Menumbuhkan Minat Baca

0
633
Gerakan gemar mebaca perlu dimulai dengan menyediakan akses masyarakat terhadap buku. (AiN)
Gerakan gemar mebaca perlu dimulai dengan menyediakan akses masyarakat terhadap buku. (AiN)
Gerakan gemar mebaca perlu dimulai dengan menyediakan akses masyarakat terhadap buku. (AiN)

oleh Ai Nurhidayat 

Ketua Yayasan Darma Bakti Karya (SMK Bakti Karya), pegiat Komunitas Belajar Sabalad

Terdapat 4 jenis keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempatnya menjadi aspek penting dalam proses literasi informasi bagi manusia. Tentu saja, salah satu dari keempat keterampilan itu bisa menonjol daripada yang lainnya sehingga dapat menjadi ciri khas sebuah masyarakat.

Membaca misalnya, merupakan hal yang umum dilakukan oleh masyarakat Jepang. Akan tetapi, di Indonesia keterampilan membaca belum menjadi tren. Masyarakat Indonesia umumnya lebih gemar berbicara dan menyimak.

Fakta itu mudah kita jumpai di tengah masyarakat kita di hampir semua wilayah. Tidak peduli suku, agama, bahasa dan etnisnya apa. Umumnya masyarakat mempraktekan keterampilan bicara atau menyimak daripada harus membaca atau menulis.

Akan tetapi, fakta sosial itu menjadi wajar ketika akses masyarakat terhadap buku bacaan terhambat lantaran tak tersedia buku secara merata. Pada tahap inilah, pemerataan perlu dilakukan agar masyarakat memiliki akses yang mudah untuk membaca.

Agar masyarakat mudah mengakses bacaan, maka diperlukan upaya untuk membuat berbagai tempat baca yang lebih mudah ditemui oleh masyarakat. Misalnya di halte, pangkalan ojek, ruang tunggu, puskesmas, pelataran tempat ibadah, kedai-kedai, hingga di setiap balai dusun. Yang terpenting adalah menyediakan akses baca lebih dekat dengan masyarakat.

Tidak cukup hanya dengan akses, upaya lain perlu dilakukan agar masyarakat gemar membaca. Dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang akan menumbuhkan minat baca misalnya dengan mengajak orang tua yang memiliki balita untuk mendongen. Atau mengadakan perlombaan mendongen yang dikemas dengan baik sehingga kebiasaan mendongen dapat diteruskan.

Di sekolah, kegiatan gemar membaca bisa dilakukan dengan membuat agen baca. Pelajar yang memiliki hobi membaca didorong agar mereka mau bicara kepada kawan-kawannya untuk membaca. Mereka ini diajak untuk berkampanye misalnya ke pelajar yang lebih junior atau ke pelajar yang lebih senior.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan taman bacaan masyarakat dan perpustakaan umum yang memiliki pengelolaan baik. Perlu diciptakan daya pikat khusus agar TBM atau perpustakaan menarik bagi masyarakat.

Akan tetapi kunci terpenting dari itu semua adalah para pegiat baca di suatu daerah perlu berkumpul berbagi pengalaman. Selain bertukar wawasan, diperlukan juga upaya saling melengkapi koleksi buku yang dimiliki.

Terakhir, tentu saja perlu ada dukungan nyata dari pemegang kebijakan. Para pegiat baca, mau tidak mau harus berkomunikasi dengan pemegang kebijakan agar gerakan membaca menjadi kegiatan yang didukung secara penuh diikuti dengan pembiayaan yang mencukupi.