Berharap Tidak Diskriminasikan, Seorang ODHA di Pangandaran Buka Status Dirinya

0
91
Dani (18) saat membuka status ODHA kepada Publik di Puskesmas Cikembulan Ciamis (9/8). Syamsul Arifin/SPC

Pangandaran, SPC – Salah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Pangandaran membuka status dirinya kepada publik.

Hal tersebut dia lakukan agar masyarakat bisa menerima dan menghilangkan diskriminiasi kepada para ODHA.

Dani(18.), ODHA asal Kabupaten Pangandaran mengaku dirinya merupakan korban kekerasan seksual saat usianya 9 tahun.

“Status Positif HIV saya ketahui saat kelas 2 SMA, saat itu ada tes di Pamugaran,” ujarnya kepada SPC, Kamis(9/8).

Untuk membuka status dirinya sebagai ODHA, ia mengaku sempat ragu, namun dukungan menyakinkan dirinya.

“Ini saya lakukan supaya masyarakat tau bahwa ODHA itu memiliki hak untuk diterima dan tidak ada diskriminasi,” tuturnya.

Dani mengaku akan meyakinkan ODHA yang lain untuk membuka status dan mengajak teman sebayanya untuk melakukan tes.

“Kan tidak menutup kemungkinan diluar sana masih banyak kasus yang sama dengan saya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Konselor Program HIV/AIDS di Puskesmas Cikembulan Ani Hendriawati menjelaskan, ODHA bukanlah orang bermasalah yang harus dijauhi, namun harus dirangkul dan diberikan semangat untuk terus hidup.

“Kan kita sesama manusia, toh ODHA juga tidak menularkan HIV secara mudah seperti halnya penularan flu,” ungkapnya.

Dengan membuka status dirinya, tutur Ani, akan membuka peluang untuk melakukan terapi kepada ODHA.

“Meyakinkan mereka untuk membuka status itu tidaklah mudah, perlu pendekatan dan komunikasi yang intens,” tuturnya.

Ani juga berharap, dukungan payung hukum dari pemerintah daerah untuk menuntaskan kasus-kasus HIV/AIDS.

“Dasar hukum dari pemerintah pusat sudah ada yaitu Permenkes nomor 21 tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV/AIDS, tinggal payung hukum dari pemda supaya kasus ini bisa tuntas menyeluruh disegala lini,” pungkasnya.