Melacak Silsilah Pangandaran (2/4): Antara Kawasen dan Sukapura

0
305
Paangandaran dalam wilayah Kabupaten Sukapura dalam peta Hindia-Belanda abad ke-17. Sumber arsip gahetna.nl

oleh Andi Nurroni

Mulai akhir abad ke-16, terjadi perubahan geopolitik yang signifikan di Tanah Sunda, dipicu kekalahan Kerajaan Sunda, Galuh dan Sumedang oleh kesultanan-kesultanan Islam (Demak, Mataram, Cirebon dan Banten) serta berkuasanya VOC atas Sunda Kelapa (Batavia). Hal ini secara otomatis berdampak pada hierarkis kekuasaan di Tanah Sunda, tak terkecuali wilayah Pesisir Pangandaran.

Melalui kesultanan Cirebon dan Sumedang, Mataram menancapkan pengaruhnya atas Tanah Sunda dan beberapa kali melakukan reorganisasi wilayah. Salah satu bab penting dalam periode ini adalah dimekarkannya wilayah Priangan (Sumedang dan sekitarnya) serta Galuh pada kurun 1633-1634.

Wilayah Priangan dibagi menjadi empat Kabupaten (Ajeg): Sumedang, Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang. Sementara wilayah Galuh dibagi kedalam empat kabupaten kecil, yakni Utama, Imbanagara, Bojonglopang dan Kawasen.

Dalam fase reorganisasi wilayah ini, yang menjadi catatan penting penulis adalah terbelahnya wilayah Pesisir Pangandaran menjadi dua bagian. Wilayah timur (Kalipucang dan sekitarnya) menjadi bagian Kabupaten Kawasen, sementara wilayah barat (Cijulang dan sekitarnya) dimasukan ke dalam Kabupaten Sukapura.

Pangandaran dalam Wilayah Kawasen

Reorganisasi wilayah Priangan dan Galuh dilakukan Sultan Agung Mataram  untuk meredam potensi pembangkangan raja-raja kecil di Tatar Sunda. Sang Sultan menempatkan para menak pinilih yang telah terbukti setia terhadap Mataram.

Di antara mereka yang dipilih menjadi para bupati baru, terdapat nama Bagus Sutapura. Pada 1634, Sutapura yang sebelumnya berstatus seorang umbul (setara Wedana) di daerah Kawasen, Kabupaten Galuh, diangkat menjadi bupati dan diberikan wilayah baru bernama Kabupaten Kawasen .

Hadiah ini diberikan Sultan Mataram atas jasa Sutapura memimpin pasukan Galuh memadamkan pemberontakan Dipati Ukur yang telah gagal mengalahkan VOC di Batavia. Ketika itu, wilayah Kabupaten Kawasen sendiri (berpusat di Banjarsari), tercatat mulai dari  Pamotan (Kalipucang) hingga Bojong Malang (Cimaragas sebelah barat).

Wilayah timur Pesisir Pangandaran tetap bertahan dalam pemerintahan Kabupaten Kawasen hingga kabupaten ini dibubarkan pada 1810 oleh Pemerintah Hindia-Belanda yang telah menguasai Priangan. Pascapenghapusan Kawasen, wilayahnya dimasukan kembali ke dalam Kabupaten Galuh.

Pada 1832, wilayah Galuh bagian selatan, termasuk bekas wilayah Kabupaten Kawasen yang telah menjadi distrik-distrik mandiri, yakni Kalipucang, Cikembulan dan Parigi, telah digabungkan ke dalam Kabupaten Sukapura. Wilayah eks-Kawasen ini diserahkan kepada Sukapura atas jasa keluarga Sukapura membangun gudang garam di daeah Banjar, Kalipucang dan Pangandaran.

Surat keputusan pemerintah (besluit) Hindia-Belanda mengenai reorganisasi wilayah administratif Kabupaten Sukapura pada 1888. Sumber dokumen: delpher.nl

Pangandaran dalam Wilayah Sukapura

Berdirinya Kabupaten Sukapura pada 1633 menjadi catatan penting lainnya dalam penelusuran sejarah Pangandaran. Piagam Mataram yang mengabadikan prosesi ini menyebutkan, Kabupaten Sukapura dimekarkan dari Sumedang dengan diberikan 12 wilayah dan 300 orang (cacah).

Ke-12 wilayah tersebut meliputi Sukakerta, Pagerbumi serta Cijulang; Mandala dan Kelapa Genep; Cipinaha dan Lingga Sari; Cigugur, Parakan Tiga  dan Maroko; Parung; Karang; Bojongeureun; Suci; Panembong; Cisalak; Nagara; dan Cidamar.

Dalam daftar ke-12 wilayah tersebut, tak diragukan bahwa ‘Cijulang’ yang dimaksud adalah Cijulang di Kabupaten Pangandaran saat ini. Selain Cijulang, keberadaan wilayah bernama ‘Pagerbumi’ dan ‘Cigugur’ dalam wilayah Kabupaten Sukapura diduga kuat mengacu pada daerah-daerah di Kabupaten Pangandaran masa kini.

Wilayah Kabupaten Sukapura berdasarkan arsip statistik Hindia-Belanda. Sumber dokumen: delpher.nl

Kebersamaan Cijulang bersama Kabupaten Sukapura berlangsung cukup lama, termasuk ketika Priangan diserahkan kepada VOC oleh Mataram secara bertahap mulai tahun 1677. Keadaan yang sama masih bertahan hingga VOC dibubarkan pada 1799 dan digantikan Pemerintah Hindia Belanda.

Setelah Kabupaten Kawsen dibubarkan pada 1810 dan wilayahnya diserahkan kepada Sukapura, seluruh wilayah Pesisir Pangandaran yang saat ini menjadi Kabupaten Pangandaran adalah bagian dari Kabupaten Sukapura.

Baca juga:

Melacak Silsilah Pangandaran (1/4): Dari Catatan Bujangga Manik hingga Peta Belanda

Melacak Silsilah Pangandaran (3/4): Dari Tasikmalaya menuju Ciamis

Melacak Silsilah Pangandaran (4/4): Munculnya Nama Pangandaran