Anak Sumatera hingga Papua Akan Sekolah Gratis di Pangandaran

0
2108
Sejumlah siswa dan pengajar SMK Bakti Karya berfoto seusai sesi kelas multikultural. (Dokumentasi SMK Bakti Karya).
Sejumlah siswa dan pengajar SMK Bakti Karya berfoto seusai sesi kelas multikultural. (Dokumentasi SMK Bakti Karya).
Sejumlah siswa dan pengajar SMK Bakti Karya berfoto seusai menyelenggarakan Peace Camp, persiapan kelas multikultural. (Dokumentasi SMK Bakti Karya).

Parigi, SwaraPangandaran.Com – SMK Bakti Karya Parigi, Kabupaten Pangandaran, tengah melakukan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan. Sekolah ini  sedang menyiapkan pendidikan gratis dengan pendekatan multikultural bagi anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia.

Lembaga pendidikan yang dimotori anak-anak muda ini menargetkan membiayai 25 siswa dari berbagai sudut Nusantara untuk bersekolah di Pangandaran. Untuk mewujudkan cita-cita mereka, saat ini pihak Yayasan Darma Bakti Karya, lembaga yang menaungi sekolah tersebut, tengah melakukan penggalangan dana.

Ketua Yayasan Darma Bakti Karya Ai Nurhidayat menyampaikan, dari 25 siswa yang ditargetkan, hampir setengahnya sudah terverifikasi dan sisanya dalam proses komunikasi.

Mereka yang sudah siap berangkat, menurut Ai, berasal dari Kabupaten OKU Timur (Sumatera Selatan),  Kabupaten Nunukan (Kalimantan Utara), Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata (NTT), serta Kabupaten Yalimo (Papua).

Menurut Ai, demi mengundang anak-anak Nusantara belajar di Pangandaran, pihaknya aktif melakukan kampanye melalui website, media sosial serta berbagai jaringan pertemanan. Kampanye dilakukan, kata dia, untuk mendapatkan relawan dan donor yang siap mendukung program ini.

“Relawan mulai dari yang mencari dan mengirimkan anak, mendanai anak-anak itu sampai ke Pangandaran, sampai donor yang membiayai pendidikan mereka selama di sini” kata Ai, dijumpai di SMK Bakti Karya di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Senin (6/6).

Upaya penggalangan dana, menurut Ai, dilakukan dari mulai melalui situs pengumpul donasi (crowdfunding), hingga presentasi di hadapan NGO donor, perusahaan serta lembaga-lembaga pemerintah. Ia menyampaikan, sejumlah pihak telah memberikan respons positif untuk terlibat dalam proyek tersebut.

Ai menjelaskan ke-25 anak dari berbagai daerah di Indonesia akan mendapatkan beasiswa pendidikan penuh selama tiga tahun. Anak-anak itu, kata Ai, akan dilebur ke dalam dua kelas, dan disatukan dengan siswa-siswa dari Pangandaran.

Ai bercerita, pembelajaran akan dimulai pada Agustus tahun ini. Untuk itu, kata dia, pihaknya sedang giat-giatnya melakukan pendekatan ke banyak pihak untuk turut mendanai proyek ini. Ai merinci, untuk membiayai proyek pendidikan multikultural, pihaknya membutuhkan Rp 769 juta per tahun.

“Potensi pemasukan kita hanya 10 persen. Tapi kita yakin banyak yang akan bantu, karena proyek ini seperti kecil tapi berdampak besar,” kata Ai.

Ia menjelaskan, pendidikan dengan pendekatan multikultural yang akan diselenggarakan merupakan model pendidikan baru, di mana anak sedari dini diperkenalkan pada kemajemukan. Melalui pendidikan multikultural, Ai menyampaikan, diharapkan hadir duta-duta perdamaian Indonesia di masa depan.