Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 3): Meringankan Pemerintah dengan Memilah Sampah dari Rumah

0
607
Jajang berfoto bersama salah seorang rekan Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.
Jajang berfoto bersama salah seorang rekan Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.

Perubahan cuaca di Jerman cukup ekstrim, Jajang Nurjaman yang terbiasa di Pangandaran dengan suhu rata-rata sekitar 26 derajat Celcius mengaku sempat kaget. Ia dipaksa beradaptasi dengan perubahan suhu di musim panas di sana yang mencapai 31 derajat Celcius, namun sewaktu-waktu bisa tiba-tiba turun mencapai 12 derajat Celcius.

Baca juga:

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 1): Penjual Jus Pangandaran Belajar Gratis Kelola Sampah di Jerman

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 2): Sulit Cari Sampah, Jarang Mendengar Bunyi Klakson

“Bibir saya sampai kering karena panasnya beda dengan di kita, kemudian bisa tiba-tiba berubah sangat dingin,” ungkapnya saat bercerita melalui sambungan telepon.

Dirinya tinggal secara maraton di rumah teman-temannya, dari teman satu kampung yang kini tinggal di Jerman hingga memenuhi undangan eks tamu-tamu yang pernah ia pandu saat berlibur ke Indonesia.

Saat tinggal di kota Ulm, rumah Jack Prawiranegara,  sahabatnya yang juga berasal dari Pangandaran, Jajang mengaku sempat bingung karena membuang sampah saja ada aturannya. Terdapat lima kantung plastik dengan warna berbeda untuk menampung sampah.

“Ternyata pemilahan sampah sudah dimulai dari rumah, ada kantong khusus sampah bekas makanan, plastik, kaleng, kaca dan kertas, semuanya wajib dipisah,” ungkapnya.

Menariknya, pemerintah setempat tidak memungut biaya retribusi sampah dari masyarakat. “Sampah dibuang gratis, bahkan kantong plastik untuk sampah juga diberikan cuma-cuma, pemerintah di sana mendapatkan keuntungan dari hasil recycle sampah,” kata dia.

Jajang mengatakan, petugas yang mengangkut sampah juga bekerja sigap dan disiplin. “Saya melihat sendiri meskipun hujan tetap ada yang mengangkut sampah, tiap kantong sampah  pengangkutnya juga beda sesuai warna kantung plastik, bahkan ada yang naik sepeda,” ujarnya.

Selain soal sampah, pemerintah setempat juga sangat memperhatikan penanganan limbah rumah tangga. Ada tempat khusus instalasi pengolahan limbah yang terhubung dengan rumah-rumah warga.

“Setiap rumah dipantau, tidak bisa mengalirkan limbah rumah tangganya sembarangan, harus dialirkan ke tempat pengolahan limbah dan di daur ulang, mungkin seperti IPAL (instalasi pengelolaan air limbah) kalau di Indonesia,” tuturnya.

Jajang berfoto bersama salah seorang rekan Jerman-nya. Foto: dok. pribadi Jajang.

Dikatakan Jajang, secara rutin pemerintah juga mengecek instalasi limbah rumah-rumah warga untuk memastikan tidak terjadi pencemaran lingkungan di sekitarnya.

Jajang mengatakan, warga Jerman sangat peduli terhadap kebersihan. “Pelajaran yang bisa diambil yaitu proses memilah sampah, dan itu dilakukan mulai dari sumbernya dari rumah, hotel, restaurant dan industri sehingga sampah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bukannya menjadi masalah. Pekerjaan pemerintah juga menjadi lebih ringan,” ungkapnya.

Saat jalan-jalan di sebuah ruang terbuka hijau, Jajang juga kagum dengan fasilitas publik disana. Di mana, trotoar dan jalan untuk sepeda mendapatkan tempat khusus, tempat parkir gratis, toilet bersih dan tempat sampah yang tersedia hingga ke tempat-tempat sepi yang jarang dikunjungi.

“Masuk ke kawasan  terbuka hijau sama sekali tidak di pungut restribusi masuk, tidak ada bayar toilet padahal toiletnya sangat bersih dan terawat dan disediakan toilet tissue, tidak bayar parkir, semua gratis,” ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Jajang, jauh jika dibandingkan dengan taman wisata alam yang ada di Pangandaran. “Di kita wisatawan harus bayar mahal, apalagi turis asing, ratusan ribu harga tiketnya, masih ditambah harus bayar parkir, toilet dan fasilatasnya yang sangat tidak layak,” kata dia.

Ada juga yang menarik perhatian Jajang saat memperhatikan tempat sampah. “Selain memisahkan antara sampah organik dan anorganik, ternyata ada juga tempat sampah khusus untuk kotoran binatang,” ujarnya.

Menurut Jajang, setiap warga yang memiliki binatang diharuskan membawa kantong plastik sebagai tempat kotoran. “Kalau ada yang membawa anjing kemudian buang kotoran sembarangan bisa kena denda, ada tempat sampah khusus, bahkan ada juga tong sampah yang menyediakan plastik untuk kotoran anjing,” ungkapnya.

Dikatakannya, warga dan wisatawan tidak dipungut biaya saat memasuki kawasan terbuka hijau dimana terdapat danau buatan dan area hutan kota yang sangat bersih dan sejuk. “Semua fasilitas publik disana gratis, pemerintah sebagai pengelola tempat itu mendapatkan pemasukan dari pajak masyarakat,” ungkapnya.

Baca juga: Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 4): Dilayani Profesor, Kagum dengan Kerakter Warga Jerman