Jejak Peninggalan Kereta Api Fenomenal di Pangandaran Butuh Perlindungan

0
625
Diskusi, Peserta Napak tilas Jalur Kereta api Banjar Pangandaran melakukan diskusi interakif di aula hotel Horison Pangandaran, 21/3. Asep Nurdin RA/SPC

Pangandaran, SPC – Komunitas Pecinta Cagar Budaya Pangandaran meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) serius melakukan perlindungan dan pelestarian cagar budaya jalur kereta api non aktif yang ada di Kabupaten Pangandaran.

Asep Nurdin, salah seorang pecinta cagar budaya di Pangandaran mengatakan, jejak bangunan peninggalan sejarah kereta api di Kabupaten Pangandaran sangat banyak, namun sangat minim perlindungan dan pelestariannya.

“Kita meminta pihak kereta api untuk lebih serius melakukan perlindungan dan pelestarian cagar budaya yang merupakan peninggalan zaman Belanda,” ungkapnya kepada SPC usai menghadiri acara diskusi Napak Tilas Jalur Kereta Api Non Aktif Banjar – Pangandaran di aula hotel Horison Pangandaran, Selasa (21/3) malam.

Asep mengatakan, sebagian besar bangunan eks stasiun kereta api masih berdiri kokoh. Namun demikian, kondisinya setiap tahun terus mengalami kerusakan.

“Kondisi tersebut seakan-akan dibiarkan, tidak ada upaya untuk melakukan perlindungan dan pelestarian cagar budaya,” ujarnya.

Dikatakannya, peninggalan jalur kereta api Banjar – Pangandaran memiliki nilai historis dan edukasi yang bisa menjadi referensi sejarah.

“Kalau tidak ada upaya perlindungan dan pelestarian yang serius maka kemungkinan nanti bisa hilang dan hancur,” tuturnya.

Lanjut Asep, peninggalan cagar budaya harus dilestarikan dan dipertahankan sebagai benda sejarah. Hal itu, sesuai
dengan amanat Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang perlindungan cagar budaya.

“Didalamnya ada kewajiban untuk melakukan perlindungan dan pelestarian cagar budaya dan itu harus dilakukan untuk mempertahankan nilai historisnya,” kata dia.

Asep menambahkan, beberapa peninggalan jalur kereta api Banjar – Pangandaran yang fenomenal diantaranya terowongan Hendrik, Terowongan Juliana, Terowongan Wilhelmina, jembatan Cikacepit, jembatan Panerekean dan sejumlah stasiun.

“Bangunan-bangunan itu bisa juga dijadikan destinasi wisata,” ujarnya.

Menurut Asep, upaya perlindungan dan pelestarian cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari PT KAI sebagai pemilik aset, pemerintah serta masyarakat.

“Seperti yang disampaikan bapak proklamator kita Soekarno, jangan lupakan sejarah. Ayo kita jaga bersama agar cagar budaya yang masih ada tidak hilang,” pungkasnya.(*)