ada suatu umat yang gemar melakukan zinah”. Di tengah pikiran kalut dan decakan-decakan resah, sebagian dari pengantar jenazah itu terus beruring mengutuk perilaku almarhumah semasa hidup sampai ke cara kematiannya.

“Dasar pelacur. Boro-boro mau insaf, mati saja malah gantung diri!”

“Mungkin karena dosanya terlalu besar. Ya penzinah, ya bunuh diri. Tapi kenapa ya kita-kita jadi kena getahnya?”

Tepat dalam pandangan mereka, langit bumi pun seakan menolak menerima jasadnya. Semua itu berwujud hujan yang deras, angin yang demikian kencang serta pohon besar menghadang. Bahkan dari reaksi alam itu seakan mau menghantam mereka.

Dalam gelap yang menyergap, serta dingin yang menggigil, sebagian dari otak mereka bergolak resah. Menerka-nerka dan membaca-baca situasi sebelumnya. Hingga terbetik jawaban yang tak bisa disangkal, pun termasuk kematian wanita pelacur itu. Betapa tidak, mereka –para lelaki di kampung itu, semua taat menjalankan ibadah yang lima waktu. Selain rajin ke mesjid, mereka pun pro aktif dalam mengadakan pengajian mingguan kampung. Sayang, mereka tak bisa mengamalkan kegiatan keagamaan itu dalam perilaku hidup sehari-hari. Bergiat menunaikan yang lima serta pengajian yang rutin mungkin sekedar mencari aman di mata lingkungan semata. Mungkin mereka bukan tak tahu, bukankah solat itu intinya untuk mencegah perbuatan keji dan munkar? Pengajian merupakan pencerah dan obor dalam perjalanan hidup ini?

Hal penggalian mutiara hidup itu bak suatu misteri yang tampak menjadi nafsi-nafsi. Ya, kronologis itu tak lepas dengan kematian Surtini.  Wanita yang sejak menjanda tanpa anak itu memang telah lama menjadi pekerja seks komersial. Namun sejak kompleks tempat mangkalnya tergusur, ia kembali pulang dan menetap di kampung. Surtini,  dengan postur tubuh dan kulit yang aduhai mulus, karuan saja membuat para mata lelaki pun tergiur. Benar, soal seks atau hasrat purbawi tak ada yang tabu. Buktinya tak cukup para lelaki hidung belang semata, Pak Kadus, ketua RT, bahkan ada yang mengaku pembawa umat di kampung itu pun tak ketinggalan ikut pula mencicipi citarasa yang dimiliki kelembutan Surtini.

Lantas kenapa ‘sang bidadari’ itu sampai mati bunuh diri? Usut punya usut, kenekatan  Surtini menggantung diri di pintu kamar itu akibat jiwanya tertekan berat. Persoalannya dari sekian lelaki—termasuk di dalamnya ada sebagian tokoh masyarakat, belakangan tak satu orang pun yang mau membayar kehangatannya. Dalam arti seutuhnya perempuan berkulit sawo matang itu bak dijadikan ajang pemuas nafsu gratisan. Dengan begitu,  bagi perempuan itu tak ada bedanya dengan pelecehan tanpa akhir. Tepatnya tersiksa lahir maupun batin.

***

Jika kematian biasa mungkin jenazah sudah lebih dulu dikebumikan. Pengurusan jasad karena

mati bunuh diri tak semudah seperti kematian biasa. Ya itu, harus menempuh proses pemeriksaan akurat. Setelah dilakukan otopsi dan dinyatakan korban murni bunuh diri, lantas jenazah itu sepenuhnya diserahkan kepada keluarganya.  Karenanya, lepas waktu isa jenazah itu baru diberangkatkan dengan diterangi satu lampu petromaks. Namun demikianlah jadinya.  Hambatan besar. Dengan semua petaka yang menimpa,  betapa sudah jelasnya isyarat keburukan itu?

“Mungkin kematian akibat bunuh diri tak seharusnya dikubur di tempat pemakaman umum.”

“Ya, bisa juga disebut kematian terkutuk. Dan kita tak bisa menghindar dari kenyataan ini. Fakta-fakta  sudah kita rasakan saat ini juga. Masya Allah, Maha benar Allah dengan segala firmanNya.”

Di antara gelap pekat dan tubuh yang kuyup, sebagian dari jiwa mereka pun kadang mengangguk mengiyakan. Semua bersumber pada diri dan perilaku yang telah dijalankan mereka sebelumnya.

“Mohon kepada semua,  terlebih kepada keluaga almarhumah. Karena segalanya telah terjegal dengan kesulitan yang teramat sangat,  bagaimana jika jenazah Surtini ini kita kuburkan esok hari saja, setuju?” Kadus Tomo tiba-tiba mengajukan permohonan, setelah sebelumnya terjadi bisik-bisik dengan Sarmod, sandingan pengusung keranda paling depan. Meski dengan berat hati, Jumaroh –kakak satu-satunya almarhum, terpaksa mengangguk menyetujuinya.

Setelah keputusan sudah bulat, Kadus Tomo pun langsung mengabarkan.

“Oleh karena itu wahai semua,  mari kita kembali lagii…!” teriaknya di tengah gelap dan hujan.  Iringan pun kemudian berbalik arah, jika semula keranda diusung paling depan kini berbalik menjadi paling belakang. Seraya merayap di gelap pekat,  Kadus Tomo berbisik pada Sarmod. Sementara dua orang pengusung belakang tampak antusias menangkap bisikan lelaki itu.

“Jika kamu merasa lelah, biarkan saya lebih dulu untuk merasakan tubuh molek perempuan ini.”

Tanpa jawaban persetujuan keranda itu pun segera dilepas, sebelum kemudian mereka saling berebut tubuh  wanita yang membusuk itu (*)

(Pangandaran, Maret  2016)

*Otang K.Baddy, nama pena dari Otang Komaludin. Menulis cerpen dan puisi di sejumlah media cetak mapun online. Tinggal di Pangandaran, Jawa Barat.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top