Topik: Budaya

Seniman Cijulang Ciptakan ‘Angklung Toel’  

  • Rabu, 20 April 2016 - 17:26
  • Admin
  • dibaca 1402 kali
  • Comment
Mang Koko dan angklung toel kreasinya. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Mang Koko dan angklung toel kreasinya. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Cijulang, SwaraPangandaran.Com – Alat musik angklung kini menjadi salah satu ikon kebudayaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Keberhasilan alat musik tradisional khas Jawa Barat ini menembus pentas dunia tidak lepas dari peran para seniman angklung yang terus berinovasi mengembangkan instrumen ini.

Inovasi angklung tidak hanya dilakukan para akademisi lulusan perguruan tinggi, tetapi juga para seniman di daerah. Di Kabupaten Pangandaran contohnya, ada kreasi angklung toel. Meski nama angklung toel juga digunakan di beberapa daerah lain, angklung toel buatan Koko (49), warga Dusun Cidawung, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, memiliki keunikan sendiri.

Kreasi angklung toel karya seniman yang biasa disapa Mang Koko ini mengadopsi cara kerja piano. Angklung ini memproduksi suara bukan dengan digoyangkan, melainkan ditekan. Tersedia tus-tus mewakili setiap tangga nada.

Dengan mengemas tabung-tabung angklung dalam satu perangkat kecil, angklung toel kreasi Mang Koko menjadi praktis dan cukup diamainkan satu orang saja. Memainkan alat musik ini pun tidak perlu mengeluarkan banyak energi seperti angklung konvensional, melainkan cukup menekan tuts-tuts nada dengan ujung jari.

Angklung toel Mang Koko ini tersedia dalam dua tangga nada, yakni diatonis (do-re-mi-fa-sol-la-si-do) dan pentatonis sunda (da-mi-na-ti-la-da).

Dijumpai di tempatnya di sanggarnya beberapa waktu lalu, Mang Koko mengaku berasal dari keturunan seniman Badud. Seni Badud yang juga menggukan instrumen angklung ini menjadi inspirasi Mang Koko dalam mengkreasikan angklung.

Mang Koko mengaku sejak kecil sudah akrab dengan alat-alat musik Badud. Tak hanya memainkan, Mang Koko pun mengaku sejak dulu hobi membuat alat musik. Ia mengingat, angklung pertamanya ia buat tahun 1987.

“Kalau angklung khas Badud memiliki tiga tabung, dari jaman pertama ada seni Badud angklungnya tetap tiga tabung yang memiliki ujung-ujung runcing,” tutur pria yang juga seniman Badud ini.

Tak hanya angklung, rasa cintanya terhadap musik juga mendorongnya membuat berbagai alat musik, seperti dogdog, kecapi, gamelan bahkan biola.

Dari daya kreatifitasnya sampai dapat membuat angklung toel awalnya, Mang koko mengaku, ia memikirkan bagaimana caranya angklung bisa dibuat seperti gamelan, kemudian dibuatkanlah wadah, jadilah angklung toel.

Menurut Mang Koko, alat musik buatannya itu pernah beberapa kali dipentaskan, termasuk di sejumlah stasiun televisi. Tak hanya pentas, sebagai pembuat angklung, karya-karya pria berpenampilan sederhana ini juga pernah dipesan para pelaku seni dari berbagai daerah, mulai dari Ciamis, Bandung, Sumedang, bahkan Cilacap, Jawa Tengah.

Kini, di kampungnya, Mang Koko juga membuka galeri dan sanggar musik tradisional bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menggelar kampanye pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pertunjukkan musik  Punk di… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top