Tak Banyak Lagi Kalong di Langit Pangandaran

0
712
Dua remaja di Desa Pangandaran menunjukan layang-layang yang mereka gunakan menjerat kalong. (AN)
Dua remaja di Desa Pangandaran menunjukan layang-layang yang mereka gunakan menjerat kalong. (AN)
Dua remaja di Desa Pangandaran menunjukan layang-layang yang mereka gunakan menjerat kalong. (AN)

Oleh

Andi Nurroni

Ada satu pemandangan unik di langit Pesisir Pangandaran saat petang dan menjelang pagi. Pada dua waktu itu, ribuan kelalawar besar atau kalong terbang memenuhi pemandangan di langit.

Kelalawar jenis Pteropus vampyrus ini pergi dari rumahnya di kawasan Cagar Alam Pananjung pada sore hari untuk berburu makanan, lalu pulang ke kandang pada pagi hari. Parade para kalong di angkasa itu pun menjadi hiburan tersendiri bagi warga.

Namun sayang, pemandangan ribuan kalong di langit Pangandaran adalah cerita beberapa tahun silam. Massifnya perburuan kalong telah membuat polulasi hewan ini menurun drastis. Kini, hanya satu dua kalong yang terlihat melintas di langit Pangandaran.

Para pemburu kalong tak lain adalah warga Pangandaran sendiri. Di beberapa desa, seperti Pangandaran, Pananjung dan Babakan, berburu kalong menjadi tradisi di kalangan remaja setempat.

Perburuan kalong dilakukan menggunakan layang-layang dengan tali senar yang sudah diberi rentetan kail. Mereka umumnya menerbangkan layang-layang di daerah pantai. Kelihaian menjerat kalong di angkasa seolah menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak muda ini.

Hampir bisa dipastikan, praktik perburuan ini didominasi motif rekreasional. Kalong-kalong yang tertangkap biasanya dipanggang dan menjadi teman kongkow mereka pada malam hari.

Namun begitu, sesekali ada juga pihak tertarik membeli kalong hasil tangkapan para remaja ini. Sebagian masyarakat percaya, beberapa bagian tubuh kalong bermanfaat untuk penyembuhan. Seperti empedunya yang diyakini bisa menyembuhkan atsma.

Aktivitas berburu kalong dengan layangan ini umumnya dilakukan musiman. Sekali waktu anak-anak muda ini beramai-ramai mengadu keahlian menangkap kalong, lalu tren ini akan berhenti begitu saja jika mereka sudah bosan.

Perburuan kalong yang telah berlansung bertahun-tahun ini terasa dampaknya hari ini. Mulai mucul kerinduan warga melihat parade kalong di langit. Tak sedikit juga wisatawan yang penasaran hilangnya kalong-kalong yang dulu menjadi hiburan mereka.

Praktik perburuan kalong ini bukannya tak mendapatkan perhatian pihak otoritas. Sejak lama, para petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pangandaran, selaku pengelola Cagar Alam Pananjung, sering melakukan razia aktivitas perburuan tersebut.

“Tapi kami seperti kucing-kucingan. Mereka bisa berhenti ketika dirazia, lalu datang lagi di kemudian hari,” ujar Ketua BKSDA Pangandaran Yana Hendrayana, Minggu (9/10).

Mengingat para pelakukanya adalah remaja yang masih terkategori anak-anak, kata Yana, upaya menghentikan perburuan kalong dilakukan secara persuasif atau tanpa upaya hukum. Bisa jadi karena itu, kata Yana, mereka tidak jera.

Kalong yang menjadi koleksi Cagar Alam Pananjung, kata Yana, memang belum tergolong hewan yang dilindungi. Namun begitu, menurut Yana, mereka tinggal di habitat kawasan konservasi yang dilindungi undang-undang.

“Selain itu, kalong ini kan bagian dari atraksi wisata. Bahkan ada beberapa turis asing yang memprotes aksi perburuan kalong itu kepada kami,” kata Yana.

Keluhan warga yang prihatin terhadap isu kalong ini telah sampai kepada Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata. Beberapa waktu lalu, sang Bupati memerintahkan Camat Pangandaran untuk membantu BKSDA untuk menyudahi aksi perburuan kalong.

“Coba beri efek jera. Tangkap saja satu orang biar menjadi pelajaran,” ujar Bupati di hadapan para wartawan.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Pangandaran Surya Darma berpendapat, hilangnya polulasi kalong bisa mengganggu keseimbangan ekologis.

“Mereka itu kan membantu penyerbukan alami, membantu persebaran buah-buahan,” kata Surya keapada wartawan.

AK (17), salah seorang remaja di Desa Pangandaran mengaku pernah beberapa kali ikut menjerat kalong. Menurut AK, dia hanya sebatas ikut-ikutan dan untuk kesenangan semata.

“Saya pernah ikut. Pernah nyoba tapi enggak bisa (memainkan layangan),” kata siswa kelas tiga salah satu SMK di Pangandaran ini.

AK tahu, perburuan kalong dilarang. Namun ia merasa larangan tersebut belum berhasil menakut-nakuti para remaja pemburu kalong.

(Pernah terbit di Harian Kabar Priangan, 13 Oktober 2016)