Topik: Bahasa

[Gagasan] Menyikapi Ragam Bahasa di Pangandaran

  • Rabu, 12 Juli 2017 - 16:38
  • Andi Nurroni
  • dibaca 693 kali
  • Comment

Banyak yang menyamakan istilah bahasa pertama dengan bahasa Ibu. Alasannya logis, bahasa pertama yang seseorang pelajari adalah tentu bahasa Ibunya, karena Ibu adalah sosok yang paling sering berinteraksi dengan anaknya. Nilai bahasa Sunda saya tidak pernah bagus, meski berkali-kali minta bantuan Ayah untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Kenyatannya, bahasa Sunda juga bukan bahasa pertama Ayah saya, karena Enin saya berbahasa Jawa. Ini menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama Ayah saya. Butuh waktu yang lama bagi saya untuk memahami bahasa Sunda secara komprehensif. Saya lancar berbahasa Sunda ketika melanjutkan sekolah ke tingkat SMA di Ciamis.

Bahasa ketiga saya, bisa dibilang, adalah bahasa Inggris. Saya sudah mengenal bahasa Inggris sejak Ayah saya membelikan saya Playstation. Permainan The Sims berhasil membuat saya unggul dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Situasi yang sama terus berlanjut hingga saya SMA. Setelah menyelesaikan SMA, sesuai rekomendasi guru Bahasa Inggris, saya memilih untuk mengambil studi Sastra Inggris.

Mengambil pengutamaan bahasa selama studi strata satu hingga sekarang strata dua mengubah pandangan saya terhadap apa disebut dengan gegar bahasa. Dulu, saya sangat mempertimbangkan pentingnya pemertahanan bahasa atau language maintenance terhadap bahasa daerah. Sampai sekarang pun masih demikian.

Tetapi, saya sekarang cenderung melonggarkan fenomena ini. Peralihan bahasa atau language shift tidak bisa dihindari dalam komunitas bilingual dan multilingual. Sebabnya seperti: pernikahan dua suku yang berbeda, kepentingan sosial dan ekonomis suatu komunitas bahasa, dan lainnya. Dalam kasus Pangandaran, kedua pilihan ini adalah yang paling memungkinkan.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam beberapa situasi, kenyataannya, memang tidak mungkin atau bahkan tidak boleh dihindari. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu (lingua franca) memiliki fungsi primer dalam komunitas multilingual, terutama di komunitas bahasa Pangandaran, yang terbentuk dari dua dialek berbeda.

123
Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top