[Cerpen] Amplop Bos Karso

0
951
Ilustrasi: harianrakyatbengkulu.com/kompasiana.com
Ilustrasi: harianrakyatbengkulu.com/kompasiana.com
Ilustrasi: harianrakyatbengkulu.com/kompasiana.com

Otang K Baddy

Bos Karso, demikianlah orang memanggilnya. Belakangan ini tiba-tiba ia jadi buah bibir. Tak cuma di Ciloang, kampung dimana ia tinggal dan dibesarkan, tapi pembicaraan tentang dirinya sampai keluar daerah. Bos Karso yang pengusaha kayu itu, yang dermawan itu.

Yang paling mengesankan ketika Idul Adha tahun ini ia rela menyembelih hewan qurbannya dengan lima ekor sapi. Perilaku baik dan mulya ini sungguh kontras jika dibanding dengan orang mampu lainnya. Kalau yang lain malah mengutamakan berhaji, sementara kebaikan atau rukun lainnya diabaikan. Kendati mampu dan layak, untuk sementara Bos Karso mengabaikan berhaji dulu sebelum hal-hal baik lainnya tertunaikan.

Dalam hal menolong sesama, masalah kebutuhan sosial atau keagamaan ia tak pernah pelit. Dalam setiap enam bulan sekali ia kerap berbagi rejeki pada orang fakir, orang yang butuh pertolongan, terlebih di lingkungan ke-RT-an atau tetangga terdekat. Hal sosial seperti membiayai pengecoran gang yang membelah rumah warga di Ciloang, ia rela menanggung dananya.

Dalam arti masyarat tak bergantung pada pemerintah semisal anggaran dana desa dan sebagainya . Juga dalam hal keagamaan seperti perenovasian masjid atau pada acara peringatan Maulud Nabi dan Isra Mi’raj, ia kerap menjadi donatur terbesar di kampung itu. Karenanya ia sering dielu-elukan warga. Bahkan karenanya mereka sepakat untuk memanggil lelaki berusia 40 tahun itu sebagai Bos. Lengkapnya Bos Karso.

Kini setelah diketahui lelaki itu sampai berqurban lima ekor sapi limosin, semua warga makin salut. Terutama bagi ibu-ibu yang kesehariannya tak mampu membeli daging sapi dari pasaran karena mahal. “Semoga Allah melipatkan rejekinya, memanjangkan umurnya dalam keadaan sehat serta tetap penuh pengertian,” demikianlah diantara do’a mereka.

***

Sebenarnya Karso tak terlalu kaya raya. Hartanya tak terbilang melimpah. Ia hanya punya dua pabrik penggergajian kayu alba, tiga truk sebagai penopang dan 2 sepeda motor biasa. Mungkin karena kaya hati alias jembar, orang menyebutnya kaya raya. Tampak semua banyak yang suka padanya. Tak sedikit orang-orang yang sering menyambanginya untuk sekedar minta sedekah, pinjam uang atau aturan lain serupa bisnis. Baik orang yang dikenal langsung oleh warga setempat maupun yang berupa tamu jauh.

Karso, sebelum jadi Bos memang termasuk orang biasa. Orang kampung anaknya petani biasa pula. Tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, SD pun nyaris tak tamat. Sebelum beristri, ia pernah jadi penjual pakaian bekas. Barang loak itu ia buntal dengan taplak sebelum digendong keliling kampung, berjalan masuk gang-gang becek dan sempit. “Pilih…pilih…! Murah meriah, murah tapi bukan murahaan…!” teriaknya sebelum kemudian membuka buntalan taplak itu dan menjajakannya di teras warga.

Setelah berkeluarga menikahi Marsiah, sebagaimana umumnya warga Ciloang yang bertani, Karso pun berladang. Mencangkul, mengolah sawah dan bercocok tanam. Hingga tibalah musim laku kayu alba, mungkin disamping permintaan dalam negeri kebutuhan ekspor pun meningkat. Setelah punya uang dari hasil kayu di ladangnya, Karso pun jadi ikut tertarik jual beli kayu tersebut. Meski dalam skala kecil atau kadang sebatas calo, dengan modal jujur keberuntungan pun memihak.

Sampai kemudian ia memiliki dua pabrik penggergajian itu. Dan setiap dua-tiga hari sekali, ia mengirimkan ratusan kubik kayu hasil gergajian itu ke luar kota. Bahkan tak cuma itu, ia pun kerap memasok kayu gelondongan untuk memenuhi permintaan dari Kediri, Jatim. Bos Karso bisnisnya dari hari ke hari tampak makin lancar saja.

Dengan segala kebaikan yang sering dilakukanya, celah-celah lain dalam hidupnya sementara tertutupi. Seperti mengabaikan shalat yang lima waktu –dengan alasan sibuk, tak menjalankan puasa di bulan ramadan, lantas suka bermain wanita.

Bermain wanita. Untuk yang satu ini aneh, orang kampung seakan menutup mata dan telinga. Padahal perbuatan itu lebih biadab daripada binatang buas sekalipun. Mending kalau terjadinya di luar daerah seperti beli di pemangkalan. Ini di seputar Ciloang, wilayah ke-RT-an dan ruang lingkup tetangga.

Benar-benar jorok. Anehnya para suami tiba-tiba pasrah begitu saja, mungkin menurut pemikiran mereka ‘kemalingan’nya tak merasa sendiri. Malah yang timbul bukanlah dendam kesumat semacam ingin mencekik leher si keparat itu. Mereka menanggapinya dengan tawa dan suka cita.

“Sudah berapa kali kamu menerima amplop-amplop itu?”

“Saya baru dua kali. Yang pertama isinya 500rb, yang kedua menurun jadi 300rb.”

“Mungkin karena istriku agak cantik dan langsing, saya terima sudah empat kali. Pertama 1juta, kedua 750rb, ketiga 600rb dan terakhir 500rb. Kalian tak perlu iri, semua yang terjadi sesuai dengan kualitas barangnya.”

“Aku tak bisa menolak ketika setiap amplop yang kuterima isinya tak jauh berkisar dari 150 ribuan. Kendati nominalnya kecil kalau nerimanya sering kan lumayan buat kesenangan ngerokok dan kopi. Masih untung sih, soalnya tubuh istriku banyak panuan..”

“Hahaha…!”

“Huhuhu…!”

“Hehehe….!”

“Hohoho…!”

Demikianlah di antara para suami di kampung Ciloang. Mereka tidak merasa malu dan sakit hati selain malah bertawa ria. Bahkan selanjutnya seakan mereka membebaskan ‘buaya’ itu keluar masuk kamar di rumahnya. Pikirnya mungkin di samping ada tambahan buat jajan anak, mereka pun bisa punya uang saku lebih.

Tak perlu kerja banting tulang atau cari utangan. Mereka berprinsif, persoalan itu nantinya akan berhenti dengan sendirinya. Namun mereka jadi seperti gila, berharap hal amplop-amplop itu terus berlanjut. Bahkan jika perlu masalah nonimalnya lebih ditingkatkan, katanya.

Bos Karso memang sepintas keren. Trick yang dijalankannya mampu membuat situasi tidak berkutik. Tak terkecuali Ustad Amin dan Ustad Romli, imam masjid penceramah mingguan di kampung Ciloang. Setelah kedua tokoh ini punya motor baru, mereka pun tak bisa berbuat apa kendati pebisnis kayu alba itu diketahui sering keluar masuk menyambangi istri mereka di saat-saat tertentu. Lelaki itu memang bak ular yang lihai memainkan perannya yang liar.

Karenanya nama Bos Karso pun semakin jadi buah bibir. Beritanya sampai menyebar kemana-mana. Terlebih setelah dua orang polisi meringkusnya, karena selain terlibat pembalakan liar juga lelaki itu diketahui sebagai pencuri sapi potong di luar daerah(*)

(Cijulang, September 2016)

*Otang K.Baddy –nama pena dari Otang Komaludin. Menulis cerpen dan puisi di sejumlah media cetak maupun online, tinggal di Cijulang, Pangandaran.