Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 4): Dilayani Profesor, Kagum dengan Kerakter Warga Jerman

0
914
Jajang Nurjaman berfoto di kawasan bersalju yang membuatnya terkesan. Foto: dok. pribadi Jajang.
Jajang Nurjaman berfoto di kawasan bersalju yang membuatnya terkesan. Foto: dok. pribadi Jajang.

Kesempatan mengunjungi Eropa tidak disia-siakan Jajang Nurjaman, penjual jus buah asal Pangandaran yang mendapatkan undangan khusus teman-temannya di Jerman. Selama tiga bulan, Jajang sudah punya agenda kegiatan, salah satunya mengunjungi sejumlah event wisata tahunan di Jerman. Jajang menceritakan pengalaman serunya berbaur dengan ribuan warga Jerman.

Baca Juga:

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 1): Penjual Jus Pangandaran Belajar Gratis Kelola Sampah di Jerman

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 2): Sulit Cari Sampah, Jarang Mendengar Bunyi Klakson

Kisah Jajang Nurjaman di Jerman (Bag. 4): Dilayani Profesor, Kagum dengan Kerakter Warga Jerman

“Saya datang ke acara pameran balon di Ulm, ditemani beberapa teman Jerman saya, Mika, Franco, Kristhein, Lothar bersama anaknya dan juga Claudia. Mereka lah yang selalu menemani dan menjadi guide saya selama di Ulm secara bergantian, termasuk kang Jack (sahabatnya warga Pangandaran yang sudah lama tinggal di Jerman),” ungkapnya.

Dikatakannya, pengunjung yang datang cukup banyak, diperkirakan mencapai lebih dari 3000. “Satu hal yang selalu menjadi perhatian saya, selama seharian diacaran tersebut saya tidak melihat orang membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Sehingga, kata Jajang, lapangan yang menjadi tempat acara berlangsung tetap bersih. “Kalau ada yang buang sampah sembarangan bisa dimarahin orang-orang sekitar, banyak hal positif yang bisa diadopsi oleh kita,” ungkapnya.

Malam harinya, Jajang juga sempat menyaksikan rangkaian acara peata rakyat yang disebut Nabada dan Candle Floating di Sungai Danube, Ulm Jerman Selatan. Acara tersebut dimulai dengan pidato Walikota Ulm dihadapan ribuan warga. “Momen tersebut ternyata digunakan pemerintah setempat untuk menjelaskan program ke depan dan apa saja yang sudah dikerjakan,” ungkapnya.

Jajang Nurjaman berswafoto bersama teman-teman Jerman-nya. Foto: dok pribadi Jajang.

Lanjut Jajang, acara tersebut juga menjadi momen yang bebas bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, harapan, bahkan kritikan kepada pemerintah. “Walaupun bebas menyampaikan aspirasinya bisa kepada wali kota namun masyarakatnya tetap sopan dan santun, tidak ada sama sekali keributan atau semacam unjuk rasa berlebihan,” ujarnya.

Bahkan, ada banyak warga yang menyampaikan aspirasinya dengan spanduk dan poster yang lucu-lucu, unik. “Ada juga yang mrnyampaikan aspirasinya dengan menyanyi-nyanyi bukan hujatan,” kata Jajang.

Dalam even Floating Candle sendiri diperkirakan ada sekitar 14 ribu lilin yang terapung di sungai. “Lilin itu dilepas ke sungai, pengunjung sangat membludak tapi tidak banyak sampah,” ujarnya.

Diantar teman-temannya, Jajang juga sempat mengunjungi salah satu stadion bersejarah di kota Garmish yakni Partenkirchen, yang berjarak sekitar 120 km dari kota Munich. “Stadion itu dibuat oleh Hitler tahun 1940 dan diperuntukan untuk olympiade musim dingin khusus cabang olahraga Sky Jumping sampai saat ini,” kata dia.

“Saya diantar ke stadiun itu oleh Martin, anak dari keluarga campuran Indonesia Jerman, dia menjadi guide saya selama mengunjungi tempat itu,” sambungnya.

Dia menjelaskan, di stadion tersebut atlet mendapatkan pembinaan dalam beberapa tahapan. “Untuk mencetak atlet profesional, pembinaannya sampai 10 tahun, dan di stadion ini ada 4 level treck untung  meluncur dari mulai panjang 20 meter sampai 140 meter. Mereka bisa meluncur sampai kecepatan 110 kilometer per jam. Melihatnya saja saya sampai takut, manusia meluncur terbang tanpa sayap tapi bisa mendarat aman,” ungkapnya.

Jajang juga sempat menikmati perjalanan dengan transportasi publik seperti kereta dari kota Ulm ke Munich, kemudian menuju Garmish sejauh 60 kilometer. Dirinya juga sempat naik pe puncak gunung tertinggi di Jerman yakni Zugspitze yang mencapai ketinggian 2962 Dpl.

“Untuk pertama kalinya saya menyentuh salju tidak terbayangkan sama sekali sebelumnya bisa ada di Eropa dan menginjakkan kaki di hamparan salju,” ujarnya.

Jajang juga mengaku sangat kagum dengan kedisiplinan dan kemandirian warga Jerman. Ia sempat diundang makan oleh Profesor Dr Med Michael Dienst, seorang dokter terkenal di Jerman dan menjabat sebagai Director of Orthopedic Kongres dan Manager of Orthopedic Center di kota Munich.

“Saya benar-benar gak nyangka seumur-umur dilayani makan seorang profesor terkenal di Jerman. Dan yang bikin saya kaget, hidupnya sangat sederhana sekali.  Semua keperluan makan kita dan pekerjaan rumahnya dia yang layanin sendiri, tanpa pembantu, sampai cuci piring.Orang Eropa mah benar-benar mandiri banget walaupun banyak duit dan seorang pejabat, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran berharga dari dia,” ungkapnya.

Rencananya, Jajang dalam wakti dekat akan mengunjungi tempat pengolahan sampah di kota Ulm, sebelum dijadwalkan mengunjungi Belanda dan kembali ke Indonesia.