Balap Merpati, Hobi Unik Warga Pesisir Pangandaran

0
3428
Penghobi balap merpati di Pangandaran. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Penghobi balap merpati di Pangandaran. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Penghobi balap merpati di Pangandaran. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Adu balap burung merpati merupakan salah satu hobi unik yang memasyarakat di kawasan Pesisir Pangandaran. Hiburan rakyat yang satu ini telah digemari warga Pesisir Pangandaran sejak jaman dahulu.

Hingga kini, adu balap merpati masih tetap lestari, bahkan terus mengalami perkembangan. Para pencinta burung merpati balap biasa berkumpul di arena-arena yang disebut kalangan.  Sejak siang hingga sore, para pencinta merpati balap akan berkumpul untuk melatih merpati-merpati jagoan mereka.

Di Kecamatan Pangandaran, dua kalangan yang saat ini selalu sibuk diserbu para pencinta merpati adalah Kalangan Karangsari di dekat SMKN 1 Pangandaran dan Kalangan Lapangan Wonoharjo. Selain dua itu, ada juga Kalangan Bukit Indah di Putrapinggan, yang masuk ke wilayah Kecamatan Kalipucang.

Ketiga kalangan ini, setiap dua minggu sekali bergiliran mementaskan kontes balap merpati. Tak hanya kontes-kontes lokal, komunitas pencinta merpati balap juga kerap menyelenggarakan kontes tingkat nasional.

Kontes nasional memang memungkinkan digelar di Pangandaran, mengingat posisi Pangandaran sebagai salah satu “pemain” penting dalam kancah adu balap merpati di Jawa Barat, bahkan di tingkat nasional.

Balap Merpati ‘Tempoe Doeloe’

Sudah sejak lama, masyarakat Pangandaran, terutama di Kecamatan Pangandaran, menggemari hobi balap merpati. Memelihara merpati balap telah menjadi kegemaran banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Parsono (66), warga desa Purbahayu contohnya, pada usianya yang sudah senja, ia masih sering datang ke pe-kalangan untuk bermain merpati. Sebagai penghobi merpati balap yang terbilang senior, Parsono mengetahui betul bagaimana perkembangan hobi balap merpati di Pangandaran.

“Dahulu dari sekitar tahun 1980-an, yang banyak dara rumahan. Dara rumahan bisa darimana saja menerbangkannya. Yang pulang ke rumah duluan, paling cepet itu yang menang. Dulu seringgnya menerbangkan Merpati dari Karang Nini dan Padaherang, ” ujar Parsono dijumpai di Kalangan Karangsari belum lama ini.

Dulu cara menerbangkan Merpati rumahan seperti itu disebut kentongan. Merpatinya juga disebut merpati kentongan, karena mungkin dulu supaya merpati mau turun diberi kode dengan menggunakan suara.  

Parsono berkisah, menerbangkan merpati rumahan dari jarak yang jauh bukannya tanpa risiko. Terkadang, ia berkisah, merpati sering kabur kalau gagal menemukan jalan pulang. Selain menerbangkan merpati rumahan dari jarak jauh, menurut Parsono, selanjutnya berkembang adu balap merpati.

Berbeda dengan balap merpati hari ini yang jarak tempuhnya jauh atau disebut “merpati tinggi”, dulu lebih populer balap merpati datar. Kontes yang satu ini, menurut Parsono, menerbangkan dua atau lebih merpati di atas permukaan tanah di arena terbuka. Kontes ini, menurut Parsono jaraknya hanya beberapa ratus meter saja.

Dara (merpati) balap datar sekarang jarang setelah banyak muncul kalangan. Balapnya di sawah atau di jalan yang kosong yang nggak ada orang lewat. Kalangan baru ada akhhir tahun 90-an.” tutur Ki Parsono yang mengaku menggemari merpati sejak kecil ini.

Parsono bercerita, merpati yang bagus untuk terbang tinggi biasanya yang berekor pendek, bulunya kaku, serta lubang duburnya (wangkong) sedang. Sedangkan untuk merpati balap datar, menurut Parsono, adalah merpati dari Madura yang bentuknya agak kecil.

Di Pangandaran, merpati disebut dalam dua nama, yakni japati (Sunda) atau dara (Jawa). Seperti hewan-hewan kesayangan lain, merpati-merpati ini juga diberi nama. Di luar nama-nama kesayangan yang diberikan sang pemilik, merpati-merpati ini juga disebut berdasarkan kategori warna bulunya.

Sebutan-sebutan berdasarkan warna bulu tersebut adalah kelawu (abu-abu), gambir (merah gelap), tritis (hitam abu-abu), megan (abu-abu dengan larik hitam), kelawu silver (campuran abu-abu dan silver), serta bata pangkat (berlarik-larik merah).

Di antara warna-warna merpati balap, jenis warna yang kurang disukai para penghobi merpati balap adalah brontok atau putih totol-totol hitam. Selain itu, ada juga jenis merpati yang unik, yang disebut cito, yakni yang di atas kepalanya ada sedikt bulu jambul.