Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 1): Penjual Jus Pangandaran Belajar Gratis Kelola Sampah di Jerman

0
747
Jajang Nurjaman disambut teman-teman Jerman-nya di Bandara. Foto: dok pribadi Jajang.
Jajang Nurjaman disambut teman-teman Jerman-nya di Bandara. Foto: dok pribadi Jajang.

Berjualan jus buah segar begitu dinikmati Jajang Nurjaman dan keluarganya. Usaha yang sudah digeluti sejak lima tahun terakhir itu bahkan membuat Jajang mulai melupakan profesi utamanya sebagai pemandu wisatawan asing.

Pria kelahiran 19 Juli 1968 itu memang sudah akrab dengan bule sejak remaja. Seperti kebanyakan anak-anak pantai lainnya saat itu, Jajang pun kerap memandu turis asing. Hingga akhirnya, menjadi profesi dan tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).

Saat bercerita, Jajang mengaku sempat terkejut ketika diundang kliennya berkunjung ke Jerman. Kesempatan tersebut berawal saat dirinya mendapatkan kabar dari seorang sahabatnya, warga Pangandaran yang sudah lama tinggal di Jerman.

Sekitar delapan bulan lalu, Ia diminta untuk menemani rekan-rekan sahabatnya yang akan berkunjung ke Indonesia.

“Saya sebetulnya sudah lama gak guiding tapi karena sahabat saya yang minta untuk menemani teman-temannya yang mau ke Indonesia akhirnya saya berangkat,” ungkapnya saat berbagi cerita belum lama ini.

Selama di Indonesia, Jajang melayani dan menemani rombongan bule-bule asal Jerman itu berkeliling mengunjungi sejumlah obyek wisata terkenal. Saat berkunjung ke Pangandaran, Jajang pun menceritakan segala hal menarik tentang Pangandaran, termasuk permasalahan sampah yang belum mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

“Bukan hanya tempat wisata, masalah sampah ternyata menarik buat mereka. Bahkan saya pun sempat ajak mereka untuk bertemu dengan teman-teman penggiat lingkungan. Mereka mau berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar permasalahan sampah,” ungkapnya.

Selama dua pekan, Jajang secara profesional memfasilitasi segala kebutuhan rombongan beberapa bule Jerman tersebut selama berlibur. Hingga akhirnya, Jajang pun secara khusus diundang untuk berkunjung ke Jerman.

“Mereka ingin mengajak saya ke Jerman agar saya bisa melihat lebih dekat bagaimana kehidupan disana. Mereka menyatakan siap memfasilitasi saya,” ujarnya.

Setelah persiapan selama dua bulan, 17 Juli 2017 lalu bertepatan dengan peringatan 11 tahun tsunami Pangandaran Jajang terbang ke Jerman seorang diri.

Jajang Nurjaman berswafoto bersama teman-teman Jerman-nya. Foto: dok pribadi Jajang.

“Ada rasa khawatir tapi ini kesempatan baik yang mungkin gak akan terulang lagi, saya ingin sekali melihat kehidupan di Jerman, bagaimana mereka hidup dan katanya sangat peduli soal sampah,” ujarnya.

Perjalanannya ke Jerman sempat mengalami hambatan. Saat transit di Bangkok, Jajang harus menginap semalam karena pesawatnya mengalami keterlibatan pemberangkatan.

“Selama sehari perjalanan akhirnya saya tiba di bandara Frankfurt Jerman. Sambutan luar biasa ternyata beberapa eks tamu-tamu saya itu sudah ada di bandara untuk menyembut saya,” ungkapnya.

Pelajaran pertama yang ia dapatkan yaitu tentang menjaga hubungan pertemanan dan sikap ramah yang luar biasa ditunjukkan warga Jerman. Teman-teman bule nya itu rela izin tidak bekerja hanya untuk menjemputnya di bandara.

“Mereka ramai-ramai menjemput saya, padahal mereka orang-orang sibuk yang  punya jabatan strategis di berbagai perusahaan tapi  rela menunggu dan menjemput saya yang hanya seorang tukang juice di trotoar. Mereka memperlakukan saya sama dengan teman-temannya yang lain,” ungkapnya.

Jajang mengaku baru mengetahui bahwa eks tamu-tamunya itu orang-orang hebat yang pekerjaannya diatas rata-rata.

“Ada yang dokter, insinyur, pengusaha, marketing manager perusahaan seperti Mercedes-Benz juga ada. Padahal selama ini mereka tidak pernah cerita apalagi memperlihatkan hal ini terhadap saya, sungguh ini yang membuat saya takjub dan mempunyai kesan yang baik terhadap mereka,” ujarnya saat bercerita melalui sambungan telepon.

Jajang disambut bak seorang artis yang dijemput penggemarnya. “Saya dijemput sedan mercy mewah, sampai-sampai koper saya pun mereka yang bawain. Ini pelajaran sangat berharga dari mereka, mudah-mudahan saja kita semua bisa memetik hikmah dari apa yang saya alami di hari pertama saya datang di Eropa,” ungkapnya.

Baca juga:

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 2): Sulit Cari Sampah, Jarang Mendengar Bunyi Klakson

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 3): Meringankan Pemerintah dengan Memilah Sampah dari Rumah

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 4): Dilayani Profesor, Kagum dengan Kerakter Warga Jerman