Turis Jerman Terhibur Nonton ‘Jaring Ered’, Ini Pujian Si Bule

0
1185
Dua orang turis asal Jerman memotret para nelayan jaring ered di Pantai Pangandaran. Mereka mengaku terkesan dengan kebudayaan tersebut. Andi Nurroni/SPC
Dua orang turis asal Jerman memotret para nelayan jaring ered di Pantai Pangandaran. Mereka mengaku terkesan dengan kebudayaan tersebut. Andi Nurroni/SPC

Pangandaran, SPC – Pola pikir dan selera turis mancanegara memang berbeda dengan warga setempat atau wisatawan lokal. Mereka cenderung menyukai sesuatu yang tidak ditemukan di negera asal dan latar belakang kebudayaan mereka.

Sesuatu yang sering kita sepelekan, bahkan kita abaikan, tak jarang menjadi daya tarik yang besar bagi para wisatawan asing. Salah satunya adalah praktik jaring ered di Pantai Pangandaran.

Rabu (8/6), SPC menjumpai beberapa orang bule tengah asyik menyaksikan aktivitas belasan nelayan menyeret bergantian jaring yang dibentang hingga ke tengah laut untuk menjerat ikan.

“Ini sangat bagus, orang-orang di sini menyatu dengan alam, mereka bekerjasama,” ujar Klaus Walmarth (51) salah seoang turis asal Jerman.

Para nelayan yang ia lihat, menurut Klaus, menangkap ikan dalam jumlah yang sangat kecil untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dengan begitu, menurut dia, kelangsungan hidup ikan dan komoditas laut lainnya lebih terjaga.

“Di negara saya semuanya serba mekanis, mereka menangkap dengan kapal-kapal besar dan mesin-mesin besar, mereka mengambil ikan sebanyak-banyaknya untuk keperluan industri makanan,” kata dia.

Sejauh pengalamannya mengunjungi pantai di berbagai negara, Klaus menyampaikan, praktik nelayan tradisional seperti yang ia lihat di Pangandaran jarang ditemukan. Di Bali pun, menurut Klaus, tidak ada konsep nelayan seperti itu.

“Tapi saya pernah menemukannya di India, mirip seperti ini,” ujar Klaus yang datang berlibur beserta dua anaknya.

Ketua Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kab. Pangandaran Edi Rusmiadi setuju, nilai-nilai tradisi atau kearifan lokal memang menjadi salah satu potensi wisata. Sayang, menurut Edi, belum banyak upaya pemerintah maupun masyarakat untuk memanfaatkan potensi tersebut.

“Contoh kalau musim ikan, mangmung, laying, atau leleseh, itu sangat menarik untuk dikemas menjadi atraksi wisata,” ujar dia.