Topik: Sejarah

Peneliti Temukan Keramik Cina di Situs Batu Kalde Pangandaran

  • Minggu, 15 Oktober 2017 - 16:44
  • Andi Nurroni
  • dibaca 350 kali
  • Comment

Aktivitas ekskavasi yang dilakukan tim BPCB Banten di situs Batu Kalde belum lama ini. Andi Nurroni/SPC

Pangandaran, SPC – Para peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten menemukan peninggalan keramik asing di kompleks situs Batu Kalde Taman Wisata Alam Pananjung, Pangandaran dalam aktivitas ekskavasi belum lama ini . Keramik berupa piring kecil tersebut diduga berasal dari Cina.

“Warna dasarnya putih, dengan motif biru dan ada hiasan burung,” ujar Syarif Achmadi, peneliti sekaligus Kasi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya BPCB Banten kepada SPC di lokasi ekskavasi, Kamis (12/10).

Namun begitu, Syarif meminta maaf karena keramik yang mereka temukan belum bisa dipublikasikan karena masih memerlukan penelitian lanjutan.

Selain keramik cina, Syarif melaporkan, ditemukan juga serpihan-serpihan gerabah di situs tersebut. Sayang, menurut Syarif, bentuk dan fungsi perabot gerabah belum bisa direkonstruksi karena serpihan-serpihan terlalu kecil.

Penemuan tersebut, menurut Syarif, menguatkan kesimpulan mengenai adanya aktivitas manusia di situs tersebut pada masa silam. Berdasarkan temuan para peneliti sebelumnya, menurut Syarif, situs Batu Kalde diketahui sebagai candi pemujaan umat Hindu, karena di lokasi tersebut ditemukan arca Nandi (sapi tunggan Syiwa).

Penelitian situs Batu Kalde, menurut Syarif, berarti penting terhadap upaya penelusuran peninggalan zaman klasik (kerajaan) di Jawa Barat. Pasalnya, menurut Syarif, selama ini temuan peninggalan cnandi sangat sedikit ditemukan di Jawa Barat.

“Secara karakteristik, situs Batu Kalde ini sangat menarik. Percandian umumnya berada di dataran tinggi. Tapi di sini justru terletak di daerah pantai,” kata Syarif.

Syarif lebih jauh menjelaskan, berdasarkan ekskavasi atau penggalian sementara, kompleks utama percandian diduga memiliki luas 12×12 meter. Namun di luar area tersebut, menurut Syarif, masih ditemukan struktur, sehingga kompleks situs Batu Kalde diprediksi lebih luas.

“Kita terus melakukan penggalian hingga mengetahui seberapa luas situs ini untuk mengetahui seberapa las pemagaran yang harus kita lakukan,” ujar Syarif.

Berkenaan dengan waktu pendirian candi, Syarif menyebut masih ada prosedur yang harus dilalui. Yang pasti, kata dia, situs Batu Kalde berasal dari zaman klasik atau kerajaan.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

Organisasi internasional AIDS Healthcare Foundation (AHF) turut memeriahkan ajang “2nd Pangandaran Triathlon” yang digelar di kawasan… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Puluhan atlet peserta ajang “2nd Pangandaran Triathlon” dari berbagai daerah telah hadir di Pangandaran untuk mempersiapkan… baca selengkapnya

Top