Tangkal Radikalisme, Ini yang Dilakukan Aswaja NU Center Kabupaten Pangandaran

0
81
Aswaja NU Center Kabupaten Pangandaran saat menyiarkan Islam Berkebangsaan di Cigugur, Senin (7/1). Syamsul Arifin/SPC

Cigugur, SPC- Isu radikalisme menggerakan Ahlussunnah Wal Jamaah Nahdlatul Ulama Center Aswaja NU Center Kabupaten Pangandaran untuk terus menyiarkan Islam berkebangsaan hingga ke pelosok.

Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Pangandaran Rd. Muhammad Hilal Faridz Turmudzi memaparkan, jika yang dilakukan pihaknya merupakan inspirasi daripada para pendahulu.

“Orangtua dan para tokoh NU kan kalau dakwah dulu konsepnya begini, bersilaturahmi hingga ke pelosok pelosok,” ujarnya kepada SPC, Senin (7/1).

Melalui silaturahmi, juga dapat menyamakan persepsi ilmu keagamaan yang berkebangsaan di masyarakat luas.

“Kita ngaji bareng, tidak ada arahan apapun bagi masyarakat untuk terlibat dalam keberpihakan terhadap peserta politik yang sebentar lagi melakukan perhelatan,” tuturnya.

Ngaji bareng yang dinamai Halaqoh NU ini, kata dia, akan terus dilakukan setiap tanggal 6 masehi secara random di seluruh Kabupaten Pangandaran.

“Ya kami meminta dorongan do’a supaya bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi sesama, juga tetap istiqomah dalam menegakan ahlussunnah wal Jamaah,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Aswaja Center Tasikmalaya KH. Yayan Bunyamin menyampaikan, pengajian juga ditujukan untuk memperkokoh masyarakat dari isu suku, ras dan sara yang sedang mewabah di Indonesia.

“Kalau kita lihat di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Isu sara ini sudah tidak mental karena tradisi NU dirawat dengan baik. Sementara di Jawa Barat, Isu ini sangat mudah sekali berkembang biak,” tuturnya.

Dalam tradisi NU, lanjutnya, ada pemahaman yang sangat kental terus mengakar mengenai toleransi dan demokrasi.

“Di NU kita nggak bisa punya argumen ditelan mentah-mentah. Tapi harus melalui bathsul masail sebagai sarana musyawarah terlebih dahulu,” kara dia.

Toleransi bukan berarti menghalalkan segala cara dan mengatasnamakannya untuk kepentingan pribadi.

“Toleransi ini untuk menjunjung tinggi kemanusiaan dan memperkuat ukhuah bangsa,” pungkasnya.