Topik: Sejarah

Keraton Galuh Pangauban Diduga di Putrapinggan, Ini Bukti-Buktinya

  • Rabu, 16 Agustus 2017 - 20:47
  • Admin
  • dibaca 1381 kali
  • Comment

Sejumlah tim peneliti mengunjungi Situs Tamian Kuning di Desa Putrapinggan, Kec. Kalipucang. Situs tersebut diduga bekas reruntuhan keraton Galuh Pangauban. Foto: Bid. Kebudayaan Dispasbud Kab. Pangandaran.

Kalipucang, SPC – Situs Tamiang Kuning, Desa Putrapinggan, Kec. Kalipucang diduga kuat merupakan lokasi pusat Kerajaan Galuh Pangauban. Berada di puncak bukit dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut (mdpl), situs ini menyisakan sejumlah bukti.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Budaya Kab. Pangandaran Aceng Hasim yang memimpin penelusuran sejarah situs ini menerangkan,  Kerajaan Galuh Pangauban berdiri sekitar tahun 1535 M sampai 1579 M.



Kerajaan tersebut, menurut Aceng, didirikan Ratu Pucuk Umum (Raja Sumedanglarang), setelah Kerajaan Pajajaran di Bogor mengalami kemunduran, akibat pengaruh islam dari Kerajaan Banten, Cirebon, dan Bintoro Demak.

Melalui catatan tertulis yang diterima SPC, Rabu (16/8), Aceng menggambarkan, keraton Galuh Pangauban berada di puncak bukit yang dinamai Bukit Tamiang Kuning. Untuk mencapai lokasi tersebut, menurut dia, salah satu rute alternatif adalah mendaki bukit dari sektor barat, lalu melalui jalan setapak yang menanjak pada kemiringan 45 derajat, dengan ketinggian bukit sekitar 1000 m.

Di lokasi yang diduga bekas keraton Galuh Pangauban, menurut Aceng, terdapat area menyerupai lapangan seluas 50 meter persegi. Kemudian, sekitar 10 meter dari tempat tersebut terdapat gundukan tanah yang diduga bekas rumah para menteri.

Di sekeliling lokasi juga ditumbuhi tanaman bambu (Sunda=tamiang) yang sangat rimbun. Selain tanaman bambu, terdapat juga kayu rimba seperti bantaos (segel), suji, jengkol, dan albasih.

Aceng lebih jauh berpendapat, Kerajaan Galuh Pangauban didirikan, seperti namanya “Pangauban”, yaitu sebagai tempat berlindung. Sehingga, menurut dia, kerajaan dibangun di sebuah puncak bukit, yang tujuannya untuk menghindari pengaruh islam dari kerajaan dari Kerajaan Banten, Cirebon, dan Bintoro Demak.

“Dugaan saya, mengapa Kerajaan Galuh Pangauban dibangun di puncak bukit, untuk menghindari pengaruh dari kerajaan lain. Misalnya, jika ada prajurit dari kerajaan lain yang datang untuk berniat jahat, maka jika pun sampai ke lokasi maka akan kelelahan di jalan,” kata Aceng.

Aceng menambahkan, dalam rangka pertahankan diri dari kemungkinan orang-orang yang berniat jahat, disekeliling keraton ditanami bambu tamiang yang dapat dijadikan senjata tradisional, seperti halnya tombak kecil. Selain itu, di beberapa lokasi terdapat bebatuan yang diduga sebagai alat menghalau musuh.

“Pada saat kami mendaki bukit Tamiang Kuning, ternyata cukup banyak tumpukkan batu yang berserak di berbagai tempat, yang saya perkirakan itu  menjadi senjata untuk menghalau musuh. Selain itu, tanaman bambu juga bisa digunakan sebagai alat mempertahankan diri jika ada musuh yang datang,” papar Aceng.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top