Hindari Korban Jiwa, Bupati Ingin Pengamanan Wisata Ditingkatkan

0
1000
Kepala Dinas Pariwisata, Perindagkop dan UMKM Pangandaran Muhlis menyerahkan secara simbolis bantuan mobil patroli pantai kepada Ketua Balawista Pangandaran Dodo Taryana, Jumat (24/6). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Kepala Dinas Pariwisata, Perindagkop dan UMKM Pangandaran Muhlis menyerahkan secara simbolis bantuan mobil patroli pantai kepada Ketua Balawista Pangandaran Dodo Taryana, Jumat (24/6). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Kepala Dinas Pariwisata, Perindagkop dan UMKM Pangandaran Muhlis menyerahkan secara simbolis bantuan mobil patroli pantai kepada Ketua Balawista Pangandaran Dodo Taryana, Jumat (24/6). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Parigi, SwaraPangandaran.Com – Berulangnya jatuh korban jiwa di obyek-boyek wisata di Pangandaran menjadi perhatian tesendiri Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata. Jeje menginginkan pengamanan wisata lebih ditingkatkan.

“Menurut saya laka laut menurun, tapi toh satu orang juga manusia. Itu kenapa saya tegas menutup Citumang kemarin, karena saya prihatin dan ingin ada evaluasi,” ujar Jeje dijumpai di ruang kerjanya, Rabu (14/9).

Secara khusus, kini Jeje menyebut menyoroti pengamanan di kawasan wisata Pantai Pangandaran. Di lokasi tersebut, menurut Jeje, banyak kejadian kecelakaan laut dikarenakan wisatawan yang berrenang di zona terlarang.

“Wisatawan sepertinya tidak paham mau berrenang di mana? Saya mau ngobrol dengan Balawista, apa yang kurang, agar wisatawan paham betul di mana lokasi berrenang,” ujar Jeje.

Pihak Balawista menurut Jeje, memang pernah mengeluhkan kekurangan personel. Namun begitu, Jeje mengaku ingin memastikan terlebih dahulu di lapangan faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.

“Kurang personel mungkin iya, tapi mungkin juga manajemennya. Sebetulnya Balawista fasilitasnya kita genjot terus, nanti akan kita evaluasi. Kita lihat SDM Balawista, manejemennya juga,” kata Jeje.

Selain wisatawan yang melanggar zonasi berrenang, menurut Jeje, menurut laporan, banyak juga wisatawan yang berrenang di luar jam operasional penjaga pantai. Ia berharap, akan ada juga perubahan manajemen waktu pengamanan.

Tak hanya mengandalkan Balawista, menurut Jeje, pihaknya juga ingin mengadopsi model pengamanan oleh masyarakat seperti di Bali dengan konsep “pecalang”.

“Kita nanti kirim orang untuk belajar ke Bali,” ujar dia.