Eka Kurniawan, Penulis Muda Bersinar dari Pangandaran

0
2229
Eka Kurniawan. Foto: www.smh.com.au
Eka Kurniawan. Foto: www.smh.com.au
Eka Kurniawan. Foto: www.smh.com.au

SWARAPANGANDARAN.COM-Bagi masyarakat Pangandaran pada umumnya, nama Eka Kurniawan agaknya masih asing di telinga. Warga tentu lebih akrab dengan figur Susi Pudjiastuti atau Cakra Khan, dua pesohor dari Pangandaran.

Tapi di kalangan akademisi, dunia kepenulisan atau di lingkungan peminat sastra, nama Eka Kurniawan telah lama mencuri perhatian. Penulis 41 tahun itu telah melahirkan novel-novel sastra yang banyak menuai pujian.

Dua novelnya, “Cantik itu Luka” (2002) dan “Lelaki Harimau” (2004) telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa, seperti Inggris, Jepang, Perancis, Korea, serta tengah menyul ke beberapa bahasa lain. Selain dua itu, Eka juga terus menulis novel lainnya. Ia juga menerjemahkan sejumlah buku sastra karya penulis mancanegara ke dalam Bahasa Indonesia.

Banyak pujian dialamatkan kepada alumnus Jurusan Filsafat UGM ini. Indonesianis terkemuka Bennedict Anderson menyebut Eka sebagai “penerus Pramoedya Ananta Toer”. Karya-karya Eka banyak menuai pujian, baik dari kritikus dalam maupun luar negeri, termasuk di Amerika dan Inggris.

Eka Kurniawan dilahirkan di Tasikmalaya tahun 1975. Meski begitu, sejak usia 10 tahun, ia melewatkan waktu di Pangandaran. Dalam catatan-catatan blognya, Eka selalu menganggap Pangandaran sebagai kampung halamannya. Keluarganya pun hingga kini masih menetap di Pangandaran.

Dalam blognya, Eka beberapa kali menuliskan catatan tentang pangandaran, entah itu harapan untuk Pangandaran atau sekedar rasa rindunya mengunjungi laut Pangandaran.

“Saya selalu mencintai kota ini. Kecil dan berbau laut. Saya tidak lahir di sini, tapi tinggal di sini sejak berumur 10 tahun, dan meninggalkannya ketika saya masuk universitas,” ujar Eka dalam blognya ekakurniawan.com.

Kesan Eka yang sangat mendalam terhadap Pangandaran tercermin dalam karya-karyanya. Dalam dua buku masterpiece-nya, “Cantik itu Luka” Eka menjadikan lanskap Pangandaran sebagai inspirasi penciptaan latar tempat imajiner yang ia beri nama Halimunda.

Dalam novel terbarunya, “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”, Eka kembali menjadikan Pangandaran sebagai saalah satu latar. Kali ini dia memasukan Pangandaran secara langsung dalam ceritanya.

“Mimpi itu memberitahunya bahwa ia akan memperoleh seorang kekasih. Dalam mimpinya, si kekasih tinggal di kota kecil bernama Pangandaran. Setiap sore, lelaki yang akan menjadi kekasihnya sering berlari di sepanjang pantai ditemani seekor anjing kampung.” Begitu sekilas penggalan cerita yang menyertai promosi novel tersebut. Terus berkarya, Eka Kurniawan.

Biografi

Nama : Eka Kurniawan
Lahir : Tasikmalaya, 28 November 1975
Pekerjaan : Penulis Sastra
Istri : Ratih Kumala
Pendidikan : Jurusan Filsafat UGM
Website : ekakurniawan.net

Karya :

– Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999).
– Corat-coret di Toilet (2000)
– Cantik itu Luka (2002)
– Lelaki Harimau (2004)
– Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (2005)
– Cinta tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005)
– Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)
– Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015)