Topik: Bahasa

[Gagasan] Menyikapi Ragam Bahasa di Pangandaran

  • Rabu, 12 Juli 2017 - 16:38
  • Andi Nurroni
  • dibaca 694 kali
  • Comment

Ilustrasi: Suasana Karnaval Budaya HUT ke-4 Kabupaten Pangandaran. (AN)

Oleh Fauzia Zahira Munirul Hakim

Warga Bojongsari, Pangandaran

 

Merespons artikel: Gegar Bahasa di Pangandaran

Pertama kali saya mengetahui istilah “gegar bahasa” adalah ketika menemukan satu artikel yang ditulis oleh Andi Nurroni pada April tahun lalu. Artikel tersebut penulis temui ketika di tengah tenggat waktu pengumpulan tugas akhir satu mata kuliah. Dosen menginstruksikan kami untuk menulis satu artikel ilmiah mengenai bahasa asal atau lebih tepatnya bahasa pertama kami.

Saya sering kesulitan kalau dipaksa harus menjelaskan bahasa pertama saya secara empiris. Rasionalnya, bahasa pertama adalah bahasa yang seseorang pelajari pertama kali ketika mereka masih kecil. Asumsi ini tentu membenarkan adanya bahasa kedua atau bahasa ketiga. Istilahnya adalah bilingual dan multilingual. Bahasa kedua, ketiga, dan seterusnya bisa berupa bahasa apapun yang seseorang kuasai setelah bahasa pertamanya.

Jangankan soal bahasa, kalau ditanya suku, saya juga masih kebingungan harus jawab apa. Tidak ada suku dominan dalam darah saya. Saya dilahirkan dari empat suku yang berbeda. Ibu berasal dari Sumatera Utara. Ibu beliau, Nenek saya, adalah keturunan Gayo Aceh, dan ayah beliau, Kakek saya, adalah keturunan Batak. Ayah bisa dibilang pribumi Pangandaran. Ibu beliau, Enin, berasal dari Kebumen tapi sudah menetap sejak kecil di Babakan Pangandaran, dan ayah beliau, Aki, merupakan pribumi Batu Karas Cijulang.

Momen kumpul keluarga kesukaan saya tentu ketika lebaran. Bahasa Aceh, Batak, Jawa, dan Sunda bercampur jadi satu. Ini menjadi salah satu alasan kenapa Ayah dan Ibu memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama saya dan adik saya.

Bahasa Sunda adalah bahasa kedua saya. Saya mengalami kesulitan ketika harus berinteraksi dengan teman-teman sebaya saya di SDN 1 Pangandaran. Saat itu, saya duduk di bangku kelas 4 SD, baru saja pindah dari Bandung ke Pangandaran. Saya tidak pernah mempelajari bahasa Sunda dari kedua orang tua saya. Jelas, Ibu saya tidak fasih berbahasa Sunda.

123
Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top