Topik: Sejarah

Ditemukan Lebih dari 30 Situs Cagar Budaya di Pangandaran

  • Minggu, 15 Oktober 2017 - 16:47
  • Andi Nurroni
  • dibaca 292 kali
  • Comment

Peneliti menunjukan hasil temuan gerabah di situs Batu Kalde belum lama ini. Andi Nurroni SPC

Pangandaran, SPC – Wilayah kabupaten Pangandaran ternyata memiliki peninggalan sejarah yang sangat kaya. Tim peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten melaporkan, pihaknya telah menginventarisasi lebih dari 30 situs cagar budaya di Kabupaten Pangandaran.

“Jumlahnya sangat mungkin terus bertambah karena proses inventarisasi masih berjalan,” ujar Syarif Achmadi, Kasi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya BPCB Banten ditemui di lokasi ekskavasi, Kamis (12/10).

Penemuan situs cagar budaya dalam jumlah banyak di Kabupaten Pangandaran, menurut Syarif, membuat para peneliti takjub. Pasalnya, kata dia, situs-situs tersebut lengkap mewakili lima zaman dalam pembabakan sejarah di Indonesia, yakni masa prasejarah, masa klasik atau Hindu-Budha, masa Islam, masa kolonial Hindia-Belanda dan masa pendudukan Jepang.

Peninggalan masa prasejarah, kata Syarif, diwakili Goa Sutra Reregan dan Goa Panggung di Desa Selasari, Kecamatan Parigi. Di dua goa tersebut, kata Syarif, ditemukan jejak-jejak manusia prasejarah.

Peninggalan paling banyak, kata Syarif, adalah dari masa kolonial Hindia-Belanda. Sebagian besar, kata dia, adalah infrastruktur bekas kereta api, seperti terowongan dan jembatan.

Situs-situs tersebut, kata Syarif, perlu diteliti dan mendapat status hukum dari pemerintah. Ia mengambarkan, dari lebih 30 situs cagar budaya, hanya beberapa saja yang baru mendapatkan status perlindungan dari pemerintah, seperti situs Batu Kalde dan Goa Jepang. Itu pun, kata dia, belum ada pemeringkatan status atas situs-situs tersebut.

Untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya, Syarif menjelaskan, diperlukan proses inventarisasi, pengumpulan dan pengolahan data, hingga diterbitkan rekomendasi dari tim ahli cagar budaya.

Seperti disebutkan di undang-undang yang baru, rekomendasi mencakup pemeringkatan, apakah situs terkait berstatus cagar budaya tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi atau tingkat nasional.

“Hingga tahun 2018, kita masih akan inventarisasi. Kalau sudah tuntas, akan kita terbitkan dalam bentuk buku inventaris cagar budaya di Pangandaran, kita persembahkan kepada pemerintah daerah dan warga Pangandaran di hari jadi Kabupaten Pangandaran mendatang,” kata Syarif.

Syarif berharap, hasil-hasil temuan situs cagar budaya tersebut bisa membantu pemerintah dan warga untuk mengenali jati diri dan identitasnya.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top