Balawista, Para Pahlawan Tepian Laut

0
679
Skuat Balawista Kab. Pangandaran menjalani latihan fisik. Foto: Balawista
Skuat Balawista Kab. Pangandaran menjalani latihan fisik. Foto: Balawista

SwaraPangandaran.Com – Penjaga pantai barang kali sebuah profesi asing bagi banyak orang. Bagaimana orang-orang tersebut memilih pekerjaan yang cenderung berisiko tersebut dan bagaimana mereka melewati pekerjaan mereka sehari-hari? SP.Com memotret kisah para pahlawan tepian laut ini.

Kepala Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Pangandaran Dodo Taryana menceritakan, lata belakang para penjaga pantai ini umumnya adalah anak-anak muda yang hidup di pesisir pantai, entah anak nelayan, penghobi selancar atau mereka yang suka beranang.

Mereka yang tergerak untuk mengabdikan dirinya, kata Dodo, kemudian bergabung dengan tim Balawista. Para penjaga pantai ini, kata Dodo, menyadari sebagian dari pekerjaannya bersifat sosial.

“Kami merasa senang dan merasa berguna kalau bias menyelamatkan nyawa orang,” ujar Dodo ditemui di kantor Balawista belum lama ini.

Setiap kegagalan penyelamatan, kata Dodo, menjadi pukulan telak bagi tim. Ia mencontohkan, pernah anggotanya gagal menyelamatkan korban yang tinggal beberapa jarak lagi darinya.

“Pas diraih si korban meninggal, anggota kami mengalami trauma berkepanjangan, mungkin karena merasa gagal,” kata Dodo.

Karena mencintai pekerjaan ini, kata Dodo, para anggota penjaga pantai menerima takdir sebagai “anak pantai”. Mereka rela membiarkan tubuh terpanggang matahari, hal yang sangat dihindari orang pada umumnya.

Meski demikian, Dodo bersyukur, di Kabupaten Pangandaran, pekerjaan penjaga pantai mendapat cukup penghormatan dari masyarakat. Hal itu, kata dia, menjadi kebanggan tersendiri bagi para anggota.

Para penjaga pantai selama ini memang dikenal ramah. Mereka menjadi teman para wisatawan, termasuk turis-turis asing.

“Meski pun berkomunikasi seadanya, para penjaga pantai bias berteman baik dengan bule-bule. Kadang mereka (bule) minta diajarin selancar atau ditemani jalan-jalan. Ya, terkadang, ada juga mereka yang pacaran,” kata Dodo seraya tertawa.

Kepuasan lain menjadi sorang penjaga pantai, menurut Dodo, adalah ketika bias mengarahkan orang dan menjauhkan orang dari risiko bahaya. Begitupun sebaliknya, para penjaga pantai sering kesal jika ada wisatawan yang ngotot, bahkan cenderung melecehkan pekerjaan mereka.

“Dulu kami keras, kalau mereka ugal-ugalan kita pukul. Sekarang enggak, yang penting kita beri tahu,” kata dia.

Menjadi penjaga pantai, kata Dodo, adalah pilihan hidup bagi anggota Balawista. Segala risiko, kata dia, diterima dengan rasa bangga dan sikap kerelaan berkorban untuk orang lain.

Yoga HIdayat (21) mengaku bangga menjadi personel Balawista. Anak muda lulusan SD merasa terhormat menjadi seorang penjaga pantai.

“Saya senang bisa menyelamatkan orang lain,” ujar Yoga yang sebelumnya bekerja menyewakan selancar di Pantai Batukaras ini.