Kisah Dalang Mugi dan Wayang Kulit Pangandaran

0
1733
Dalang Mugi dan wayang kulit koleksinya. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Dalang Mugi dan wayang kulit koleksinya. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Dalang Mugi dan wayang kulit koleksinya. (Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)

Pangandaran, SwaraPangandaran.Com – Wayang kulit merupakan salah satu kesenian yang diwarisi komuntias warga keturunan Jawa di Pangandaran. Sayang, popularitasnya kini tak lagi sehebat pada masa lalu.

Saat ini, kesenian wayang kulit hanya dipentaskan sesekali saja di Pangandaran karena semakin kehilangan penggemar. Mugiyono AS Anosupriyadi (55), seorang dalang wayang kulit dari Dusun Bojong Genteng, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, bercerita, sekitar tahun 1990-an, wayang kulit masih banyak di pentaskan di desa-desa di Pangandaran, khususnya di lingkungan komunitas warga Jawa.

“Pernah sekitar tahun 1979, saya pentas mendalang sebulan berturut-turut, malah sampai diwakilkan karena saking lelahnya pada waktu itu,” tutur Mugi dijumpai di rumahnya, Kamis (10/3).

Mugi merupakan dalang  kelahiran  Cilacap, Jawa Tengah. Ia hijrah ke Pangandaran tahun 1976. Ayahnya juga merupakan seorang dalang wayang kulit. Sampai sekarang, meski peminat mulai berkurang, ia masih tetap memiliki perhatian terhadap dunia seni, khususnya wayang kulit.

Mugi bercerita, ia belajar mendalang dari sang ayah sejak kelas empat SD. Antara tahun 1975 hingga 1978, Mugi mengenang, ia bergabung bersama kelompok wayang kulit pimpinan ayahnya yang diberi nama Grup Suci Rahayu

Kemudian pada tahun 1978, ia mendirikan kelompok sendiri yang dinamai Panganggit Irama. Ingin menyesuaikan dengan jaman, pada tahun 1990 ia mengganti nama nama grupnya menjadi Sekar Pala. Kelompok ini masih eksis hingga sekarang.

Makin Sepi Peminat

Menurut Mugi, dari mulai mendirikan perkumpulan seni wayang kulit, kelompoknya sering pentas di berbagai daerah, seperti di Ciamis, Pangandaran, Cijulang, Lakbok, Padaherang, hingga ke Bandung. Di Jawa Tengah, kelompok Mugi juga pernah pentas di Cilacap, Banyumas, Kebumen. Mugi dan grup juga pernah pentas di Kalimantan, Sulawesi, Lampung untuk acara hajatan.

Namun sayang, seni wayang kulit semakin sepi peminat. Kini, dalam setahun, menurut Mugi, paling ia hanya mendapat lima kali undangan tampil.

“Mungkin dengan berkembangnya teknologi, kesannya wayang kulit sudah ketinggalan jaman. Budi pekerti juga hilang. Tidak ada perhargaan terhadap seni tradisi. Kurikulum pendidikan yang berubah-ubah terutama sejarah, budaya perlu dirintis lagi,” terangnya dengan antusias.

Mugi berkisah, menghadapi perubahan jaman, pada tahun 1990-an, kelompok seninya sudah menyesuaikan dengan menambahkan berbagai alat musik modern seperti organ, drum, gitar bas, serta adanya lawakan tari.

Namun kini, menurut Mugi, jaman semakin sulit diarungi para pelaku kesenian tradisional. Mugi menyayangkan, dengan modernisasi, remaja, masyarakat, sampai pemerintah kurang memperhatikan seni budaya kekayaan bangsa.

Mugi mengenang, dahulu, pemerintah selalu memberikan kesempatan waktu kepada pelaku seni, untuk tampil pada acara-acara yang diselenggarakan dan disponsori pemerintah. Namun sekarang, kata dia, banyak perayaan digelar, namun tidak ada pertunjukan seni tradisional.

Melestarikan Seni di Gerai Wisata

Disamping mendalang, Mugi, kini aktivitasnya juga sebagai pengelola komunitas Gerai Wisata Wonoharjo yang bertempat di bekas bangunan Pasar Hewan dusun Bojong Gebang, Desa Wonoharjo. Di tempat tersebut, ia siap mengajari para kawula muda yang ingin belajar karawitan, mengukir wayang kulit, bahkan ia pun siap jika ada yang berminat belajar mendalang.

Selain itu, di komunitas Gerai Wisata Wonoharjo, juga kerap digelar diskusi mengangkat persoalan-persoalan seni-budaya yang ada di Pangandaran. Salah satu harapan yang berkembang dari forum diskusi, kata dia, adalah diadakannya pementasan wayang kulit lagi dalam ajan-ajang, seperti saat Bulan Sura dan Ruwat Bumi untuk pertanian.

Ia menginformasikan, di daerah Pangandaran, kini masih ada setidaknya tiga dalang wayang kulit, termasuk dirinya. Dua dalang lain, kata dia, tinggal di Desa Pager Gunung dan Sidomulyo. Sementara beberapa dalang wayang kulit lain, kata dia, sudah tidak aktif lagi.

Menyiasati sepinya pertunjukan wayang kulit, Mugi kini terkadang menjual hasil kerajinan seni wayang kulitnya kepada wisatawan. Selain itu, Mugi jugamengurus sawah sebagai petani.