Prabowo-Sandi Melemah di Jabar, Pengamat Sebut PKS Tak ‘All Out’

0
301
Pengamat Politik Unpad Muradi saat diwawancarai oleh wartawan, Sabtu(6/4),. Andi Nurroni/SPC

Pangandaran – Sejumlah hasil survei menyebut elektabilitas pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melemah di Jawa Barat. Pengamat Politik Universitas Padjajaran Muradi menyebut ada “faktor PKS” di balik fenomena tersebut.

Menurut Muradi, dibandingkan dengan kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat lalu, daya dukung PKS terleihat melemah. Setidaknya, kata dia, ada tiga faktor yang melatarbelakangi kondisi tersebut.

Pertama, Muradi menyebut, isu tarik-ulur kursi wakil gubernur DKI Jakarta membuat PKS tidak mendapatkan hak politik mereka sebagaimana seharusnya. Kedua, kata Muradi, PKS sedang dalam posisi berkonflik, akibat kehadiaran kelompok Garbi.

“Ketiga, karena dua problem itu mereka tidak punya logistik. Mereka ada bekerja, tapi tidak all out. Beda dengan Pilgub,” ujar Muradi ditemui dalam lawatannya ke Kabupaten Pangandaran, Sabtu (6/4/2019).

Menurut Muradi, mesin pemenangan Prabowo-Sandi di Jawa Barat terlihat melemah. Padahal dalam teori pemenangan politik, menurut dia, figur sebagus apapun tanpa ditopang oleh mesin yang bagus tidak akan membuahkan hasil.

Selain PKS, Muradi juga menyoroti sejumlah elemen Islam lainnya di Jawa Barat. Terkait mantan anggota HTI, menurut Muradi, saat ini posisi mereka membonceng di kubu 02, termasuk di Jawa Barat.

“Walaupun Prabowo dalam debat lalu menyebut anti-khilafah, tapi mereka tetap mendukung. Bisa jadi Prabowo dianggap paling lemah atau tidak terlalu keras terhadap isu khilafah, beda dengan Jokowi,” kata Muradi.

Tentang ormas NU, Muradi menyebut posisi NU di Jawa Barat tidak sebesar di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Selain di Cirebon, kata dia, NU di wilayah lain di Jawa Barat memiliki kultur yang relatif berbeda.

“Jadi kalau ada NU di Jawa Barat anti-Jokowi, saya rasa tidak terlalu bermasalah. Berbeda kalau itu di Cirebon, karena NU di sana memang sangat diuntungkan,” kata Muradi.

Sebenarnya, menurut Muradi, di Jawa Barat, ormas Persis lebih potensial daripada NU maupun Muhammadiyah. Sayang, kata Muradi, Persis tidak terang-terangan mendukung kubu 02.

Dalam dunia politik, kata Muradi, bagi ormas, setidaknya ada dua manfaat yang bisa diraih saat mereka turut menceburkan diri ke dalam politik, yakni manfaat dari segi akses politik dan ekonomi. Dengan jumlah anggota 7 hingga 9 juta, kata dia, harusnya Persis bisa memanfaatkan potensi tersebut.

“Sejak jaman SBY 10 tahun, dan periode setelahnya, mereka tidak dapat apa-apa dibandingkan NU atau Muhammadiyah,” kata Muradi.