Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 2): Sulit Cari Sampah, Jarang Mendengar Bunyi Klakson

0
568
Jajang Nurjaman dijamu teman-teman Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.
Jajang Nurjaman dijamu teman-teman Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.

Banyak hal yang membuat Jajang terkesan sewaktu pertama kali menginjakan kaki di Frankfurt, Jerman. Keteraturan dalam segala hal membuatnya sangat terkesan. Di sela-sela agendanya di Jerman, Jajang menceritakan pengalaman berharganya berada di Eropa atas undangan eks tamu-tamunya, warga Jerman yang pernah berlibur ke Indonesia tahun 2016 lalu.

Baca juga: Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 1): Penjual Jus Pangandaran Belajar Gratis Kelola Sampah di Jerman

“Saya sangat kagum, semua yang saya lihat sejak dari bandara sampai di kediaman teman saya sangat teratur, orang-orang bekerja profesional, budaya antri, disiplin berlalu lintas,  kebiasaan tidak membuang sampah sembarang dan banyak hal lainnya yang membuat saya sangat terkesan,” ungkapnya saat bercerita melalui sambungan telepon akhir Juli lalu.

Dikatakannya, warga Jerman sangat peduli dengan keberhasilan. Mereka tidak akan berani membuang sampah di sembarang tempat, meskipun di tempat yang jauh dari keramaian. “Jadi wajar kalau saya sepanjang jalan tidak menemukan sampah berserakan, membuang sampah pada tempatnya sudah menjadi kebiasaan buat mereka,” ungkapnya.

Jajang mengatakan, warga Jerman juga sangat disiplin dalam berlalu lintas. Ditambah lagi, aturan yang dibuat pemerintah setempat sangat tegas. “Gak ada itu yang namanya naik kendaraan ugal-ugalan, kecepatan kendaraan pun benar-benar diatur. Ada rambu-rambu yang memandu pengemudi untuk mengatur kecepatannya, seperti misalnya di jalan mana pengemudi harus melajukan kendaraan dibawah 30 kilometer, 60 kilometer atau 80 kilometer,” ungkapnya.

Jika ada pengemudi yang melanggar, Polisi akan mengirimkan surat tilang ke rumahnya lengkap dengan denda yang harus dibayarkan. “Menurut cerita teman saya, di Jerman tidak bisa nego agar gak ditilang atau bayar gak sesuai denda, surat tilang dikirim langsung ke rumah dan ada tempat khusus untuk membayarnya,” kata dia.

Jajang berfoto bersama salah seorang rekan Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.

Dikatakannya, Polisi setempat bisa mengetahui pelanggaran pengguna jalan melalui rekaman cctv. “Kalau ada yang melanggar batas kecepatan misalnya, Polisi bisa langsung mengirim surat tilang ke rumah berikut bukti rekaman cctv-nya, jadi semua sudah terintegrasi dengan sistem yang baik, gak ada celah kongkalikong,” tuturnya.

Selama beberapa hari berkendara bersama teman-teman bule nya itu, Jajang sempat heran karena jarang sekali mendengar bunyi klakson. “Takjub saya bagaimana orang-orang disini (Jerman) berkendara begitu teratur, walaupun di tempat ramai, bunyi-bunyi klakson itu hampir gak terdengar,” ujarnya.

Kemudian, warga yang menyeberang jalan juga sangat tertib, meskipun jalanan sepi, jika di tempat penyeberangan atau zebra cross lampu merah untuk pejalan kaki, maka tidak ada yang berani menyeberang. “Harus menekan dulu tombol hijau, meskipun jalanan sepi gak ada kendaraan, warga gak akan berani nyeberang sembarangan, sebegitu tertibnya warga Jerman,” ujarnya.

Menurut Jajang, warga Jerman menggunakan kendaraannya benar-benar hanya sebagai kebutuhan untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari.

“Bukan soal prestige (gengsi), warga disini tidak gonta ganti mobil atau mengoleksi beberapa mobil, bahkan mobil-mobil mereka yang menurut saya sangat mewah diparkir di pinggir-pinggir jalan, tidak dimasukkan ke garasi, kehujanan kepanasan dibiarkan saja. Pemandangan mobil-mobil mewah di pinggir jalan sudah biasa di Jerman,” ungkapnya.

Baca Juga:

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 3): Meringankan Pemerintah dengan Memilah Sampah dari Rumah

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 4): Dilayani Profesor, Kagum dengan Kerakter Warga Jerman