‘Pesona Purnama Pesisir’, Sehimpun Seni Sunda di Pantai Pangandaran

0
1079
Penampilan rajah oleh Komunitas Iket Sunda. (AN)
Penampilan rajah oleh Komunitas Karinding Sagala Awi. (AN)
Penampilan rajah oleh Komunitas Iket Sunda Pangandaran, Garut, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis. (AN)

oleh 

Andi Nurroni

Arena parkir di kawasan Pamugaran, Pantai Pangandaran yang biasanya dingin dan sepi mendadak hangat dan semarak pada Jumat (15/10) malam. Kemeriahan terasa bukan hanya karena suasana, tapi juga lantaran rasa bahagia yang menyelimuti jiwa orang-orang yang berkumpul di sana.

Kebahagiaan murah-meriah itu dirasakan warga Sunda di Pangandaran menyaksikan serangkaian pertunjukan kesenian tradisi leluhur mereka yang jarang dijumpai.

Ajang bertajuk “Pesona Purnama Pesisir” itu diprakarsai Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Pangandaran dengan dukungan Dinas Pariwisata, Perindagkop dan UMKM Kabupaten Pangandaran.

Bermacam kesenian yang bisanya tampil alakadarnya di pangung-panggung hajatan kampung, malam itu dimuliakan dengan tata panggung, lampu serta sentuhan artistik pertunjukan yang mengesankan.

Setidaknya 500 orang hadir di sana malam tersebut. Para pejabat duduk di barisan depan. Separuh hadirin mengenakan pakaian tradisional, yakni busana pangsi lengkap dengan iket bagi laki-laki, serta kebaya untuk para wanita.

Beberapa gadis berkebaya dengan senyum ramah membawakan penganan tradisional untuk hadirin. Ada bajigur serta rebusan ubi, pisang dan kacang.

Kabupaten Pangandaran barangkali tak setenar Sumedang soal kesenian tradisional. Tapi malam itu, tak hanya kekayaan seni Sunda Sumedang yang diboyong, tetapi juga beberapa seni dari daerah pasundan lainnya.

Penampilan tarawangsa oleh Komunitas Karinding Sagala Awi. (AN)
Penampilan tarawangsa oleh Komunitas Karinding Sagala Awi. (AN)

Pertunjukan dibuka dengan hantaran rajah atau mantra Sunda dalam iringan musik karinding dan instrumen bambu yang menghadirkan suasana mistis. Wangi dupa yang sesekali tercium seperti membawa alam Sunda purba ke tengah pertunjukan.

Persembahan kolaborasi pegiat Komunitas Iket Sunda asal Pangandaran, Garut, Bandung, Tasikmalaya dan Ciamis itu lalu disambung dengan seni tarawangsa oleh Komunitas Karinding Sagala Awi. Seni tarawangsa asal Tanah Sumedang ini berhasil merenggut perasaan para penonton.

Bermodal dua alat musik sederhana, yakni tarawangsa (gesek) dan jentreng (petik), nada-nada yang dihasilkan begitu meninabobokan. Mereka yang larut dalam suasana tentu merasakan jiwa tersihir oleh sebuah energi asing di depan mereka.

Apalagi ketika sepasang penari hadir di depan hadirin lalu membawakan gerakan-gerakan ritmik dan sederhana tapi begitu eksotis. Penampilan mereka membuat beberapa penonton tak kuat menahan godaan dan turut ngibing (menari) bersama mereka.

Gondang dan lebon, dua kesenian dari Pangandaran yang belakangan bangkit kembali menjadi penampilan selanjutnya. Penampilan ini dibawakan oleh Lingkung Seni Jembar Mustika dari Desa Selasari, Parigi.

Seni gondang atau perkusi lesung dan alu tampil jenaka malam itu karena dibumbui dengan sandiwara panggung mengisahkan anak yang takut disunat. Lalu juga tak kalah menghibur penampilan seni Lebon, yakni atraksi perkelahian jaman dahulu dengan iringan musik kendang penca.

Penampilan tari Sinjang Panggendam oleh Dewan Kesenian Kabupaten Pangandaran. (AN)
Penampilan tari Sinjang Panggendam oleh Dewan Kesenian Kabupaten Pangandaran. (AN)

“Saya paling suka yang berkelahi itu,” ujar Anton Svensson (20), turis Swedia, memuji pertunjukan Lebon.

Selanjutnya, penampilan Jaipong Kacapi (Lingkung Seni Dangiang Mustika Sari, Parigi), tari Sinjang Panggendam (Dewan Kesenian Kabupaten Pangandaran) dan seni Celempungan (Komunitas Karinding Sagala Awi), membuat suasana semakin panas dan meriah.

Beberapa ibu mengambil alih panggung ketika seni Celempungan, yakni ensambel instrumen bambu, memainkan lagu-lagu dangdut. Tak sedikit penonton yang tertawa terbahak karena goyangan kocak seorang ibu di panggung.

Disimpan sebagai pamungkas, seni ronggeng yang sudah tak asing bagi warga Pangandaran, sukses menarik orang-orang untuk ngibing bersama. Arena seluas dua kali lapangan badminton di depan panggung penuh dengan para penari.

Anton si turis Swedia dan temannya, Sabina (21), juga turut dalam tarian formasi berputar itu.

“Pariwisata dan budaya ini ibarat dua sisi mata uang. Pariwisata tidak boleh meninggalkan budaya jika ingin maju,” kata Edi Rusmiadi, ketua Kompepar Kabupaten Pangandaran sekaligus pemrakarsa kegiatan.

Satu hal yang dirasa kurang lengkap malam itu. Tak tampak bulan purnama di langit karena cuaca agak mendung. Namun semua cukup bersykur, tak turun hujan hingga acara rampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar anda!
Silahkan masukan nama anda di sini