Peneliti Gagas Pangandaran Jadi Sentara Percontohan Produk Unggulan

0
308

Pangandaran, SPC – Daerah pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, merupakan habitat alami sejumlah varietas pandan. Sayang, selama ini tanaman bernilai ekonomi tinggi tersebut baru sedikit saja termanfaatkan.

Kondisi ini yang melatarbelakangi proses penelitian dari seorang peneliti FSRD Institut Seni Budaya Indoesia (ISBI) Bandung untuk melakukan riset dan menggagas Pangandaran sebagai sentra pengembangan pandan.

Dr. Husen Hendriyana,​S.Sn.,​M.Ds, sang peneliti menyampaikan, ditemukan setidaknya tiga varietas pandan tumbuh di Pangandaran. Dua di antaranya, kata Husen, adalah pandan gajah dan pandan pantai yang cocok untuk produk kriya seni dan penghasil serat yang bagus sebagai bahan pendukung desain produk industri.

Bebagai varietas pandan tersebut, menurut Husen, bisa dikembangkan menjadi aneka produk, mulai dari kriya hingga bahan baku industri interior. Dari jenis kriya, kata dia, sementara ini warga Pangandaran baru mengembangkan tikar, itu pun hanya oleh segelintir orang.

“Padahal potensi produk banyak sekali, termasuk seratnya untuk GRC (Glassfiber Reinforced Cement),​ GFRC (Glass Fiber Reinforced Concrete)​ dan pengganti met/serat kimia impor,” ujar Husen kepada detikcom, Rabu (13/2/2019).

Dengan garis pantai 91 Km, menurut Husen, Kabupaten Pangandaran punya potensi besar pengambangan pandan. Dari luas tersebut, kata dia, sepanjang 41,85 km bisa dikembangkan sebagai kawasan (1) budidaya pandan sebagai komoditas Produk,​ (2) Komoditas Konservasi,​ (3) Komoditas Pariwisata,​(4) komoditas Pertanian Tumpangsari,​ dan (5) Komoditas Pemberdayaan skill perajin Seni Kriya

Selain dari sisi produksi kriya maupun bahan indsutri, menurut Husen, pengembangan pandan bisa memiliki dampak lain, yaitu konservasi, pariwisata, dan tumpang sari.

Sebagai konservasi, kata Husen, pandan merupakan pemecah angin dan habiatat bertelur penyu.

Dari sisi pariwisata, menurut Husen, pandan bisa menjadi kawasan pantai teduh dan wisatawan nyaman. Sementara dari sisi tumpang sari, kata dia, kebun pandan bisa ditanamani aneka tanaman sela, seperti semangka dan melon.

“Secara khusus, pengembangan panandan ini akan berdampak pada pemberdayaan dan bisa meningkatkan PAD,” ujar Husen.

Sebagai orang putra daerah yang lahir di Pangandaran, Husen mengaku miris melihat potensi pandan Pangandaran diambil oleh pihak-pihak dari luar daerah. Ia banyak menyaksikan dan melihat sendiri,​ daun pandan dipanen dan diangkut dengan mobil-mobil ke luar Pangandaran, sementara warga hanya diupah beberapa ratus ribu rupiah saja.

Tentu saja hal ini tidak dilakukan berdasarkan tata kelola dan SOP pemanenan yang benar,​ dan sebetulnya masyarakat setempat bisa diberdayakan dan dapat menghasilkan penghasilan yang lebih tinggi.

Berbekal penelitian yang ia lakukan, Husen mengaku akan mendorong hadirnya Peraturan Bupati untuk tatakelola pemanfaatan tanaman panandan di Kabupatenn Pangandaran.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudyaan Kabupaten Pangandaran Undang Sohbarudin menyambut baik pihak-pihak yang mau membantu mengembangkan potensi Kabupaten Pangandaran.

Undang berkomitmen membantu riset yang dilakukan Dr. Husen Hendriyana, termasuk mendukung rekomendasi lahirnya Peraturan Bupati tentang Pemberdayaan Potensi Industri Kreatif Seni Budaya dan Pariwisata Kabupaten Pangandaran yang dalam ini diawali dengan contoh dari hasil penelitian tata kelola potensi tanaman pandan.

“Mudah-mudahan dari penelitian yang diketua oleh Dr.Husen bisa mengembangkan pemberdayaan potensi sumber daya alam,​ dan sumber daya masyarakat (perajin lokal setempat),​ dan tentu diharapkan dapat membantu menaika PAD Pangandaran”​kata Undang.