Tak Ada Lagi Kepala Kerbau yang Dilarung

0
783
Iring-iringan Pesta Hajat Laut 2016. Andi Nurroni/SPC
Iring-iringan Pesta Hajat Laut 2016. (AN)
Iring-iringan Pesta Hajat Laut 2016. (AN)

Oleh

Andi Nurroni

Entah sejak kapan persisnya tradisi Hajat Laut dilakukan warga di Pesisir Pangandaran. Maman Sagiman (28) mengingat betul bagaimana ia selalu antusias jika pesta Hajat Laut tiba. Semasa kecil, Maman sempat beberapa kali ikut iring-iringan perahu hias ke tengah laut untuk melarung sesaji.

Momen itu sekaligus juga menjadi hiburan bagi keluarga dan kerabat para nelayan. Saat-saat itulah warga yang bukan nelayan bisa merasakan naik perahu dan berkeliling teluk Pangandaran.

Di dalam wadah sesaji yang terbuat dari bambu dan daun-daun kelapa atau disebut dongdang itu diletakan berbagai persembahan. Selain makanan, minuman dan buah-buahan, beberapa benda yang disakralkan adalah seperangkat busana perempuan dan satu kepala kerbau.

Sesaji itu dianggap warga sebagai ungkapan rasa terimakasih atas berkah hasil laut yang diterima nelayan, serta memohon agar usaha mereka tetap diberi kelancaran pada waktu mendatang.

Dalam keyakinan warga nelayan kala itu, sesaji itu dihantarkan untuk Ratu Roro Kidul, sosok gaib yang dianggap sebagai penguasa Laut Selatan. Di luar prosesi sesaji tersebut, doa-doa dilafalkan kepada Tuhan dengan cara Islam.

Sesaji lalu dilempar di tengah laut. Para nelayan sebelumnya sudah menceburkan diri kelaut menyambut sesaji tersebut. Mereka lalu berebut meraih benda-benda persembahan itu. Saat itu, Maman ingat betul bahwa air di sekitar tempat pembuangan sesaji dianggap bertuah untuk mendatangkan rejeki.

“Nah airnya itu terus disiramkan ke perahu mereka,” kata Maman.

Namun pesta Hajat Laut yang disaksikan Maman di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (10/6), berbeda dengan apa yang dia alami ketika kecil sampai ia beranjak remaja. Kini, tak ada lagi iring-iringan perahu hias dan prosesi mengantar sesaji. Nama kegiatan pun lalu diganti menjadi Syukuran Nelayan.

Dalam beberapa tahun terakhir, babak mengantarkan sesaji dan merapalkan mantra-mantra di luar syariat Islam menjadi polemik di tengah masyarakat. Islam sendiri menjadi agama yang dipeluk masyoritas warga.

Sebagian warga, terutama ulama, keberatan jika rasa syukur kepada Tuhan dicampuri oleh ritual-ritual yang dianggap diluar ketentuan agama. Maka sejak 2011, acara resmi pemerintah tak lagi mengadopsi model iring-iringan perahu dan melarung sesaji di laut.

Seperti peringatan Hajat Laut atau Syukuran Nelayan pada 2016 ini, format kegiatan telah diubah. Kemeraiahan iring-iringan perahu dan melarung sesaji diganti oleh pawai tumpeng dengan keranjang dongdang dan parade seni.

Ungkapan terimakasih secara adat digantikan dengan tabur bunga di laut oleh Bupati. Namun tak ingin kalah meriah dengan konsep lama, diadakan juga lomba menangkap bebek di tepi laut, yang bisa disaksikan warga dari darat.

Namun begitu, di luar acara resmi pemerintah, sekelompok nelayan dan pegiat tradisi berkukuh mempertahankan tradisi. Kelompok ini menggelar Hajat Laut di Pantai Barat Pangandaran pada keesokan harinya.

Edi Rusmiadi, Ketua Kelompok Masyarakat Penggerak Wisata (Kompepar) Kabupaten Pangandaran, yang sekaligus panitia acara menyampaikan, Hajat Laut yang digelar di Pantai Barat Pangandaran memiliki beberapa makna.

Menurut Edi, prosesi tersebut merupakan sebuah atraksi wisata yang berusaha memperkenalkan nilai-nilai tradisi kepada wisatawan. Sementera soal keyakinan, Edi menganggap, hal tersebut diserahkan kepada masing-masing orang yang terlibat.

“Yang pasti, tradisi itu harus kita rawat dan kita manfaatkan untuk kemaslahatan pariwisata,” ujar dia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Pangandaran Nana Nasirin mengaku senang karena warga kini semakin dewasa dalam memaknai tradisi dan budaya. Menurut Nana, tradisi yang cenderung bertentangan dengan agama atau syirik, seperti melarung sesaji, sudah seharusnya ditinggalkan.

“Kalaupun ada yang masih (mengantar sesaji), biarkan saja. Dalam setiap kesempatan kami akan selalu mengingatkan,” ujar Nana.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata, Perindagkop dan UMKM Kabupaten Pangandaran Soni Agusman menyampaikan, format acara Hajat Laut yang digelar pemerintah memang sengaja disesuaikan dengan aspirasi mayoritas warga.

Tak ingin kehilangan nilai wisata, menurut Soni, aspek-aspek seni-budaya tetap dipertahankan, bahkan ditambah, seperti parade tumpeng dan lomba menangkap bebek. Karena baru pertama dilakukan, Soni memaklumi jika antusiasime warga mengikuti lomba menangkap bebek masih terbatas.

Digelar di tepi Pantai Timur, prosesi utama Hajat Laut dihadiri kelompok-kelompok nelayan. Sebuah panggung didirikan memblokade jalan utama di kawasan tersebut. Di titik tersebut, dalam beberapa hari, digelar tabligh akbar dan berbagai pertunjukan seni, seperti wayang golek, ibing ronggeng dan kuda lumping.

Beberapa orang turis asing tampak tertarik menyaksikan ajang ini. Delphine (34) dan Cerdic (32), turis asal Kanada dan Perancis mengaku sangat menyukai kegiatan budaya seperti Hajat Laut. Mereka menyebut tidak sengaja menemukan agenda ini dan merasa beruntung.

“Tadi kami di depan hotel, melihat ada iring-iringan, kami lalu bertanya dan diberi tahu ada acara ini,” kata Delphine.

Sementara rekannya, Cerdic, beraharap agar mereka bisa menemukan kegiatan-kegiatan tradisi pribumi lainnya di Pangandaran yang serupa dengan Hajat Laut.

(Pernah terbit di Harian Kabar Priangan, 7 Oktober 2016)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar anda!
Silahkan masukan nama anda di sini