Hadir ke Pangandaran, Ustadz Solmet Pimpin Dzikir Kebangsaan di Hari Amal Bakti Kemenag ke – 73

0
145
Ustadz Solmet saat memimpin dzikir kebangsaan bersama kepala Kemenag dan Wabup Pangandaran Kamis (10/1). Syamsul Arifin/SPC

Cijulang, SPC – Dalam rangka Hari Amal Bakti Kementerian Agama (Kemenag) Ke – 73, Kemenag Kabupaten Pangandaran mendatangkan penceramah Ustadz Solmet.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pangandaran Cece Hidayat mengatakan, ustadz kondang dari Jakarta tersebut memimpin langsung dzikir kebangsaan.

“Mudah-mudahan dapat meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap tanah air,” ungkapnya.

Menurut Cece, tahun ini marak sekali berita hoax, Karena itu, ia berharap masyarakat cerdas memilah informasi dan tidak mudah menyebarkan berita bohong.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah memberikan hibah tanah seluas 2 hektar untuk pembangunan kantor.

“Mudah mudahan kado istimewa dari Pemda Pangandaran ini bisa bermanfaat dan pembangunan kantor kita bisa dimulai di tahun ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pangandaran H Adang Hadari mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menebarkan energi kebersamaan.

“Kita rawat kerukunan dan hindari ujaran kebencian, baik prilaku atau sifat yang dapat menimbulkan luka sesama saudara,” ujarnya.

Adang juga meminta kepada Kemenag untuk memberikan pelayanan keagamaan secara akuntabel dan berkualitas.

“Harus menjadi teladan kepemimpinan yang baik, amanah juga bisa menjadi perajut kerukunan bangsa yang bhineka,” imbuhnya.
[07:15, 1/12/2019] A Andi: Ruwatan 7 Jumat, Tradisi Wajib Bagi Calon Jawara TTKHD Batukaras

Cijulang, SPC-Sebelum naik tingkat ke jurus lain, para calon jawara di perguruan silat Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH) Batukaras, Kecamatan Cijulang punya tradisi yang tidak boleh dilewatkan.

Menurut salah seorang pelatih di perguruan TTKDH Batukaras Sidorus Susanto, tradisi ini dinamakan ruwatan 7 Jumat karena dilakukan setiap malam Jum’at selama tujuh kali tanpa boleh bolong satupun.

“Ini dilakukan karena para murid akan naik ke tingkatan jurus kelid, yang mana dalam jurus ini mereka akan bermain pukulan tulang,” papar Dorus Kamis malam (10/1).

Tradisi ini kata Dorus terus dilakukan turun temurun dari sejak berdirinya perguruan seni bela diri TTKHD di Banten ratusan tahun silam.

“Kalau untuk yang sudah melakukan ruwatan ini, biasanya ada ruwatan wajib setahun sekali pada ruwatan kecer di bulan Rabiul Awal, kalaupun mau ikut yang ruwatan tujuh jum’at lagi, itu sah sah saja,” ungkap Dorus.

Di Batukaras sendiri, kata ia, tradisi ini mulai berkembang dari sejak masuknya TTKHD ke Batukaras pada tahun 1986 dan hanya di ikuti oleh para orangtua.

“Kan tiap malam jumat para orangtua tidak melaut, jadi mereka selalu latihan silat walaupun kondisinya gelap karena tidak ada listrik,” imbuhnya.

Sekarang, ucap ia, tidak hanya orangtua yang ikut serta. Siswa SMA dan SMP juga turut melakukan latihan rutin. Bakhan kata ia ada murid yang masih berusia SD juga ikut.

“Ya kalau yang SD paling hanya diajari dasar dasarnya saja, tulang mereka kan masih rapuh, dari sisi psikologis juga masih rentan. Takutnya disalahgunakan,” turur Dorus.

Meski seni bela diri ini merupakan permainan santri, untuk menjadi murid di TTKHD, kata Dorus tidaklah sulit. Asalkan, kata dia, ada izin dari orangtua saja sudah cukup, supaya tidak terjadi salah faham.

“Lazimnya ada ikrar seren dari orangtua sebagaimana menitipkan santri ke pesantren, tapi disini belum semuanya seperti itu,” tukasnya.

Di akhir percakapan sambil melihat para murid latihan, Dorus meminta perhatian kepada pemerintah supaya memberikan sarana penerangan.

“Ya kami terus latihan dengan sarana seadanya, kemarin sih sudah mengajukan untuk penerangan, tapi belum ada tindak lanjut,” pungkasnya.