Peringati 20 Tahun Reformasi, Pemuda Pangandaran Menginspirasi di Ajang MPR RI

0
154
Ai Nurhidayat saat menjadi pembicara dalam acara memeringati 20 Tahun Reformasi, Senin (7/3). Foto Istimewa

SPC, Jakarta – Reformasi menyisakan banyak pertanyaan terutama bagi pemuda yang tidak mengalaminya. Kemudian banyak yang menduga dan menyimpulkannya macam, macam. Sementara bagi sebagaian pemuda, reformasi adalah peluang untuk lebih banyak berkiprah daripada menyalahkan keadaan.

Itulah pesan dari acara peringatan 20 tahun reformasi yang diselenggarakan MPR RI bersama Tempo Media di Kompleks Parlemen Senayan, mulai 7 hingga 21 Mei 2018. Pada salah satu mata acara diskusi, pemuda asal Pangandaran, Ai Nurhidayat (28), menjadi salah satu pembicara.

Ai, mirip pemuda lain seusianya, saat reformasi terjadi, Ketua Yayasan Darma Bakti Karya ini masih kecil. Yang dirasakannya hanya kegembiraan orang orang pasca kerusuhan. Sisanya, reformasi berarti ganti Soeharto.

“Saya masih bocah pada saat reformasi, makna reformasi tidak sempat didapat dengan pengalaman kala itu. Karena itu makna reformasi diperoleh dengan banyak bertanya. Karena itu, wajar jika sedikit anak muda yang paham reformasi. Informasinya saja susah diperoleh. Terlebih yang memuat penjelasan penting di sekitarnya,” ujar Ai, bercerita kepada SPC, Rabu (9/5).

Dalam kesempatan itu, Ai lebih banyak menjelaskan tentang kiprahnya mengisi ruang reformasi dengan mereformasi sistem pendidikan di sekolah yang dinaunginya, SMK Bakti Karya Parigi. Ai membuat Kelas Multikultural dengan melibatkan siswa dari setidaknya berasal dari 11 provinsi di Indonesia.

“Bagi saya, sistem pendidikan harus direformasi juga. Mengingat banyak hal yang melenceng dari maknanya sendiri. Belakangan kerap sekolah menjadi pembatas dan melahirkan dinding pemisah antar anak bangsa yang beragam” tuturnya.
“Kita sudah lelah menyaksikan sekolah yang ketinggalan dalam metode menyambut masa depan. Karenanya saya melibatkan hampir seluruh pengajar di sekolah dengan anak-anak muda” katanya lagi.

Pada kesempatan yang sama, Ai ditemani Rosa Dahlia, seorang pemuda yang berani meninggalkan jawa untuk mengabdi di papua bertahun-tahun hingga kini dengan pendanaan sendiri. Selain itu ada Leonika Sari, pencipta aplikasi donor darah asal Surabaya yang berkisah tentang peluang anak muda untuk berkiprah mengisi reformasi. Acara itu dipandu wartawan senior tempo yang juga pada saat reformasi ikut menduduki gedung MPR RI kala itu, Efri Ritonga.

Pada kesempatan itu, Ai bersyukur reformasi pernah terjadi dan memberi kebebasan pada angkatannya untuk bebas berekspresi dan lepas dari represi pemerintah. Tapi baginya, reformasi adalah kemajuan yang tidak boleh dipahami dengan jalan mundur.

“Syukuri dan lakukan apa kehendak mudamu. Berjuanglah walau tidak wajib menang. Karena yang wajib adalah tidak lari dari masalah yang ada depan mata,” kata Ai.
Selain Ai, seorang lagi tokoh asal Pangandaran, Susi Pujiastuti yang kini diampu menjadi Menteri Kelautan, hadir di hari yang sama untuk membacakan puisi.