Menengok Toko Kaset Terakhir di Pangandaran

0
1085
Dedi (38), pedagang kaset terakhir di Pangandaran, menunjukan koleksi kaset dagangannya. (AN)
Dedi (38), pedagang kaset terakhir di Pangandaran, menunjukan koleksi kaset dagangannya.  (AN)
Dedi (38), pedagang kaset terakhir di Pangandaran, menunjukan koleksi kaset dagangannya. (AN)

Oleh

Andi Nurroni

Generasi muda yang hidup hingga tahun 2000-an pasti punya ikatan emosional dengan sebuah benda bernama kaset. Benda penyimpan data suara ini menjadi media hiburan penting bagi generasi zaman tersebut.

Sementara itu, toko kaset bagi sebuah kota adalah penanda peradaban. Meski jauh dari kota besar, Pesisir Pangandaran di tepi selatan Jawa Barat juga punya cerita tentang kebudayaan musik pada zaman kaset kala itu.

Beberapa toko kaset di wilayah Kabupaten Pangandaran adalah saksi bisu bagaimana anak-anak muda lokal berinteraksi dengan musik-musik dari luar sana. Entah itu musik dari ibu kota atau dari luar negeri sana.

Tapi kini zaman telah berubah. Bagi generasi muda saat ini, kaset barangkali hanya seonggok pita tak berguna. Toko-toko kaset di Pangandaran—seperti di tempat lain—juga semakin terdesak oleh jaman.

Kini hanya terlacak sebuah toko yang menjual kaset di Kabupaten Pangandaran. Hingga tahun 2000-an, toko ini boleh dibilang yang terlengkap di Pangandaran. Namun zaman telah memaksanya tiarap.

Toko yang dulu bernama “Indomusic” ini sekarang hanya memiliki koleksi satu etalase kecil kaset. Sejak dagangan utamanya berubah menjadi kacamata, nama toko pun diganti jadi “Indosunglass”.

Dedi (38), pemilik toko menceritakan, tahun 2000-an adalah era kejayaan toko kaset yang ia rintis sejak 1998 itu. Ia ingat betul pada awal tahun 2000, ia bisa menjual ratusan kopi kaset dari grup-grup musik yang meledak kala itu, seperti Sheila on 7 atau Peterpan.

“Pembeli kami paling banyak anak sekolah. Anak-anak sekolah itu dulu sangat bangga kalau bisa membeli kaset,” ujar Dedi dijumpai di tokonya, Kamis (13/10).

Dedi mengenang, ketika itu hampir setiap pekan ia menyempatkan belanja kaset ke Kota Bandung. Ratusan keping kaset ia beli dari Kota Kembang dalam seminggu. Dia mengingat, omzetnya saat itu bisa mencapai Rp 2 juta dalam sehari.

Menurunnya penjualan kaset, kata Dedi, mulai terasa pada akhir tahun 2000-an. Menurut dia, kehadiran alternatif kemasan musik cakram padat (CD/VCD) hanya berpengaruh sedikit saja terhadap kebudayaan kaset.

Faktor yang paling berdampak terhadap pudarnya budaya kaset, menurut dia, adalah kehadiran ponsel dan internet. Ponsel dan internat, kata dia, membuat anak muda dengan mudah dan gratis mendapatkan salinan musik dalam genggaman mereka.

Dedi kini mengaku hanya sambilan saja berjualan kaset. Beruntung, kata dia, masih ada orang yang membeli kaset ke tempatnya.

“Sekarang yang beli paling bapak-bapak sama ibu-ibu. Lagu-lagunya pun yang lama-lama, seperti Pance Pondaag, Iwan Fals, Ebiet G Ade,” kata bapak dua anak ini.

Jika kebetulan pergi ke Bandung, menurut Dedi, ia menyempatkan membeli beberapa keping kaset lawas untuk para pelanggan setianya. Namun begitu ia tidak yakin sampai kapan bisnisnya itu akan bertahan.

Perusahaan-perusaan rekaman, kata dia, sudah tidak lagi memproduksi kaset. Kaset-kaset yang ia beli pun, menurut dia, adalah stok-stok lama yang dikumpulkan oleh sebuah bandar di Kota Kembang sana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar anda!
Silahkan masukan nama anda di sini