Daeng Soetigna, ‘Bapak Angklung Indonesia’ Keturunan Pangandaran

0
569
Foto: ketemulagi.com
Foto: ketemulagi.com

SPC – Jumat, 13 Mei 2016, halaman muka mesin pencari Google memasang logo instimewa (Google Doodle) berupa sosok pria tua berkacamata sedang bermain angklung bersama dua orang bocah. Edisi khusus laman Google tersebut merupakan apresiasi hari lahir ke-108 Daeng Soetigna (1908-1984), pencipta alat musik angklung diatonis.

Penghargaan Google tersebut memang tidak berlebihan. Daeng Soetigna memberi andil besar dijadikannya angklung sebagai salah satu ikon Indonesia dalam pergaulan dunia. Atas kontribusinya pula, pada 2010 silam, Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mengakui angklung sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Di balik reputasi Daeng Soetigna yang mendunia, tak banyak yang tahu, seniman yang juga pendidik ini memiliki silsilah keturunan Pesisir Pangandaran.

Meski dilahirkan di Garut (13 Mei 1908), kakek-nenek Daeng, baik dari sisi bapak maupun ibu, berasal dari Cikembulan, wilayah yang kini masuk ke dalam Kabupaten Pangandaran. Semasa hidupnya, Daeng pun rutin pulang kampung ke Pangandaran.

Helius Sjamsuddin dan Hidayat Winitasasmita menceritakan kisah Daeng dalam buku “Daeng Soetigna; Bapak Angklung Indonesia” (1986). Buku hasil wawancara dengan pihak keluarga tersebut mengungkap, kakek daeng dari pihak ibu adalah wedana Cikembulan, sementara kakek Daeng dari pihak ayah adalah lurah Cikembulan.

Ayah Daeng, Mas Kartaatmadja, adalah guru yang melewatkan tugas terakhirnya hingga pensiun di Pesisir Pangandaran. Atas jasa-jasanya merintis pendidikan di Pangandaran, ayah Daeng Soetigana mendapat gelar “kanduruan”, yang merupakan penghargaan bagi pangreh praja di bidang pendidikan pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda.

Ibu Daeng, Raden Ratna Soerastri, memang tidak pernah bersekolah seperti umumnya gadis-gadis pada masa itu. Namun begitu, seperti dikisahkan Daeng Soetigna dalam catatan prbadinya, ibunya menguasai berbagai keterampilan seni, seperti merenda, membuat hiasan dinding, meniup seruling hingga menabuh gamelan.

Nama “Daeng” sendiri dipilih sang Bapak karena kekagumannya terhadap seorang termannya, seorang keturunan bangsawan Bugis bergelar “Daeng”.

Daeng Soetigna menamatkan pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Garut (1915-1921), tempat di mana sang ayah mula-mula berdinas. Selanjutnya, ia dikirim sang ayah belajar di Kweekschool Bandung (1923-1928).

Pendidikan formal tertinggi yang pernah diikuti Daeng Soetigna sendiri adalah berkuliah di Teacher’s College Australia pada 1955.

Daeng Soetigna kini dikenal luas, terutama atas kreasinya memodifikasi alat musik angklung yang semula bernada pentatonis menjadi diatonis. Berkat kreativitasnya, angklung kini bisa dimainkan bersama alat-alat musik modern

Angklung tujuh tangga nada (do-re-mi) tersebut, oleh murid-muridnya kemudian disebut Angklung Padaeng. Salah satu murid yang berjasa mengembangkan angklung modern karya Daeng adalah Udjo Ngalagena, pendiri Saung Angklung Udjo Bandung.

Atas jasa-jasanya, Daeng Soetigna mendapat berbagai penghargaan. Salah satu apresiasi tertinggi atas kiprah Daeng adalah Satya Lencana Kebudayaan yang disematkan Presiden Republik Indonesia Soeharto pada 1968.

Herdis Tisnawijaya (74) salah seorang kerabat Daeng Soetigna di Pangandaran bercerita, hingga tahun 1970-an, Daeng Soetigna masih sering mengunjungi Pangandaran. Saat itu, menurut Herdis, keluarga besar Mas Kartaatmadja (ayah Daeng) biasa berkumpul di Pangandaran setidaknya setahun sekali.

Keluarga besar tersebut, menurut Herdis, biasanya bertemu di rumah mendiang Mas Kartaatmadja yang berada di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran. Rumah tersebut, oleh warga kini dikenal dengan sebutan “Gedung Uyeng”.