Topik: Kereta Api

Unik, Begini Suasana Dalam Kereta Banjar-Pangandaran Waktu Itu

  • Sabtu, 27 Mei 2017 - 21:28
  • Andi Nurroni
  • dibaca 1303 kali
  • Comment

Peserta ajang Napak Tilas Jalur Kereta Banjar-Cijulang menyusuri Terowongan Juliana di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang beberapa waktu lalu.

SwaraPangandaran.Com – Trisilo Hartono (52) masih mengingat betul suasana kereta Banjar-Pangandaran yang ia naiki beberapa kali pada tahun 1978-1979. Tri ingat benar, harga tiket dari Banjar ke Pangandaran, ketika itu sebesar Rp 125 untuk dewasa dan Rp 100 untuk anak-anak.

Hingga kini, Tri mengaku masih menyimpan potongan-potongan tiket yang ia pungut di sekitar peron tersebut. Tri sendiri menyebut, ia yang saat itu masih murid SMP tidak membayar karena memiliki kartu subsidi keluarga Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA (kini PT KAI).

“Saat itu saya ingin tahu Pangandaran. Saya pergi sendiri,” kata warga Jalan Padjajaran, Kota Bandung ini kepada SP.Com ketika mengikuti napak tilas jalur kereta Banjar-Cijulang beberapa waktu lalu.

Kereta dari Banjar ke Pangadaran, Tri melukiskan, ketika itu menggunakan satu lokomotif dan tiga gerbong berwarna hijau. Satu gerbong paling belakang, kata Tri, adalah gerbong barang yang diubah menjadi angkutan penumpang.

Di dalam kereta, Tri menggambarkan, penumpang duduk di dipan kayu menyamping. Ia mengingat, ada tiga dipan memanjang, masing-masing di kiri, kanan dan di tengah. Penumpang yang duduk di bangku tengah, kata dia, bisa sembarang menghadap, entah ke kiri atau ke kanan.

Tri mengingat, ketika itu, penumpang dari arah Banjar sebagian membawa barang belanjaan, seperti mi instan. Jika berangkat subuh dari Banjar, kata dia, ada sejumlah nelayan yang hendak melaut di Pangandaran. Menurut Tri, mereka membawa kecrik atau heurap, alat tangkap jaring tradisional.

“Pedagang asongan ada, tapi enggak banyak dan mereka sangat ramah. Kalau di stasiun, subuh-subuh mereka jualannya pakai lilin atau lampu sentir,” kata Tri yang juga bergiat di Yayasan Kereta Anak Bangsa, lembaga yang mewadahi para penggemar kereta api.

Beberapa hal mengesankan yang tak pernah ia lupa, ia menceritakan, ketika itu, selepas terowongan Wilhelmina di Kalipucang, kereta bisa dihentikan di sembarang tempat. Saat itu, ia bahkan melihat penumpang membawa batang-batang pohon bambu dan menaikannya ke atas gerbong.

“Pas musim liburan, saya juga pernah dari Pangandaran ke arah Banjar duduk di atas gerbong, karena saat itu penuh sekali,’ ujar pria 52 tahun ini.

Tri mengaku merasa beruntung pernah merasakan naik kereta ke Pangandaran. Karena tak di sangka, jalur berpemandangan indah itu ditutup tak lama kemudian. Rute Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1979 dan Jalur Banjar-Pangandaran menyusul dihentikan pada 3 Februari 1981.

Mendengar rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini, Tri sangat senang dan tak sabar kembali merasakan naik kereta ke Pangandaran. Ia berharap, rencana tersebut tak sebatas wacana, tapi benar-benar terealisasi.

Rekan Tri, Intrias Herlistiarto dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Bandung, juga mengaku sangat antusias mendengar rencana reaktivasi jalur yang dianggapnya legendaris ini. Menurut Tri, reaktivasi jalur Banjar-Pangadaran atau dulu disebut jalur Ban-Ci, sangat menjanjikan, mengingat tingginya potensi ekonomi dan pariwisata di daerah Pangandaran.

“Banyak teman-teman saya orang Belanda yang tertarik datang ke Pangandaran. Mereka mengaku akan sangat suka kalau bisa naik kereta,” ujar Intrias.

Kereta Banjar-Cijulang, kata dia, bisa menjadi jalur wisata. Wisatawan dari arah barat, menurut Intrias, bisa singgah dulu ke Pangandaran sebelum melanjutkan ke Jogja atau Solo.

Turut menghadiri kegiatan, Kepala Daerah Operasi II Bandung PT KAI Saridal membenarkan, saat ini Pemerintah Pusat tengah merencanakan reaktivasi seluruh jalur kereta non-aktif, termasuk jalur Banjar-Cijulang.

“Kemarin pertamuan dengan Bu Menteri BUMN, dia berharap sebelum 2019 (jalur-jalur itu) sudah bisa digunakan,” kata Saridal.

Ia melaporkan, proses studi kelayakan atau feasibility study (FS) jalur Banjar-Cijulang sudah diselesaikan dan akan masuk pada tahap detil rancangan teknis atau detail engineering design (DED).

Untuk menyiapkan pengaktifan ulang atau reaktivasi, menurut Saridal, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan aset. Ia menyayangkan, kini, sebagian aset tanah PT KAI di jalur Pangandaran-Cijulang dikuasai warga.

Selain tanah, menurut Saridal, aset lain, seperti rel dan baja jembatan, juga sebagian besar telah hilang. Dan jikapun reaktivasi akan dilakukan, menurut dia, konstruksi jembatan lama, seperti Jembatan Cikacepit, tidak akan bisa digunakan lagi karena telah lapuk.

Editor: Andi Nurroni

Peduli HIV/AIDS Bersama AHF

AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menggelar kampanye pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pertunjukkan musik  Punk di… baca selengkapnya

Kiprah

Oejeng Soewargana (baca: Uyeng Suwargana) adalah seorang tokoh Pasundan terkemuka pada dekade-dekade pergolakan kemerdekaan Indoensia. Di… baca selengkapnya

Infotorial

Komunitas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Galuh, bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Purbahayu, menggelar… baca selengkapnya

Top