Mencari Julukan untuk Pangandaran

0
3192
Logo Kabupaten Pangandaran
Logo Kabupaten Pangandaran
Logo Kabupaten Pangandaran

Oleh: Andi Nurroni

(Wartawan Swara Pangandaran)

 

Setiap kota memiliki julukan masing-masing. Bandung, misalnya, mempunyai julukan “Kota Kembang”. Bogor ” Kota Hujan”, Cirebon “Kota Udang”, begitu juga kiranya kota-kota yang lain.

Sebagainya daerah otonom baru, Kabupaten Pangandaran -rasanya belum memiliki julukan. Lantas, apa julukan yang kira-kira pantas disematkan pada Kabupaten Pangandaran?

Julukan bagi suatu daerah umumnya lahir sebagai kesan manusia atas karakter wilayah yang ditinggali atau disinggahi. Karakter tersebut bisa mengenai kondisi tempat/alamnya, sosio-kultur penduduknya, sejarahnya, kulinernya, flora-faunanya, serta berbagai kekhasan lainnya.

Bandung disebut Kota Kembang karena alamnya yang asri dan banyak ditumbuhi bunga-bunga. Bandung juga mendapat julukan ” Parijs van Java” dari orang-orang Belanda karena kecantikannya dianggap menyamai Kota Paris di Perancis. Julukan tersebut merujuk pada kekhasan tempat/alam Bandung.

Contoh-contoh kota yang mendapat julukan berdasarkan karakter sosio-kultur penduduknya, misalnya adalah Jombang dan Tasikmalaya yang sama-sama mendapat julukan “Kota Santri”. Hal ini karena karakter masyarakat mereka yang religius dan banyaknya pesantren di dua Kota tersebut.

Kota-kota yang mendapat julukan karena kekhasan sejarahnya, misalnya adalah Kota Surabaya. Surabaya dijuluki “Kota Pahlawan” karena sejarah heroik warga kota tersebut melawan penjajah dan banyaknya nama-nama besar pahlawan dari kota tersebut.

Ada juga kota yang mempopulerkan julukan berdasarkan sejarah kerajaan pada masa lalu di daerah tersebut. Seperti Palembang yang menyebut dirinya “Bumi Sriwijaya” atau Banyuwangi yang mendapat julukan “Bumi Blambangan”.

Sementara kira-kira yang mendapat julukan berdasarkan kulinernya, misalnya adalah Jogjakarta (Kota Gudeg), Malang (Kota Apel) dan Garut (Kota Dodol). Kota-kota tersebut mendapatkan julukan demikian sebagai pemilik kuliner-kuliner khas tersebut.

Selain julukan dari masyarakat, pemerintah kota/kabupaten juga biasanya menetapkan julukan secara resmi. Jika oleh publik Kota Bogor disebut “Kota Hujan”, Pemerintah Kota Bogor sendiri memasang semboyan “Bogor Kota Beriman”.

Atau pemerintah daerah juga bisa mengkarkterisasi daerahnya melalui program-program yang dimiliki. Misalnya Sidoarjo yang melabeli dirinya “Kota UKM” karena banyaknya pelaku UKM di sana dan pemerintah setempat fokus menguatkan UKM melalui program-program mereka.

Satu kota memang bisa memiliki lebih dari satu julukan. Terlebih kota yang memiliki sejarah panjang. Bagi kota/kabupaten yang baru berdiri, memunculkan dan mempopulerkan julukan kepada publik luas merupakan pekerjaan rumah.

Selain dari pemerintah, masyarakat tentu bisa turut menyumbang gagasan. Sebagainya ikhtiar, tulisan ini ingin mengajak warga Pangandaran untuk memulai diskusi soal julukan ini. Apa kira-kira julukan yang cocok untuk Pangandaran?

Kita mungkin bisa memulainya dengan menjawab pertanyaan, apa yang paling khas dan paling mewakili Kabupaten Pangandaran? Apakah itu karakter tempat/alam, kuliner, flaura-fauna, sosio-kultur atau apa?

Mari kita diskusikan beberapa kemungkinan. Kalau mengambil karakter tempat/alam misalnya, apa yang paling mewakili Pangandaran? Apakah itu pantai, laut atau yang lain? Kalau pantai dan laut, rasa-rasanya ini tidak khas karena banyak daerah-daerah lain yang juga punya pantai dan laut.

Dari segi sosio-kultur, silakan direnungkan bagaimana kehidupan dan karakter masyarakat Pangandaran. Karena Pangandaran didominasi daerah pesisir, sebagian masyarakat Pangandaran adalah nelayan. Apakah nelayan mewakili Pangandaran? Tapi lagi-lagi banyak daerah lain juga memiliki masyarakat nelayan.

Dari segi sejarah, catatan historis yang menyebut pernah ada kerajaan bernama Pananjung, mungkin bisa menjadi pintu masuk. Jika sejarah tersebut benar-benar otentik, bisa saja Pangandaran menyebut dirinya “Bumi Pananjung”.

Nama Pananjung juga tidak terlalu asing karena kini menjadi nama hutan konservasi yang juga menjadi ikon Pangandaran. Namun demikian, pilihan ini tentu perlu penguatan riset sejarah yang mendalam.

Jika mengambil karakter kuliner, apa yang paling mewakili Pangandaran? Jambal roti, pindang gunung, atau yang lain? Nama-nama julukan yang bisa dibuat misalnya Pangandaran “Kota Jambal Roti” atau Pangandaran “Kota Pindang Gunung”. Sekilas, sebutan-sebutan itu memang terdengar lucu. Tapi ini tentu hanya masalah kebiasaan.

Kalau itu flora-fauna, beberapa opsinya bisa kelapa, raflesia atau gula kelapa. Silakan dicoba, apakah sebutan-sebutan ini pantas dan enak: Pangandaran “Kota Kelapa”, Pangandaran “Kota Raflesia” atau Pangandaran “Kota Gula Kelapa”.

Di samping opsi-opsi tersebut, pemerintah daerah juga bisa merangkai julukan-julukan kreatif sejalan dengan visi-misi atau program mereka. Misalnya Pangandaran “Surga Liburan”, Pangandaran “Kota Sepeda” atau yang lainnya.