Topik: Foto

Tukang Foto Wisata Tak Semujur Dulu

  • Minggu, 28 Mei 2017 - 21:52
  • Andi Nurroni
  • dibaca 350 kali
  • Comment

Melawan Jaman. Para juru foto wisata bersendagurau menunggu wisatawan. Maraknya kepemilikan kamera dan ponsel berkamera canggih telah mengikis penghasilan para juru foto wisata di Pantai Pangandaran. Andi Nurroni/SP.Com

SwaraPangandaran.Com – Para pemotret wisata di Pantai Pangandaran pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1970 hingga tahun 2000-an. Namun kini, nasib mereka semakin payah seiring menjamurnya kepemilikan kamera, termasuk kamera ponsel yang tak kalah canggih.

Sudir (60), salah seorang juru foto di Pantai Pangandaran bercerita, ia telah mengikuti perubahan tren teknologi fotografi sejak tahun 1970-an. Ketika menjajal usaha sebagai fotografer wisata sejak tahun 1978, para fotografer yang jumlahnya hanya segelintir orang masih menggunakan kamera Pilaroid.

Ia mengingat, para juu foto wisata ramai-ramai pindah ke kamera analog yang menggunakan negatif film pada tahun 1990-an. Selain tuntutan jaman dengan berkembangnya kamera analog, ia mengingat, para fotografer pindah ke analog karena pabrik kertas foto Polaroid di Indonesia saat itu kebakaran dan tidak asa stok di pasaran.

Tren kamera analog di kalangan pemotret wisata, kata dia, mulai bergeser ke digital sekitar pertengahan dekade 2000. Mula-mula, kata dia, para fotografer pantai menggunakan kamera saku.

“Gak lama ramai DSLR, kita ganti lagi,” ujar kakek berperawakan kecil ini dijumpai di pantai beberapa waktu lalu.

Sudir mengenang, masing-masing era punya kenangannya tersendiri. Sewaktu jaman kamera Polaroid, menurut dia, juru foto harus sangat hati-hati memfoto karena gambar langsung tercetak begitu tombol ditekan.

“Enaknya, foto langsung ada dan langsung dibayar. Waktu itu harganya masih Rp 1000 selembar, terus naik-naik sampai Rp 5 ribu,” ujar Sudir.

Kelemahannya, kata dia, foto Polaroid tidak bisa diperbesar. Karena itu, menurut dia, foto negatif film saat itu menjadi alternatif.

“Gak enaknya, kita harus cuci dulu, pas balik mau ngasih film, tamunya udah enggak ada,” kata dia.

Secara teknologi, menurut Sudir, kamera digital paling menunjang pekerjaan. Fotografer, menurut dia, bebas mengambil gambar dan memilih hasil terbaik.

Namun sisi tidak enaknya, menurut Sudir, banyak wisatawan membawa kamera sendiri, termasuk kamera ponsel. Alhasil, ia menyebut penghasilannya berkurang drastis.

“Kalau dulu, kerasa sejahteralah jadi tukang foto. Sekarang sih mungkin angkanya gede, tapi ya, nilainya sedikit,” ujar dia.

Penghasilan kotornya kini pada akhir pekan, menurut Sudir berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu.

Sudir mengaku entah bagaimana nasib juru foto wisata ke depan. Ia sadar, zaman tidak bisa ditolak dan orang-orang akan punya kamera sendiri-sendiri.

Fotografer wisata lainnya, Abdul Syukur (54) menyebut, saat ini ada 52 fotografer di pantai yang bergabung dalam Organisasi Pemotret Wisata Pangandaran (OPWP).

Mereka, kata Abdul, umumnya hanya bekerja akhir pekan. Sementara pada hari-hari biasa, kata dia, masing-masing punya sambilan.

“Ada yang punya warung, ada yang tani, ada yang dagang,” kata dia.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menggelar kampanye pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pertunjukkan musik  Punk di… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top