Eka Kurniawan dan Mimpi Kecilnya untuk Pangandaran

0
3813
Eka Kurniawan bercengkrama dengan putrinya. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Eka Kurniawan bercengkrama dengan putrinya. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Eka Kurniawan bercengkrama dengan putrinya. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Eka Kurniawan boleh jadi nama yang asing bagi sebagian besar masyarakat Pangandaran. Namun sosok pria 40 tahun ini bisa disebut  figur warga Pangandaran yang paling mengemuka di bidang kesusastraan.

Lebaran lalu, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, Eka mudik ke Pangandaran menjumpai keluarga besarnya. Meski lahir di Tasikmalaya, Eka yang hijrah ke Pangandaran sejak kelas 4 SD selalu menganggap Pesisir Pangandaran sebagai kampung halamannya.

Kepulangan Eka ke Pangandaran tak disiakan SP.Com. Media ini menjumpai sang penulis muda berreputasi internasional ini di rumah adiknya di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, berada tak jauh dari Lapangan Merdeka.

Mengenakan kaos oblong seperti kebiasaannya sehari-hari, Eka menerima SP.Com di beranda rumah. Alumnus Jurusan Filsafat UGM ini pun dengan ramah meluangkan waktu untuk berbagi cerita.

Eka yang mengaku hanya pulang kampung sekali dalam setahun kini melihat Pangandaran semakin berkembang dari segi infrastuktur. Dalam hal pembangunan fisik, suami penulis Ratih Kumala ini cukup optimistis Pangandaran akan semakin maju dalam beberapa tahun ke depan.

Namun begitu, sebagai masukan, Eka berharap Pangandaran juga berkembang di luar segi infrastuktur. Sebagai daerah wisata, menurut dia, penguatan sektor kebudayaan dan sumber daya manusia juga harus menjadi fokus perhatian.

“Kita jangan terlalu menggantukan pada hal yang sudah ada dari sananya, tapi harus menawarkan hasil kreasi masyarakat. Kalau hanya pantai, di tempat lain juga banyak pantai. Dalam jangka panjang, harus ada yang unik agar orang mau datang ke sini,” ujar alumnus SMPN 1 Pangandaran dan SMA PGRI Pangandaran ini.

Destinasi wisata di manapun, menurut Eka, pasti mengenal musim padat dan sepi kunjungan. Pada musim sepi itulah, menurut Eka, perlu diciptakkan atraksi-atraksi budaya agar pelancong tetap mengalir ke Pangandaran.

Mengingat masa kecilnya di Pangandaran yang hobi menonton kesenian tradisional, mulai dari ronggeng hingga sintren, Eka sangat ingin kesenian-kesnian itu punya tempat yang layak untuk ditawarkan kepada wisatawan.

Untuk investasi jangka panjang, menurut Eka, pemerintah juga harus berupaya meningkatkan mutu sumber daya manusia. Sebagai seorang penggerak di sektor literasi, Eka berharap pemerintah dan komunitas masyarakat dapat membangkitkan budaya literasi warga Pangandaran.

“Mimpi aku pribadi sih ingin melihat perpustakaan dan toko buku. Walau pun aku sudah tidak tinggal di sini, tapi ingat jaman kecil, susah sekali buku di sini. Buku itu bisa menjadi jendela dunia, bisa menjadi pamantik, bukan hanya untuk literasi, tapi untuk segala hal. Itu yang bisa membedakan sebuah kota,” ujar pria berkacamata ini.

Sebagai daerah dengan luas wilayah relatif kecil, menurut Eka, bukan hal yang sulit untuk membuat perpustakaan atau taman bacaan di setiap kecamatan di kabupaten ini. Jika hal ini sulit dilakukan pemerintah, menurut dia, komunitas masyarakat bisa melakukannya.

“Tidak harus mewah, yang penting ada. Karena buku itu fondasi untuk anak-anak. Selebihnya, kalau mereka butuh bacaan lebih lanjut, mereka akan mencari sendiri,” ujar penulis novel “Cantik itu Luka” dan “Lelaki Harimau” tersebut.

Meski dirinya kini sudah ber-KTP Tangerang, Eka mengaku tida keberatan jika dimintai bantuan atau menyumbangkan gagasannya untuk pembangunan Pangandaran.