Balawista, Kisah Persaudaraan Bali dan Pangandaran

0
896
Skuat Balawista Kab. Pangandaran. Foto: Balawista
Skuat Balawista Kab. Pangandaran. Foto: Balawista

SwaraPangandaran.Com – Jauh sebelum Indonesia merdeka, pantai-pantai di Kabupaten Pangandaran telah menjadi jujugan para pelancong. Tak hanya menikmati panorama alam, para wisatawan seolah tak lengkap jika tidak menceburkan diri ke laut dan “bermain-main” dengan gelombang.

Sayang, tidak semua titik kawasan pantai di Kabupaten Pangandaran bisa diakses untuk berenang. Meski telah ditempatkan berbagai rambu peringatan, selalu saja ada yang melanggar. Akibatnya, tak jarang liburan yang seharusnya menyenangkan berujung dengan maut.

Namun risiko kecelakaan laut ini dapat ditekan dengan kehadiran Badan Penyelamat Wisata Tirta atau Balawista. Tim ini yang selalu sigap menyelamatkan para wisatawan yang mendapat kesulitan ketika berenang di pantai.

Bagaimana perjalanan tim yang sering disebut ‘penjaga pantai’ dan ‘lifeguard’ ini? Berikut SP.Com menggali kisah mereka. Menurut Dodo, sebelum ada Balawista, sejumlah nelayan penyelam di Pantai Pangandaran memiliki komunitas penyelamat yang dinamai SAR Alam.

Namun begitu, pada saat itu, peran SAR Alam sangat terbatas, yakni hanya para proses pencarian dan evakuasi korban tenggelam. Gayung bersambut, tahun 1995, ada pihak di Pangandaran yang meminta tim Balawista Kabupaten Badung, Bali untuk memberikan pelatihan penyelamatan air untuk para pemuda di Pangandaran.

Usai pelatihan yang melibatkan 70-an pemuda ini, kata Dodo, sejumlah peserta merasa perlu menindaklanjuti secara serius membentuk tim penjaga pantai. Terinspirasi dari organisasi Balawista di Badung, Bali, anak-anak muda yang telah mendapat pelatihan ini kemudian meminta arahan kepada Balawista Bali untuk membentuk organisasi sejenis.

“Kita minta izin juga menggunakan naman Balawista. Kita diberi modal satu torpedo sama papan malibu waktu itu” ujar Dodo ditemui di kantor Balawista belum lama ini.

Demi mendapat sertifikat kehalian penyelamatan, kata Dodo, beberapa kali anggota mereka dikirim ke Bali untuk mengikuti pelatihan

Keberadaan Balawista pada masa awal pembentukan, kata Dodo, hanya bersifat sukarela. Mereka, ia menceritakan, hanya berjaga Sabtu-Minggu dengan perlengkapan alakadarnya.

“Kantor kami ya di warung atau di bawah pohon di depan hotel,” kata Dodo.

Namun secara perlahan, menurut Dodo, kiprah Balawista mulai dirasakan masyarakat dan dilirik pemerintah. Namun saying, menurut Dodo, bantuan dari pemerintah sangat minim, sehingga pengembangan dan pelayanan organisasi terhambat.

Sempat, kata Dodo, timnya melakukan protes kecil. Karena tidak mendapatkan sokongan anggaran yang memadai, para penjaga pantai mengurangi jangkauan penjagaan. Terbukti, kata Dodo, pada tahun 2000-an, setidaknya 12 orang meninggal karena tenggelam di daerah yang tidak dijaga.

Skuat Balawista Kab. Pangandaran melakukan briefing sebelum bertugas. Foto: Balawista

“Dari sana Pemerintah memerhatikan serius kami. Bupati Ciamis waktu itu bahkan memanggil langsung kami untuk berkoordinasi,” kata Dodo.

Semakin hari, kata Dodo, peran Balawista secara organisasional semakin mapan. Terlebih hari ini, menurut dia, Bupati Pangandaran sangat memerhatikan kelangsungan organisasi Balawista.

“Pemkab Pangandaran bahkan sadar bahwa yang harus dijaga tidak hanya pantai, tetapi juga obyek-obyek wista sungai. Kami memberi pelatihan kepada mereka,” ujar Dodo.

Dukungan pemerintah yang semakin baik, kata Dodo, terlihat dari ketersediaan sarana dan prasaran yang semakin menunjang. Saat ini, menurut dia, setidaknya Balawaista Kabupaten Pangandaran memiliki empat unit mobil operasional, tiga buah sepeda motor, ATV, jetski, perahu karet dan sejumlah perlengkapan lainnya.

Dengan keterampilan personel yang semakin matang dan ditunjang dengan peralatan yang memadai, kata Dodo, terbukti pencapaian Balawista Pangandaran semakin baik. Semakin kemari, kata dia, angka kecelakaan maut berhasil semakin ditekan.

Balawista Pangandaran, menurut Dodo, saat ini boleh disebut salah satu lembaga penyelamat kawasan pantai yang menjadi rujukan. Balawista Pangandaran, menurut Dodo, memiliki tiga orang instruktur bersertifikat internasional.

Dengan modal ini, kata dia, Balawsita Pangandaran juga turut terlibat membidani sejumlah organisasi penyelamat pantai di Pulau Jawa.  Balawista Pangandaran juga terakhir memenangi kejuaraan adu ketangkasan penyelamatan air tingkat nasional yang sebelumnya selalu didominasi tim Balawista Bali.

Kini, kata Dodo, Balawista Pangandaran juga menjalin relasi langsung dengan International Surf Lifesaving Association (ISLA) dan International Life Saving (ILS) Federation. Bahkan, kata dia, sudah dua kali ISLA memberikan pelatihan di Pangandaran.

Dari sisi kesejahteraan, menurut Dodo, Balawista Pangandaran juga relatif lebih baik. Kini, kata Dodo, Pemkab Pangandaran mengangkat 40 orang tim Balawista Pangandaran dengan status pekerja kontrak.

Dari jumlah 40 orang itu, menurut dia, 36 bertugas di Pantai Pangandaran, 4 di Pantai Batukaras. Dodo berharap, beberapa pantai juga segera diperkuat dengan personel Balawista, seperti Pantai Karapyak dan Madasari.