Kerajinan Hata dari Pangandaran Semakin Bersinar

0
2425
Salah satu produk UMKM Pangandaran, Kerjajinan hata. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Kerjajinan hata. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Kerjajinan hata. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Hata merupakan tanaman merambat yang tergolong jenis paku-pakuan yang bisa dijumpai di Jawa Barat dan sejumlah daerah lain di Indonesia. Tanaman ini telah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tali pengikat.

Sayang, munculnya berbagai tali sintesis perlahan mengubur popularitas tali hata. Nemun begitu, di Pangandaran, kini hata muncul lagi kerajinan anyaman. Kerajinan ini berkembang di Dusun Sukamanah, Desa Bojong, Kecamatan Parigi.

Dalam klasifikasi ilmiah, hata termasuk ke dalam marga Lygodium. Dua jenis hata yang terdapat di Indonesia, khususnya Jawa Barat adalah hata areuy (Lygodium circinnatum) dan hata leutik (Lygodium scandens). Di Pangandaran, hata areuy lah yang dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan.

Kawasan Pangandaran merupakan salah satu sentra tumbuhan hata atau kerap disebut rotan kecil. Karena tidak mampu mengolah, sebelumnya, masyarakat hanya menjadi pengumpul hata, lalu pengepul mengirimnya ke Bali sebagai bahan kerajinan. Di Bali sendiri, tanaman ini dikenal dengan sebutan ata.

Berkat dorongan Dinas Perindustrian Kabupaten Pangandaran, sejak 2015, sejumlah warga di Dusun Sukamanah mulai belajar mengolah hata sebagai kerajinan. Meski baru sebatas menjadi sampingan, kerajinan hata kini mulai berkembang di dusun ini, bahkan menjadi ciri khas wilayah ini.

Pada perkembangannya, karena prospek yang menjanjikan, warga kini telah menggabungkan diri dalam wadah bernama Sanggar Giri Mitra. Anggota pengrajin hata di Dusun Sukamanah kini mencapai 25 orang.

Rumah-rumah para pengrajin yang yang berada di sekitar objek wisata Citumang mennjadi keuntungan tersendiri bagi pengembangan kerajinan ini. Banyak wisatawan yang tertarik membeli, termasuk turis asing.

Menurut Ida (40), pengrajin yang juga mentor bagi warga lain, para pembuat kerajinan hata adalah warga, baik kaum bapak maupun ibu-ibu.

“Pertama membuat awal tahun 2015, baru setahun, awalnya mengajak sekitar 20 orang tetangga atas arahan pihak Dinas Perindustrian. Katanya, ‘tolonglah bahan-bahan hata itu jangan hanya dikirim ke luar daerah, bisa ngga dibikin kerajinan disini?’,” tutur Ida yang merupakan pemasar baku hata sejak 1999.

Sebagai satu-satunya pemasar bahan baku hata di Pangandaran, menurut Ida, sejak dulu, ia sering diajak mengikuti pelatihan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Dari sanalah, menurut ida, ia mulai mempelajari teknik kerajinan hata.

Kemudian, menurut Ida, pemerintah setempat memberikan pelatihan bagi warga. Akhirnya, menurut Ida, mulai banyak warga yang tertarik dan hingga kini semakin terlatih mengkreasikan berbagai jenis kerajinan hata.

Semua pun kata Ida, bentuk-bentuk kerajinan hata Pangandaran yang sekarang ada merupakan hasil imajinasi para perajin sendiri. Kini kata Ida, kerajinan hata yang ditawarkan sudah mencakup beberapa jenis, yaitu perbot, produk fesyen, hiasan dan aksesori.

Untuk perabot, kata Ida, sanggar mereka membuat piring, tatakan teko, tempat buah dan tempat tisyu. Sementara ketegori produk fesyen, hiasan dan aksesori, menurut dia, pengrajin hata Dusun Sukamanah membuat tas, topi, kaligrafi, bingkai foto, dan gelang.

Untuk masing-masing produk, menurut Ida, harganya berbeda karena tingkat kesulitan dan lama waktu pembuatan yang berbeda. Kerajinan paling mahal, menurut Ida adalah tas jinjing, yang ditawarkan dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sementara produk lain, seperti gelang, ditawarkan mulai harga beberapa ribu rupiah.

Keunikan kerajinan hata ini, kata Ida, tidak memakai cat atau pernis. Menurut Ida, kerajinan ini akan semakin mengkilat dengan sendirinyajika semakin banyak dipegang.

Membuat kerajinan hata, menurut Ida, gampang-gampang susah. Karena dikerjakan sebagai sampingan, Ida menggambarkan, dalam membuat satu piring hata, satu orang bisa selama satu minggu. Sementara Untuk satu tas selendang, bisa diselesaikan dengan waktu satu bulan.

Meski tergolong baru dan para pengrajinnya masih belajar, menurut Ida, sanggar mereka kini sudah sering mendapat undangan untuk mengikuti berbagai ajang pameran, seperti di Jogja, Bandung, Jakarta. Di Pangandaran sendiri, kata dia, kerajinan hata sudah diperkenalkan di hotel-hotel.

Sementara itu, Ketua Sanggar Giri Mitra Misman (50), yang juga merupakan suami Ibu Ida, respons dari pemerintah saat ini sudah ada, namun dalam pemasarannya pihak nya masih mengalami kendala.

“Inginnya dari pemerintah entah Kabupaten atau Pemerintah Provinsi itu dapat membantu untuk memasarkan, bukan sekedar sebagai ajang pameran saja, supaya pengrajin hata berjalan terus,” tuturnya.

Sekarang, kata Misman, dirinya lebih fokus untuk memperluas pemasaran dan memikirkan bagaimana caranya supaya barang diminati. Ia pun memiliki angan-angan suatu hari produk kerajinan hata dapat dipasarkan ke luar negeri.