[Cerpen] Seperti pada Koruptor

0
1656
Ilustrasi oleh Andi Nurroni.
Ilustrasi oleh Andi Nurroni.
Ilustrasi oleh Andi Nurroni.

Otang K Baddy

SEKETIKA suara-suara umpatan; maling, anjing, babi, dan bahkan mengharuskanku sampai di neraka jahanam itu, melenyap. Seiring dengan kepuasannya, mereka membubarkan diri dan mungkin pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara beberapa wanita tampak saling berbisik dan membuang muka. Mereka menampakan kengerian, bukan lebih pada kepuasan dan kegemasan seperti orang-orang sebelumnya.

“Kasihan, begitu hancur muka dan tubuhnya,” begitulah yang terakhir aku dengar sebelum kemudian meninggalkanku dalam gelap.

Perlu diketahui, sebenarnya aku ini bukan koruptor. Tapi kenapa amuk serta umpatan padaku seperti bencinya mereka pada koruptor. Maaf ini bukan iri, tapi sekedar meluruskan image atau ‘pencitraan konyol’ tersebut. Jika alasan kerena mereka manusia terhormat –yang pintar melipat milyar-triliun—dan dianggap sebagai balas saja atas baktinya di negeri merdeka, tapi kenapa melampiaskan kekesalan itu sepenuhnya padaku?

Ya, semua itu ditumpahkan padaku. Padahal aku bukanlah koruptor. Kendati alasan yang saya ajukan ini pun tak dibenarkan , namun tak ada buruknya jika mau dipertimbangkan. Ya aku hanya seorang maling. Maling karena terpaksa. Sungguh, ini bukan alasan seperti umumnya para penjambret saat terdesak pertanyaan polisi.

Kuakui, aku menjadi maling baru sekali ini. Karena aku tak punya bakat dan tak punya pengalaman sebagai maling. Sebelumnya aku hanyalah kuli kasar. Sebagai kuli pasar dan pembongkar pasir di sekitar kota ini. Aku sendiri pun agak heran, mengapa aku bisa berubah secepat itu. Menjadi maling!

**