Topik: Bahasa

[Gagasan] Menyikapi Ragam Bahasa di Pangandaran

  • Rabu, 12 Juli 2017 - 16:38
  • Andi Nurroni
  • dibaca 695 kali
  • Comment

Apalagi Pangandaran merupakan destinasi wisata yang dikunjungi oleh wisatawan dari asal daerah yang beragam. Di sisi lain, pemertahanan bahasa juga kewajiban yang perlu dilakukan oleh komunitas bahasa untuk mempertahankan keberadaan bahasa tersebut. Punah atau lestarinya suatu bahasa bergantung pada komunitasnya sendiri.

Kini, saya cenderung memandang gegar bahasa sebagai bentuk produktivitas bahasa. Apabila saya perhatikan, jarang sekali masyarakat Pangandaran yang benar-benar berbahasa Indonesia. Masih banyak kesalahan EYD yang mereka lakukan ketika berbahasa Indonesia. Saya salah satunya.

Kesalahan ini tentu bukan sesuatu yang disengaja, melainkan hasil yang tidak sadar. Rata-rata dari mereka memadukan pengetahuan bahasa pertama mereka dengan bahasa kedua bahkan ketiga mereka. Kosakata yang digunakan bisa jadi bahasa Indonesia, namun strukturnya bisa jadi struktur bahasa Sunda atau Jawa Banyumasan, atau pun sebaliknya.

Kesalahan ini justru menarik bagi saya, karena mampu menghasilkan dialek bahasa yang baru, di luar dari dialek utama yang masyarakat Pangandaran miliki. Dialek ini berupa akulturasi multilingual. Toh, pada akhirnya akulturasi ini bisa merangkul keseluruhan dialek yang terdapat di masyarakat Pangandaran.

Masalah berbahasa tidak perlu dianggap serius, menurut pragmatik. Mereka mengutamakan kelancaran komunikasi daripada benar atau salahnya proses berbahasa. Peralihan bahasa menjadi keperluan, namun pemertahanan bahasa juga adalah kewajiban dasar. Ketika berinteraksi dengan komunitas satu dialek, sudah sewajarnya kita menggunakan bahasa yang dimaksud.

Pengecualian berlaku ketika kita berkomunikasi dengan lawan dialek. Namun, bukankah lebih menyenangkan apabila kita berkeinginan untuk mempelajari dialek milik komunitas bahasa lainnya? Selain menambah pengetahuan bahasa, pemertahanan bahasa dapat dilakukan secara sukarela. Ketika, pembelajaran bahasa asing menjamur di mana-mana, pembelajaran bahasa daerah bahkan bahasa Indonesia hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah.

123
Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top