Gagasan: Gegar Bahasa di Pangandaran

  • Jumat, 15 April 2016 - 13:11
  • Andi Nurroni
  • dibaca 1220 kali
  • Comment

 

Ilustrasi. Tokoh si Kabayan. Foto: youtube.com

Ilustrasi. Tokoh Sunda si Kabayan. Foto: youtube.com

Oleh Andi Nurroni

Wartawan SwaraPangandaran.Com

Gegar bahasa tengah terjadi di Pesisir Pangandaran. Sejak ditetapkan sebagai daerah otonom baru, semakin banyak orang berbahasa Indonesia di sini. Bahasa nasional ini semakin telak menjadi bahasa pengantar administratif. Bahkan secara perlahan, Bahasa Indonesia semakin populer dalam pergaulan antarwarga sehari-hari.

Pak Bupati berbicara bahasa Indonesia, wartawannya pun bertanya dalam bahasa Indonesia. Datang ke kantor-kantor pemerintahan, mulai dari dinas hingga kantor desa, warga kini mulai ragu berbahasa ibu mereka, yakni Bahasa Sunda (atau sebagian komunitas warga ada yang berbahasa Jawa dialek Banyumas).

Tak hanya oleh pegawai pemerintah, Bahasa Indonesia juga dipopulerkan oleh para pelaku bisnis ritel dan bank yang kini semakin berkembang di Pangandaran. Sementara di sektor perhotelan, Bahasa Indonesia sudah sejak lama dijadikan prosedur stadar operasi pelayanan.

Silakan Anda mampir ke minimarket yang kini sudah menjamur, bahkan hingga ke desa-desa di Cigugur dan Langkaplancar. Sapaan pertama yang akan Anda terima telah diatur dalam bahasa Indonesia. “Selamat datang di Indoma***, selamat belanja!”

Atau ketika Anda mengisi bensin di SPBU Pertamina, sapaan dan komunikasi standar juga berlaku dalam Bahasa Indonesia. Memang, dalam banyak kesempatan, petugas dan konsumen “mencuri-curi kesempatan” untuk berbahsa Sunda.

Terlebih jika si petugas dan si konsumen itu adalah dua orang bertetangga, teman, kerabat atau keluarga yang sehari-hari berbahasa Sunda. Tentu sangat tidak enak dikerongkongan jika mereka dipaksa berbahasa Indonesia.

Tapi berbicara bahasa Sunda di lingkungan-lingkungan itu kini membuat kita merasa gelisah. Baik si petugas maupun konsumen, merasa dalam hatinya telah melakukan pelangaran.

Kita merasa tidak pantas berbicara bahasa Sunda di minimarket atau di bank. Kita, sebagai penutur Bahasa Sunda, mendadak menjadi inferior atau rendah diri untuk berbicara Bahasa Sunda.

Jika kondisi ini terus berlangsung, yakinlah, Bahasa Indonesia dengan cepat akan melejit sebagai bahasa pergaulan di Pangandaran. Kondisi ini persis seperti kita lihat di kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung, Bogor atau Tasikmalaya.

Di Pangandaran, barangkali dalam satu-dua tahun ke depan, akan semakin banyak anak-anak sekolah atau remaja berbicara kepada sesamanya dalam Bahasa Indonesia. Juga akan semakin banyak orangtua berkomunikasi dengan anaknya dalam Bahasa Indonesia.

Padahal sebelumnya, meskipun daerah Pangandaran ini adalah kawasan wisata yang didatangi pelancong yang heterogen, Bahasa Sunda tetap lestari sebagai bahasa pergaulan masyarakat. Hingga tahun 2000-an, Bahasa Sunda juga masih digunakan para ibu-bapak guru ketika mengajar.

Kini, setelah mendapatkan status kabupaten otonom, Bahasa Sunda mulai menghadapi tantangan hebat di Pangandaran. Lantas, akan seperti apa nasib Bahasa Sunda di pesisir selatan Jawa Barat ini?

Seperti di pusat-pusat kota di Jawa Barat kini, generasi muda Pangandaran diprediksi akan semakin kehilangan kemampuannya berbahasa Sunda. Tak hanya anak-anak muda, bahasa Sunda orang-orang tua juga semakin banyak dicampuri berbagai kosakata Bahasa Indonesia.

Di Pangandaran, seperti halnya di pusat-pusat kota di Jawa Barat, orang Sunda semakin ragu berbahasa Sunda. Simaklah percakapan di warung kelontong atau warung nasi. Orang Sunda tampaknya mulai merasa malu atau risih menyebut atau mendengar kata endog (telor), beas (beras), sangu (nasi), hayam (ayam) dan lain sebagainya.

Setelah Pangandaran menjadi kabupaten otonom, perjuangan melestarikan Bahasa Indonesia kini sebagian ada di pundak pemerintah daerah. Mungkinkah Pak Bupati menerbitkan peraturan daerah yang melindungi harkat dan martabat Bahasa Sunda di Pangandaran?

Bisakah Pak Bupati meminta para pelayan minimarket atau SPBU menyapa pembelinya dalam Bahasa Sunda. Rasanya akan sangat menyenangkan kalau petugas minimarket menyapa kita dengan Bahasa Sunda. “wilujeng sumping di Indoma***, wilujeng beranggaleuh!”

 

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top