Fenomena Unik Dampak Banjir

0
1770
Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN) Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN)
Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN) Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN)
Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN)
Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pngandaram yang terkena gigitan ular weling mendapat pertolongan. (AN)

Parigi, SwaraPangandaran.Com – Hujan masih berlangsung hingga hari kelima. Pangandaran masih rentan terkena banjir. Di beberapa kecamatan masih dipenuhi genangan. Banya pemukiman warga, sekolah dan fasilitas umum yang terkena arus banjir seperti jembatan anjlok di Putrapinggan kecamatan Pangandaran.

Masih akibat hujan lebat yang mengguyur seluruh kawasan Pangandaran disertai petir dan angin, terdapat banyak pohon tumbang, longsor dan kerusakan tanaman pertanian dan perkebunan. Semua rangkaian masalah itu dilengkapi dengan munculnya hewan-hewan langka muncul di sekitar pemukiman.

Beberapa pihak menyebut gejala ini bukan hanya banjir biasa. Lebih dari itu, fenomena ini disebut pula bencana ekologis.

Saat banjir melanda, beberapa warga Desa Cijulang, Kecamatan Cijulang juga dikagetkan dengan kemunculan ular kobra. Fenomena ini mendapat tanggapan dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Pangandaran.

Selain kemunculan ular, ada juga warga yang melaporkan melihat buaya di sekitar daerah Matras di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran. Selain itu, warga juga melihat kawanan burung kuntul keluar dari kawasan mangrove di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran.

Kepala BPLH Kabupaten Pangandaran Surya Darma menyampaikan, keluarnya hewan-hewan tersebut dari habitatnya bisa dipastikan karena gangguan ekosistem. Ia mengimbau warga waspada terhadap kemunculan satwa-satwa tersebut, terutama yang membahayakan.

Namun begitu, Surya meminta warga tetap bijaksana menyikapi kemunculan hewan-hewan tersebut di lingkungan mereka.

“Kalau hewannya berbahaya atau dilindungi, seperti ular kobra atau buaya, bisa lapor terhadap aparat pemerntah,” kata Surya melalui sambungan telepon.

Surya lebih jauh berkomentar, banjir yang melanda daerah-daerah di Pangandaran menunjukan melemahnya daya dukung lingkungan. Adanya raktik pembalakan hutan dan penambangan di kawasan resapan air, kata Surya, menjadi salah satu penyebabnya.

“Ini saatnya kita instrospeksi, jangan sampai nafsu manusia mengakibatkan kerugian yang besar di kemudian hari,” ujar Surya.

Masih dampak banjir, Relawan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran Asep Nurdin melaporkan, salah seorang warga di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran dipatuk ular weling di sekitar rumahnya ketika terjadi banjir yang menerjang kawasan tersebut.

“Alhamdulillah korban segera dilarikan ke Puskesmas dan mendapat perawatan, dan tertolong,” ujar Asep saat ditemui, Selasa (11/10).