Hiu Paus Terdampar Jadi Bancakan Warga

0
1147
Warga memotong-motong tubuh hiu paus yang terdampar di perairan Dusun Bojong Karekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Rabu (30/11). AN
Warga memotong-motong tubuh hiu paus yang terdampar di perairan Dusun Bojong Karekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Rabu (30/11). AN
Warga memotong-motong tubuh hiu paus yang terdampar di perairan Dusun Bojong Karekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Rabu (30/11). AN

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Seekor hiu paus atau paus tutul (Rhincodon typus) terdampar di Pesisir Dusun Bojong Karekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Rabu (30/11) pagi. Setelah dianggap mati, hewan dilindungi ini berakhir jadi bancakan warga.

Mamalia dengan panjang sekitar 3 meter dan lebar 1 meter ini mula-mula ditemukan Jn (54) sekitar pukul 04.30. Saat itu, pria yang berprofesi sebagai penderes nira kelapa ini hendak buang hajat di tepi pantai.

“Saya lihat ekornya gerak-gerak, saya deketin, saya pegang matanya ternyata masih hidup,” kata Jn dijumpai di tempat kejadian.

Mengetahui kondisi hiu paus masih hidup, Jn pun memutuskan untuk memanggil para tetangganya. Kerena penasaran, orang-orang pun terus berdatangan ke pantai.

Entah bagaimana mulanya, sekitar pukul 07.30, satwa yang memiliki sebutan lokal “naga bintang” ini menjadi bancakan warga. Puluhan warga bergantian mengiris dan mengangkut daging-daging yang telah mereka potong.

Menurut Jn, saat itu, hewan tersebut telah mati. Seorang tokoh masyarakat, kata Jn, mengizinkan mereka memotong-motong tubuh mamalia tersebut untuk konsumsi warga.

Datang pukul 08.00, SP.Com mendapati sekelompok orang berada di kawasan perairan. Hiu paus tersebut memang kandas sekitar 100 meter dari tepian pantai. Saat tersebut, laut memang dalam kondisi surut.

Sekelompok orang di perairan itu rupanya tengah mengiris-iris daging hiu paus yang sebelumnya telah mereka kuliti. Warga yang telah berhasil mengiris daging dengan arit atau golok lalu membawanya ke tepi pantai yang dipadati lebih banyak orang.

Terlihat darah masih mengalir dari tubuh si mamalia ketika disobek-sobek warga. Dari ukurannya yang besar, diperkirakan bobotnya lebih dari 2 ton.

Selain Jn, seorng warga lain yang turut “berburu” daging hiu paus ini adalah Jy (45). Menurut Jy, ia bersemangat ikut ambil bagian karena tergoda rasanya yang lezat.

Jy mengaku sudah sering memakan daging hiu paus. Ia menyebut suka memasaknya ala rica-rica atau pindang gunung. Daging hiu paus yang sudah diawetkan dengan garam, kata Jy, juga bisa digoreng.

Petugas Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Pangandaran barut tiba di lokasi sekitar pukul 09.00. Dihubungi kemudian, Kepala Bagian Operasional Aiptu Dadang menyesalkan lambatnya laporan warga yang masuk kepada pihaknya soal kasus ini.

Dadang menyebut, tidak ada aparat yang mengizinkan warga memotong-motong hiu paus tersebut. Berdasarkan laporan warga, kata dia, aksi potong hiu paus di tempat itu dilakukan karena hewan tersebut telah mati.

“Sepertinya sudah menjadi budaya mereka. Tadi sudah kita beri pengarahan agar selalu berkoordinasi dengan aparat sebelum mengambil keputusan,” kata Dadang.

Melalui Pertauran Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/2013, hiu paus menjadi salah satu satwa yang dilindungi. Telah sejak lama, banyak hiu paus yang terdampar di atau terjerat jaring nelayan di sepanjang pesisir Pangandaran.

Dulu, jika mamalia ini terdampar, hampir bisa dipastikan berakhir di kuali warga. Belakangan, ada juga kelompok masyarakat yang mendorong hewan ini kembali ke tengah laut untuk menyelamatkan mereka.