Kewalahan, Satwa Cagar Alam Pangandaran ‘Dibagi-Bagi’

0
2072
Dua ekor rusa koleksi Cagar Alam Pananjung Pangandaran tertangkap kamera keluar dari kawasan konservasi dan mengunjungi keramaian di Pantai Barat, Jumat (3/3). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Dua ekor rusa koleksi Cagar Alam Pananjung Pangandaran tertangkap kamera keluar dari kawasan konservasi dan mengunjungi keramaian di Pantai Barat, Jumat (3/3). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Dua ekor rusa koleksi Cagar Alam Pananjung Pangandaran tertangkap kamera keluar dari kawasan konservasi dan mengunjungi keramaian di Pantai Barat, Jumat (3/3). (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Keberadaan aneka satwa di Cagar Alam/Taman Wisata Alam Pangandaran tidak tertangani dengan baik. Pihak pengelola pun memutuskan untuk mengirim satwa-satwa tersebut ke daerah lain.

Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Pangandaran selaku pemangku kuasa mengakui fasilitas kesejahteraan satwa (animal welfare) di tempatnya sangat terbatas.

Kepala BKSDA Pangandaran Yana Hendrayana menggambarkan, karena keterbatasan sumber daya manusia, pihaknya kewalahan menangani rusa-rusa koleksi Cagar Alam yang lebih sering hidup di luar kawasan.

Yana menjelaskan, mereka selalu menerobos keluar Cagar Alam/Taman Wisata Alam melalui pantai ketika air laut surut. Ia melanjutkan, mereka lalu hidup di kawasan wisata dan permukiman warga.

“Kami sudah sering mendapat protes dari warga karena mereka menggangu tanaman,” ujar Yana kepada wartawan di Cagar Alam Pangandaran, Kamis (2/9).

Yana merinci, di Cagar Alam/Taman Wisata Alam Pangandaran, terdapat sekitar 250 ekor rusa. Mereka, menurut Yana, hidup di tiga titik penggembalaan di hutan Cagar Alam/Tanam Wisata Alam, yakni di daerah Cikamal, Nanggorak dan Badeto.

Hasil identifikasi, menurut dia, sebanyak 109 ekor rusa terbiasa hidup di luar kawasan. Akibatnya, menurut Yana, mereka mengalami perubahan perilaku.

“Mereka terbiasa makan diberi manusia, juga makan sampah-sampah manusia,” kata Yana.

Sebenarya, menurut Yana, pihaknya sering berupaya menggiring mereka ke hutan. Namun karena telah terjadi perubahan perilaku, kata Yana, mereka selalu keluar lagi dari kawasan.

Menanggulangi persoalan ini, menurut Yana, pihaknya berrecana mengirim sebagin rusa ke penangkaran di Sumedang. Selain itu, kata Yana, sebagian rusa juga dikirim ke penangkaran milik warga di daerah Pagergunung, Pangandaran.

Tak hanya rusa, Yana menambahkan, BKSDA Pangandaran juga mengakui kewalahan menangani monyet-monyet koleksi mereka. Sebagai solusi, Yana menyebut, sebagian koleksi monyet akan dikirim ke Suaka Margasatwa Cikepuh di Sukabumi.

Kekurangan sumberdaya manusia, Yana mengungkapkan, juga termasuk tenaga medis. Yana menjelaskan, di Pangandaran tidak ada satu pun doker hewan, sementara dokter hewan terdekat ada di Kota Banjar.

“Kalau mereka sakit atau luka, paling kita yang tangani. Kalau tidak mampu baru memanggil dokter. Tapi kita juga tidak ada biaya,” kata Yana.

Yana berharap, pemerintah setempat bisa mengusahakan kehadiran dokter hewan di Pangandaran. Tidak hanya untuk satwa-satwa koleksi Cagar Alam/Taman Wisata Alam, menurut Yana, dokter hewan juga akan bermanfaat bagi hewan-hewan milik masyarakat.