Hajat Laut Pangandaran Kini Lebih ‘Islami’

0
312
Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata saat melakukan prosesi tabur bunga pada perhelatan Hajat Laut, Selasa (11/9). Syamsul Arifin/SPC

Pangandaran, SPC – Hajat laut atau sekarang lebih dikenal dengan Syukuran Nelayan, merupakan salah satu tradisi yang terus turun temurun dan berkembang di Kabupaten Pangandaran.

Awalnya, dalam hajat laut para nelayan lazim merayakannya di bulan Muharam dengan larungan kepala kambing ataupun kepala kerbau yang menjadi ciri khas.

Kini, syukuran nelayan bergeser menjadi lebih Islami, yang sebelumnya hari Jumat kliwon selalu menjadi patokan, lalu berganti menjadi per tanggal 1 Muharam.

“Syukuran nelayan yang lebih populer dengan hajat nelayan yang berbau mistik, namun kini kami merupakan nelayan yang taat kepada ajaran agama Islam,” ungkap ketua panitia syukuran nelayan Datam Sutarjo Selasa (11/9).

Sementara, menurut Bupati Pangandaran Jeje wiradinata menjelaskan ditahun 2018 merupakan hajat laut kedua yang agendanya di tahun baru islam.

Di dalam hajat laut sekarang, kata Jeje, nilai religius dan kebangsaan dikemas menjadi satu, karena ada pengajian dan seni budayanya juga tidak tertinggal.

“Ini akan menjadi agenda tahunan Pariwisata kita, kan hajat laut mempunyai keunikan tersendiri, apalagi sekarang dengan kemasan berbeda,” tegasnya.

Satu Muharam, kata Jeje, juga merupakan peringatan waktu hijrahnya baginda rasul Muhammad SAW dari kota Mekah ke Kota Madinah dengan tujuan supaya fokus menjadi lebih baik.

“Ya tidak jauh berbeda, kita juga lakukan hijrah untuk fokus terhadap kesejahteraan dan kemaslahatan warga Kabupaten Pangandaran,” ujar dia.