Agus Rikki, Ekspresikan Cinta Pangandaran lewat ‘Perahu Pinisi’

0
360
Miniatur Kapal Pinisi Buatan Agus. Andi Nurroni/SPC

Perkenalan Agus Rikki Sencaky (53) dengan Pantai Pangandaran terjadi pada 1971, atau hampir setengah abad lalu, ketika ia masih kanak-kanak. Menginjak usia remaja, melancong ke Pantai Pangandaran seolah menjadi rutinitas wajib bagi lelaki asal Kota Bandung ini.

Perlahan, rasa cintanya terhadap Pantai Pangandaran semakin besar, terlebih setelah dia keranjingan hobi memancing. Rasa cinta Agus terhadap alam Pangandaran juga yang telah memberinya inspirasi menekuni hobi baru: membuat miniatur perahu pinisi.

Agus yang kini tinggal di Pangandaran bercerita, ia datang kembali ke Pangandaran beberapa bulan lalu, setelah ditinggal wafat sang Istri. Untuk menyambung hidup, Agus mencari uang dengan ikut melaut bersama teman-teman lamanya di Pangandaran.

Mengenai miniatur perahu pinisi buatannya, Agus bercerita, sebenarnya kerajinan itu ia buat untuk mengobati kebosanannya di sela aktivitas melaut. Secara kebetulan, kata dia, di sekitar tempat kontrakannya, ada penjual kue surabi yang selalu menumpuk kayu-kayu bakar dalam jumlah banyak.

“Iseng-iseng lah saya buat. Ada kayu Albiso, ada tripleks bekas, bambu, saya pakai,” ujar Agus di jumpai di sekitar tempat tinggalnya belum lama ini.

Perahu pinisi pertamanya, kata Agus, selesai dalam waktu sebulan, yang ia kerjakan paruh waktu. Tak disangka, karya Agus mendapat apresiasi teman-temannya di kota. Ia bahkan menerima beberapa pesanan sekaligus dari Bandung dan Jakarta.

Perahu pinisi buatan Agus memang terbilang detail. Agus yang sebelumnya menekuni seni dekorasi dalam ajang-ajang festival dan produksi film memang mencintai dunia hasta karya.

“Sebenarnya saya buat ini (pinisi) iseng aja. Saya sih beraharap ada anak-anak muda di Pangandaran yang mau belajar dan mengembangkan usaha ini,” kata dia.

Namun sayang, menurut Agus, beberapa pemuda yang dia ajak, tampak tidak tidak tertarik karena mereka berpikir penghasilan yang didapat tidak seketika. Agus pun kini mengaku agak kebingungan mengerjakan pesanan demi pesanan yang terus datang.

Agus menceritakan, untuk membuat kerajinan kapal pinisi hanya perlu ketekunan. Modal sendiri, menurut dia, bukan menjadi kendala utama, karena sebagian material diambil dari limbah.

“Yang harus dibeli paling lem korea, kain layar, sama tali-tali jaring, tapi itu murah,” kata ayah satu anak ini.

Saat ini, Agus menyebut, dirinya membuat dua prototipe. Pinisi berukuran besar, dengan panjang 60 cm dan tinggi 60 cm, menurut Agus, dibanderol dengan harga Rp 2,5 juta. Sementara ukuran di bawahnya, panjang 50 cm dan tinggi 40 cm, dia patok dengan harga Rp 1,5 juta.

“Sebenarnya saya patok harga itu, karena karya sejenis di internet di jual jauh lebih mahal. Sebagai barang seni, saya pikir sah-sah saja,” ujar dia.

Selain membuat miniatur perahu pinisi, Agus pun menyebut kini tengah mengerjakan beberapa kerajinan lainnya, seperti plakat ukiran kayu serta popper atau umpan ikan buatan.